Gagal Repatriasi Rohingya, Myanmar Salahkan Bangladesh

Gagal Repatriasi Rohingya, Myanmar Salahkan Bangladesh
Pengungsi Rohingya membangun kantor darurat di kamp pengungsi Kutupalong, distrik Ukhia, Bangladesh, Jumat (23/8/2019). ( Foto: AFP / MUNIR UZ ZAMAN )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Sabtu, 24 Agustus 2019 | 20:14 WIB

Yangon, Beirtasatu.com- Myanmar menyalahkan Bangladesh atas kegagalan kedua kalinya untuk melakukan repatriasi warga Rohingya. Lebih dari 740.000 warga Rohingya masih tinggal di kamp-kamp pengungsian di perbatasan Bangladesh sejak kekerasan brutal di negara bagian Myanmar yang berisi mayoritas Muslim, Rakhine State.

Meskipun pakta repatriasi sudah ditandatangani kedua negara pada 2017, upaya repatriasi pertama gagal dilakukan karena hampir tidak ada Rohingya yang setuju untuk kembali ke negaranya tanpa jaminan keselamatan dan kewarganegaraan. Mereka memilih tetap berada di kamp pengungsian atau desa-desa tanpa kebebasan bergerak.

Dorongan terbaru dimulai pada Kamis (22/8), yaitu kedua pemerintah berjanji merepatriasi atau memulangkan kembali hampir 3.500 warga Rohingya, tapi rencana itu gagal karena tidak seorang pun ada di dalam bis yang akan membawa mereka menuju kapal feri melintasi perbatasan. Kementerian Luar Negeri Myanmar kembali melakukan “perang saling menyalahkan” pada Jumat (23/8).

“Repatriasi yang lancar untuk para pengungsi membutuhkan kepatuhan kesepakatan bilateral,” sebut media pemerintah New Light of Myanmar.

Kemlu Myanmar menyalahkan Bangladesh karena dianggap gagal mendistribusikan dokumen yang disebut “formulir verifikasi” kepada orang-orang yang berpotensi pulang kembali ke Rakhine State.

Formulir itu masih kontroversial di kalangan pengungsi Myanmar karena gagal menjamin kewarganegaraan mereka.

“Prosedur ini tidak ditaati,” sebut pernyataan Bangladesh, yang juga disebut mengabaikan permintaan pengembalian lebih dari 400 pengungsi Hindu.

Kemlu Myanmar mengonfirmasi bahwa Tiongkok dan Jepang telah memfasilitasi repatriasi. Pemerintah Tiongkok sendiri yang memberitahu Myanmar bahwa Bangladesh ingin memulai kembali proses pemulangan awal bulan ini.



Sumber: Suara Pembaruan