KJRI Hong Kong Desak Selidiki Tertembaknya Wartawan WNI

KJRI Hong Kong Desak Selidiki Tertembaknya Wartawan WNI
Sekelompok siswa sekolah menengah meneriakkan slogan-slogan ketika bergabung dalam aksi protes di jantung distrik komersial, Central, Hong Kong, Jumat (4/10/2019) setelah pemerintah mengumumkan larangan masker wajah. ( Foto: AFP / Philip FONG )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 10 Oktober 2019 | 15:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong mendesak otoritas setempat menyelidiki peristwa tertembaknya wartawan wartawan warga negara Indonesia (WNI), Veby Mega Indah, dalam aksi demonstrasi pada pekan lalu.

"KJRI sudah mengirimkan nota resmi untuk menanyakan insiden itu dan meminta penyelidikan. Kami menunggu respons resmi dari otoritas Hong Kong,” kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri (Kemlu),  Yudha Nugraha, di Jakarta, Rabu (9/10/2019).

Menurut Yudha Nugraha, Konsul Jenderal RI di Hong Kong, Ricky Suhendar, secara rutin mengunjungi Veby Mega Indah, wartawan Suara, media yang berbahasa Indonesia di Hong Kong.

Kondisi Veby Mega Indah semakin membaik, namun mata kanannya diperkirakan mengalami kebutaan permanen. Tim dokter yang merawat Veby Mega Indah masih melakukan observasi lebih lanjut.

“Dokter tidak memberikan verdict (putusan) apa pun, belum menyampaikan kondisi terakhir seperti apa, hanya menyampaikan sedang diobservasi,” kata Yudha Nugraha.

Sebelumnya, Michael Vidler, pengacara Veby Mega Indah, mengatakan kliennya mengalami kebutaan secara permanen di mata kanannya setelah tertembak peluru karet. Veby Mega Indah terluka saat meliput aksi demonstrasi di kawasan Wan Chai pada 29 September 2019.

“Kami tidak dalam posisi untuk menjelaskan kondisi detil kesehatan Ibu Veby Mega Indah karena itu adalah rahasia kedokteran, privasi. Kami hanya bisa menyampaikan, dokter masih melakukan observasi,” tambah Yudha Nugraha.

Terkait kondisi WNI di Hong Kong, Yudha Nugraha mengatakan secara umum situasinya aman. Dia menjelaskan aksi protes terlokalisasi di wilayah Admiralty, yaitu pusat pemerintahan, dan biasanya dilakukan hanya saat akhir pekan (Sabtu dan Minggu). Menurutnya, Veby Mega Indah hanya satu-satunya korban WNI terkait maraknya demonstrasi di Hong Kong.

“Demonstrasi terlokalisasi di wilayah Admiralty di pusat pemerintahan Hong Kong. Walau pun seperti itu, kami tetap senantiasa memberikan imbauan baik oleh KJRI Hong Kong, situs, dan aplikasi Safe Travel Kemlu,” kata Yudha Nugraha.

Peringatan yang diberikan berupa imbauan agar WNI menjauhi pusat-pusat keramaian, tidak ikut serta dalam proses kegiatan politik setempat, dan menyampaikan informasi terbaru tentang jadwal demonstrasi yang akan terjadi di sana.

Jumlah WNI yang ada di Hong Kong saat ini sebanyak 174.800 orang yang mayoritas adalah pekerja migran.

Bagi warga Indonesia yang ingin pergi ke Hong Kong, Yudha mengatakan Kemlu juga sudah mengeluarkan imbauan agar sementara tidak mengunjungi kota tersebut jika tidak ada keperluan mendesak.



Sumber: Suara Pembaruan