WHO: Kematian Ebola di Kongo Bertambah Jadi 1.965 Orang

WHO: Kematian Ebola di Kongo Bertambah Jadi 1.965 Orang
Seorang petugas kesehatan menyemprotkan disinfektan pada rekannya setelah ekerja di Pusat Perawatan Ebola, di Beni, bagian timur Kongo, belum lama ini. Dalam sepekan terakhir, wabah Ebola telah menewaskan 24 warga Kongo. ( Foto: Dok SP )
Unggul Wirawan / WIR Minggu, 25 Agustus 2019 | 18:06 WIB

Jenewa, Beritasatu.com- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pada Jumat (23/8) bahwa jumlah kematian akibat virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) telah meningkat menjadi 1.965 orang.

Saat ini, wabah Ebola terus berlanjut pada "intensitas transmisi yang substansial tetapi stabil" selama 10 minggu terakhir.

Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Dr. Mike Ryan mengatakan sejak pertengahan Juni, sekitar 80 kasus baru yang telah dikonfirmasi di Kongo dalam seminggu telah dipantau.

"Kasus selama dua hingga tiga minggu terakhir sudah mulai berkurang. Kami berharap tren ini akan berlanjut," kata Ryan sambil mencatat bahwa WHO memiliki lebih dari 670 staf di garis depan untuk memerangi penyakit ini.

Ryan mengatakan, bagaimanapun, bahwa kekhawatiran wabah Ebola telah memengaruhi kota Mambasa di utara DRC.

“Kami percaya telah membuat kemajuan di beberapa bidang. Kami percaya telah memiliki vaksin dan terapi yang efektif sekarang yang benar-benar dapat mengubah arah wabah ini,” tambahnya.

WHO menyatakan wabah Ebola di DRC adalah yang paling mematikan kedua, dan perlu melakukan intervensi efektif di tingkat masyarakat. Tetapi WHO menghadapi banyak hambatan untuk menekan wabah.

Dua obat baru yang diuji pada pasien Ebola di DRC menunjukkan bahwa lebih dari 90% pasien dapat bertahan hidup jika diobati dalam tiga hari setelah menunjukkan gejala.

Ryan mengatakan data menunjukkan bahwa ekstensi geografis dari virus telah meningkat, sementara intensitas penularan telah berkurang pada waktu itu.

"Jadi, kami menang melawan virus di daerah penularan intens, tetapi masih gagal mencegah perluasan lebih lanjut dari virus ke daerah lain sebelum penyakit ini benar-benar padam. Keamanan tetap dan terus menjadi ancaman utama bagi tim kami, termasuk penerimaan masyarakat," kata Ryan sambil mencatat WHO memiliki vaksin yang sangat efektif.



Sumber: Suara Pembaruan