Demonstran Mundur, Bandara Hong Kong Pulih

Demonstran Mundur, Bandara Hong Kong Pulih
Seorang polisi Hong Kong (tengah) terpelanting ketika bentrok dengan demonstran pro-demokrasi saat demonstrasi sedang berlangsung di Bandara Internasional Hong Kong, Selasa (13/8/2019). ( Foto: AFP / Manan VATSYAYANA )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 14 Agustus 2019 | 19:58 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com- Operasional penerbangan di Bandara Internasional Hong Kong mulai kembali normal pada Rabu (14/8) pagi setelah para demonstran mundur. Protes berakhir Rabu dini hari setelah serangkaian bentrokan.

Pada Selasa (13/8), terjadi bentrokan antara demonstran dan polisi. Seorang polisi dirampas senjatanya setelah dipukuli oleh demonstran dan petugas lainnya menembakkan semprotan merica. Otoritas bandara menangguhkan jadwal penerbangan selama dua hari sejak Senin (12/8) karena ribuan massa pro-demokrasi menduduki fasilitas tersebut.

Presiden AS Donald Trump menambahkan kekhawatiran Beijing mungkin siap untuk melakukan intervensi militer untuk mengakhiri kerusuhan. Dia mengutip laporan intelijen AS yang mengkonfirmasi gerakan militer Tiongkok menuju perbatasan Hong Kong.

Pada Rabu, sekitar 30 demonstran masih bertahan di ruangan kedatangan bandara, tapi loket check-in sudah dibuka dan penerbangan tampaknya berjalan seperti biasa. Proses check-in sempat ditutup pada Selasa (13/8) sore sehingga membuat pembatalan lebih dari 100 penerbangan.

Pembatalan penerbangan hari Selasa merupakan tambahan dari pembatalan sebelumnya sekitar 200 penerbangan pada Senin sehingga pemulihan jadwal penerbangan tampak akan berjalan lambat.

Unjuk rasa di bandara yang dimulai sejak Jumat (9/8), menjadi semakin masif pada Senin karena dipicu video yang viral berisi dugaan kekerasan polisi kepada demonstran. Aksi damai mengawali demonstrasi hari Selasa dengan beberapa orang berteriak, menyanyi, dan mengibarkan poster-poster.

Kekerasan mulai terjadi Selasa malam ketika polisi anti-huru-hara berusaha membubarkan massa dengan semprotan merica dan tongkat setelah demonstran memukul setidaknya dua orang yang mereka klaim sebagai agen mata-mata Tiongkok.



Sumber: Suara Pembaruan