Negara Kompetitif, Singapura Singkirkan AS

Negara Kompetitif, Singapura Singkirkan AS
Presiden AS Donald Trump berjabat tangan dengan Perdana Menteri Lee Hsien Loong dari Singapura saat pertemuan di sela-sela Sidang Umum PBB di New York, AS, Senin (23/9/2019). ( Foto: AFP / SAUL LOEB )
Unggul Wirawan / JAI Kamis, 10 Oktober 2019 | 15:13 WIB

Jenewa, Beritasatu.com - World Economic Forum (WEF) dalam laporan terbaru yang diumumkan Rabu (9/10/2019), menempatkan Singapura sebagai negara paling kompetitif di dunia, menyingkirkan Amerika Serikat (AS).

Dalam Laporan Daya Saing Global 2019, WEF mengukur kekuatan 103 indikator utama, seperti inflasi, keterampilan digital, dan tarif perdagangan, di 141 negara.

Indikator kunci dalam laporan ini disusun dalam 12 pilar, yang meliputi lembaga, stabilitas ekonomi makro dan kesehatan. Singapura mendapat nilai tinggi untuk sektor publik, tenaga kerja, keragaman dan infrastrukturnya. Pada usia harapan hidup, Singapura berada di peringkat nomor satu, dengan anak-anak yang baru lahir diperkirakan akan hidup sampai usia 74 tahun.

AS, yang memegang posisi teratas negara kompetiitif pada 2018, turun ke posisi kedua tahun ini. Meskipun demikian, penulis laporan mencatat bahwa AS tetap menjadi pembangkit tenaga inovasi.

“Tidak ada dua cara (tentang) itu. Penting untuk memastikan negara-negara terbuka untuk berdagang,” kata Saadia Zahidi, Direktur Pelaksana WEF, ketika diminta untuk mengomentari dampak dari tarif yang dikenakan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Saadia Zahidi mencatat kurangnya data terverifikasi tentang dampak tarif AS yang dikenakan pada beberapa mitra ekonomi utamanya, karena rangkaian produk yang terpengaruh tetap terbatas dibandingkan dengan perdagangan keseluruhan.

“Sentimen seputar investasi di AS telah turun. Itu pada akhirnya akan berdampak pada investasi jangka panjang, pada bagaimana para pembuat keputusan berpikir, pada pandangan para pemimpin bisnis non-Amerika. Jadi itu penting dalam jangka panjang,” kata Saadia Zahidi kepada wartawan di Jenewa.



Sumber: Suara Pembaruan