Kemlu Pulangkan 36 Pengantin Perempuan Pesanan dari Tiongkok

Kemlu Pulangkan 36 Pengantin Perempuan Pesanan dari Tiongkok
Wakil Duta Besar RI di Beijing, Listyowati (tengah) dan Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Yudha Nugraha (paling kiri) dalam diskusi kelompok terfokus (FGD) tentang kasus pengantin pesanan Tiongkok di Jakarta, Kamis 10 Oktober 2019. ( Foto: dok Kemlu )
Natasia Christy Wahyuni / YUD Kamis, 10 Oktober 2019 | 20:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sepanjang 2019, Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing, Tiongkok berhasil menyelesaikan 36 kasus pengantin pesanan dan memulangkan para perempuan warga negara Indonesia (WNI) itu ke Tanah Air. Upaya itu dilakukan setelah melakukan pendekatan ke berbagai tingkatan, termasuk sampai menteri luar negeri.

"Tahun ini ada 42 WNI yang melapor kasus pengantin pesanan, 36 WNI yang berada di shelter (penampungan di KBRI) sudah dipulangkan, sisanya enam WNI ada di tempat masing-masing, masih di provinsi dan kota-kota kediaman suaminya," kata Wakil Duta Besar RI di Beijing, Listyowati, usai diskusi kelompok terfokus (FGD) mengenai penanganan kasus pengantin pesanan, di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Selain pejabat Kemlu dan KBRI Tiongkok, FGD tersebut juga dihadiri oleh Direktur Wasdakim Imigrasi, pihak Ditjen Dukcapil, dan Bareskrim Polri.

Pengantin pesanan biasa terjadi antara perempuan WNI dengan laki laki WN Tiongkok. Fenomena ini sebenarnya sudah terjadi puluhan tahun lalu terutama di daerah Kalimantan Barat.

Faktor desakan demografi di Tiongkok dimana jumlah laki laki negeri tirai bambu itu jauh lebih besar dibandingkan jumlah perempuan Tiongkok membuat peluang itu dimanfaatkan oleh agen-agen pernikahan yang tidak bertanggung jawab. Mereka berusaha mengeruk keuntungan pribadi melalui janji-janji uang dan kehidupan mewah di Tiongkok kepada calon pengantin perempuan Indonesia.

Terkait hal itu, Ichsan Firdaus dari bagian protokol dan konsuler KBRI Beijing, mengatakan pengantin pesanan menjadi bisnis menggiurkan karena besarnya imbalan uang yang ditawarkan.

"Satu orang (calon pengantin pria Tiongkok) bisa bayar Rp 300-400 juta. Bisa dibayangkan mereka mencoba merekrut sebanyak mungkin tanpa mempedulikan nanti akan berhasil apa tidak (pernikahannya)," ujar Ichsan.

"Akhirnya ketika berhasil ya syukur, kalau tidak berhasil kita yang harus dan mereka (agen) lepas tangan," tambah Ichsan.



Sumber: Suara Pembaruan