Perang Dagang Picu Resesi Ekonomi tanpa Jaring Pengaman

Perang Dagang Picu Resesi Ekonomi tanpa Jaring Pengaman
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 10 Oktober 2019 | 15:56 WIB

Washington, Beritasatu.com - Laporan daya saing global World Economic Forum (WEF) 2019, menyatakan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, membawa ekonomi global menuju resesi ekonomi tanpa jaring pengaman.

Dalam laporan yang diterbitkan Rabu (9/10/2019), disebutkan bahwa meskipun tidak separah resesi ekonomi pada 2008, tetapi ada risiko besar dari perang dagang yang membayangi perekonomian global karena tidak ada jaring pengaman.

Dijelaskan, antisipasi resesi global telah memuncak pada tahun ini. Hal itu terlihat dari kenekatan Federal Reserve AS (The Fed) yang memotong suku bunga, dan diikuti otoritas perbankan di berbagai negara. Selain itu, kelonggaran kuantitatif yang diberlakukan Bank Sentral Eropa, juga menunjukkan telah terjadi perlambatan ekonomi.

Salah satu perhatian utama yang disorot dalam laporan ini adalah bahwa meskipun ada upaya global untuk melakukan ekspansi, beberapa negara menghadapi perangkap likuiditas.

Bukan hanya kebijakan moneter yang gagal mengantisipasi pukulan resesi, WEF juga menilai ada risiko makro yang lebih menantang dibandingkan resesi ekonomi 2008.

"Konteks geopolitik saat ini lebih menantang daripada pada 2007, dengan kemacetan dalam sistem tata kelola internasional dan meningkatnya tarif perdagangan yang memicu ketidakpastian," demikian bunyi laporan WEF.

Sejumlah pengamat menilai laporan WEF bahwa resesi ekonomi kali ini tak akan separah 2008, tak sepenuhnya benar jika dilihat dari meningkatnya kewajiban utang. Saat ini, utang global berada di kisaran US$ 246,5 triliun atau sekitar Rp 3.488 triliun dan terus meningkat.

Kewajiban utang AS saat ini mewakili sekitar 9% dari total angka global, yakni sekitar US$ 22 triliun. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dan lebih dari dua kali lipat dalam dekade terakhir. Hal ini yang dikhawatirkan menjadi pemicu untuk membuat resesi hebat semakin besar.

"Krisis berikutnya bukan hipotek subprime, itu akan berada di pasar Treasury, itu akan menjadi utang negara, dan krisis mata uang," kata pengamat ekonomi Peter Schiff.



Sumber: Suara Pembaruan