Pasien Terdampak Kabut Asap di Malaysia Naik 40%

Pasien Terdampak Kabut Asap di Malaysia Naik 40%
Tangki yang berisi campuran air dan natrium klorida siap dimuat ke pesawat militer yang digunakan dalam proses penyemaian awan untuk hujan buatan, di Pangkalan Militer Angkatan Udara Malaysia, Subang, 19 September 2019. (Foto: AFP / SADIQ ASYRAF)
Natasia Christy Wahyuni / JAI Senin, 23 September 2019 | 14:28 WIB

Labuan, Beritasatu.com - Jumlah pasien yang terdampak kabut asap di Malaysia meningkat hingga 40% dalam dua pekan terakhir. Sebagian pasien dirawat untuk penyakit asma, ruam kulit dan konjungtivitis (mata merah akibat peradangan).

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Malaysia, Noor Hisham Abdullah, mengatakan peningkatan jumlah kasus bervariasi di setiap tempat. Lokasi dengan Indeks Polutan Udara (API) lebih tinggi tercatat lebih banyak kasus infeksi saluran pernapasan, ruam kulit dan konjungtivitis.

Terkait dengan itu, Kementerian Kesehatan Malaysia mengeluarkan imbauan agar masyarakat tetap tinggal di dalam rumah dan mengurangi aktivitas di luar selama periode kabut asap dan melakukan tindakan pencegahan jika harus beraktivitas di luar rumah.

“Ketika kita pergi ke luar, perlu tindakan pencegahan tambahan sebagai perlindungan dari kabut. Gunakan masker wajah dan terus-menerus basuh wajah dan bagian tubuh yang terpapar,” kata Noor Hisham Abdullah, kepada wartawan di Labuan, Malaysia, Minggu (22/9/2019).

Akhir pekan lalu, jumlah pasien asma, konjungtivitis, dan infeksi saluran pernapasan di Sarawak, Malaysia, dilaporkan mengalami peningkatan. Pada Sabtu (21/9/2019), kasus asma meningkat dari rata-rata 258 kasus pada 30 Juni-7 September 2019 menjadi 307 kasus antara 8-14 September 2019.

“Demikian pula untuk konjungtivis, ada peningkatan dari 63 kasus menjadi 114 kasus dan URTI meningkat dari 1.788 menjadi 1.868 dalam periode yang sama,” sebut pernyataan Kementerian Kesehatan Malaysia.

Berdasarkan jumlah pasien yang dirawat di Klinik Kesehatan Sri Aman, pada periode yang sama ada penurunan kasus asma dari 34 menjadi 31. Sedangkan, konjungtivitis meningkat dari lima kasus menjadi enam kasus, dan pasien asma serta infeksi saluran pernapasan meningkat dari 66 menjadi 71 kasus.

Di ibu kota Sarawak, Kuching, yaitu Klinik Kesehatan Jalan Masjid dan Klinik Kesehatan Puteh, tiga penyakit terkait asap yaitu asma mengalami penurunan. Untuk asma, turun dari 61 menjadi 58 kasus, konjungtivis dari 16 menjadi 13 kasus, dan URTI dari 487 menjadi 425 kasus.

Data API hari Minggu (22/9/2019) malam, tingkat kabut asap di Kuching dan Samarahan di Sarawak turun menjadi “moderat” yaitu 91 dan 95, dibandingkan sebelumnya “tidak sehat” (103 dan 111).

Sedangkan, API di Johan Setia, Klang, tercatat masih “tidak sehat” yaitu 223 dari sebelumnya 221. Wilayah lain yang masuk “tidak sehat” yaitu Tasek Ipoh (177), Shah Alam (167), Putrajaya (166), Kuala Selangor (178), dan Nilai di Negri Sembilan (174).

Sumber : Bernama/Malay Mail



Sumber: Suara Pembaruan