Boris Johnson Yakin Capai Kesepakatan Brexit dengan UE

Boris Johnson Yakin Capai Kesepakatan Brexit dengan UE
Seorang pengunjuk rasa pro-Brexit mengibarkan bendera Union saat berdiri di dekat poster "We Vote Leave" di luar Gedung Parlemen di London, Inggris, Senin (9/9/2019). ( Foto: AFP / Isabel INFANTES )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 11 September 2019 | 19:39 WIB

London, Beritasatu.com- Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson merasa yakin “ada cara” untuk mendapatkan kesepakatan Brexit, serta membela keputusannya untuk menangguhkan parlemen selama lima pekan.

Johnson mengatakan banyak orang menginginkan kesepakatan, tapi dia mengklaim siap pergi (keluar dari Uni Eropa/UE) tanpa satu pun kesepakatan jika benar-benar diperlukan.

Parlemen Inggris akan melakukan reses sampai 14 Oktober 2019 atau tiga hari sebelum pertemuan para pemimpin UE. Johnson, yang telah bertemu engan pemimpin Partai Irlandia Utara (DUP), enyebut klaim bahwa penundaan parlemen tidak demokratis adalah omong kosong.

Dalam adegan yang tidak pernah terjadi sebelumnya, Selasa (10/9) pagi, anggota parlemen memprotes penangguhan dengan menunjukkan tulisan “Dibungkam” sambil meneriakkan, “Memalukan”.

Penghinaan

Johnson membantah klaim mereka sebagai penghinaan demokrasi. Menurutnya, partai-partai oposisi diberikan kesempatan pemilihan sebelum batas waktu Brexit pada 31 Oktober 2019, tetapi menolaknya.

“Kami bekerja sangat keras untuk mendapatkan kesepakatan. Saya pikir kita akan mendapatkannya tapi jika benar-benar diperlukan kami akan keluar tanpa kesepakatan,” kata Johnson saat kunjungan ke sekolah, Selasa (10/9).

Johnson bertemu dengan PM Irlandia Leo Varadkar di Dulin hari Senin (9/9), setelah itu menggelar pembicaraan dengan para sekutunya dari Irlandia Utara di London pada Selasa. Dia menemui semua orang untuk mengamankan kesepakatan sebelum keluarnya Inggris dari UE pada 31 Oktober 2019.

Pemimpin Konservatif itu menghadapi pertentangan kuat dari Dewan Rakyat atas ancamannya keluar dari blok UE tanpa kesepakatan dengan Brussels.

Sebelum menangguhkan parlemen, anggota parlemen Inggris mendesak Johnson menunda Brexit selama tiga bulan jika gagal mengamankan kesepakatan dalam pertemuan UE pada 17-18 Oktober 2019.

Johnson bersikukuh tidak akan menangguhkan Brexit, bahkan menyebut lebih baik mati. Namun, parlemen telah menolak upayanya untuk pemilu dini demi memuluskan Brexit tanpa kesepakatan. Harapan terakhirnya adalah pertemuan bulan depan dengan UE untuk mendapatkan kesepakatan perceraian, tapi pilihannya sangat terbatas.



Sumber: Suara Pembaruan