Pemilu Israel, Netanyahu dan Gantz Bersaing Ketat

Pemilu Israel, Netanyahu dan Gantz Bersaing Ketat
Pemimpin dan calon perdana menteri Israel dari Partai Kahol Lavan, Benny Gantz (kiri), menyampaikan pidato di hadapan pendukungnya di markas partainya, di Tel Aviv, Israel, Rabu (18/9/2019). ( Foto: AFP / EMMANUEL DUNAND )
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 18 September 2019 | 15:01 WIB

Tel Aviv, Beritasatu.com - Perhitungan suara cepat Pemilihan Umum (pemilu) Israel, menunjukkan dua kandidat Perdana Menteri, Benjamin Netanyahu, dan saingannya, Benny Gantz, bersaing ketat.

Komite Pemilihan Pusat Israel, Selasa (17/9/2019), menyatakan belum dapat memastikan pemenang Pemilu, namun dari perhitungan suara yang telah mencapai 92%, Partai Likud yang mendukung Netanyahu dan Partai Kahol Lavan yang mendukung Gantz sama-sama meraih 32 kursi dari 120 kursi Knesset (Parlemen Israel).

Sejumlah pengamat menilai, Netanyahu dengan dukungan partai koalisinya masih dapat meraih kursi terbanyak, namun dikhawatirkan tidak dapat membentuk pemerintahan mayoritas.

Koalisi partai pendukung Netanyahu, yang terdiri dari partai-partai sayap kanan dan ultra-Ortodoks, saat ini meraih di 56 kursi. Sedangkan blok kiri-tengah yang mendukung Gantz, tidak termasuk partai-partai Arab, memiliki 43 kursi.

Avigdor Liberman, dari partai Yisrael Beiteinu memiliki sembilan kursi, diharapkan akan memperkuat posisi Netanyahu dan menjadikannya sebagai pemenang Pemilu. Pada Rabu pag waktu setempat, Liberman menegaskan kembali dukungannya untuk"pemerintah persatuan liberal yang luas" yang akan mencakup Yisrael Beiteinu, Likud dan Kahol Lavan.

Namun Gantz juga dinilai memiliki kans jika mampu menjalin koalisi dengan Partai terbesar ketiga di Knesset, yakni The Joint List atau aliansi empat partai Arab, yang memiliki 12 kursi.

Selain itu, masih ada kursi dari partai lainnya yang lolos ke Knesset, yakini Ultra-Orthodox Shas memiliki sembilan kursi, diikuti oleh United Torah Yudaism dengan delapan kursi. Aliansi sayap kanan Ayelet Shaked Yamina memiliki tujuh kursi, diikuti oleh Partai Buruh-Gesher dengan enam kursi dan Uni Demokrat dengan lima kursi.

Rilis hasil pemilihan resmi tertunda mengikuti perubahan yang dilakukan oleh Komite Pemilihan Pusat untuk metode penghitungan suara. Menurut Komite Pemilihan Pusat Israel, perubahan yang menyebabkan penundaan, dibandingkan dengan siklus pemilu sebelumnya, dimaksudkan untuk menghindari kesalahan dan memastikan kecurigaan penipuan pemilih diperiksa sebelum hasil resmi dirilis.

Pada Rabu (19/9/2019) pagi waktu setempat, Komite Pemilihan Pusat melaporkan bahwa mereka telah secara resmi menghitung suara dari 1.647.794 amplop, yang jumlahnya hanya 37% dari jumlah total suara yang diberikan pada Selasa (17/9/2019). Namun, lebih dari 85% suara sebenarnya telah dihitung pada saat itu.

Pemilu Israel kali ini sebenarnya merupakan putaran kedua karena di laga sebelumnya pada April 2019, Netanyahu dinyatakan menang, tapi tak berhasil membentuk koalisi untuk mendukung pemerintahannya.

Sumber : AFP/Haaretz



Sumber: Suara Pembaruan