Ketegangan di Teluk, Arab Saudi Buka Lagi Pangkalan Pasukan Amerika

Ketegangan di Teluk, Arab Saudi Buka Lagi Pangkalan Pasukan Amerika
Tentara AS dan tentara Arab Saudi menginspeksi serpihan roket di pangkalan militer al-Kharj, Arab Saudi, 18 Juli 2019. Roket itu disebutkan disita dari pemberontak Huthi dukungan Iran di Yaman. ( Foto: AFP )
Heru Andriyanto / HA Sabtu, 20 Juli 2019 | 12:58 WIB

Riyadh, Beritastau.com - Arab Saudi telah memutuskan untuk menerima kehadiran pasukan Amerika Serikat dalam kerja sama dengan Washington untuk meningkatkan keamanan regional di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Kerajaan, Sabtu (20/7/2019).

"Berdasarkan kerja sama dua pihak antara Arab Saudi dan Amerika Serikat, dan keinginan mereka untuk bisa melakukan apa pun guna menjaga keamanan dan stabilitas kawasan ... Raja Salman memberikan persetujuan untuk menerima pasukan Amerika," kata seorang juru bicara kementerian seperti dikutip kantor berita pemerintah SPA.

Arab Saudi sudah tidak menjadi pangkalan pasukan AS sejak 2003 ketika mereka menarik diri usai perang dengan Irak.

Kehadiran pasukan AS di kerajaan tersebut sempat bertahan hingga 12 tahun ketika itu, dimulai dengan Operasi Badai Gurun (Operation Desert Storm) pada 1991 untuk mengusir pasukan Irak keluar dari Kuwait.

Pada puncak perang melawan Irak, hingga 200 pesawat militer AS ditempatkan di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, hanya sekitar 80 kilometer sebelah selatan ibu kota Riyadh. Markas operasi di Arab Saudi ketika itu menangani hingga 2.700 misi penerbangan per hari.

Namun, pada periode 12 tahun itu hubungan dua negara tidak sepenuhnya berlangsung mulus, khususnya setelah serangan 11 September 2001 di New York yang dikomandani pria kelahiran Arab Saudi, Osama bin Laden, yang dikenal sebagai pemimpin Al Qaeda.

Ketegangan di kawasan Teluk meningkat setelah Iran mengatakan telah menahan sebuah tanker minyak berbendera Inggris di Selat Hormuz. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan militernya telah menembak jatuh sebuah drone Iran yang dianggap mengancam sebuah kapal Amerika, meskipun dibantah oleh Teheran.



Sumber: AFP