Iran Siap Balas Serangan Militer AS

Iran Siap Balas Serangan Militer AS
Presiden Iran terpilih Hassan Rouhani, pada 2013. ( Foto: AFP Photo / Aamir Qureshi )
Jeany Aipassa / JAI Jumat, 24 Mei 2019 | 15:22 WIB

Teheran, Beritasatujakarta.com - Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengatakan negaranya siap membalas serangan militer Amerika Serikat (AS) dan tidak akan menyerah, meskipun di bom oleh pasukan tempur yang telah dikirim AS ke kawasan Timur Tengah.

Pernyataan itu, disampaikan Hassan Rouhani pada Kamis (23/5/2019), menyusul laporan bahwa Departemen Pertahanan AS atau Pentagon sedang mempertimbangkan untuk mengirim sekitar 10.000 pasukan tambahan ke Timur Tengah, terkait dengan meningkatnya ketegangan dengan Iran. 

Menurut Hassan Rouhani, rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan AS, termasuk invasi militer. Hassan Rouhani juga memperingatkan bahwa kebuntuan negosiasi antara Teheran dan Washington disebabkan bentrokan keinginan, dan jika AS memilih menyerang Iran maka negaranya siap memberi tanggapan yang “menghancurkan”.

“Lebih dari satu tahun setelah pengenaan sanksi berat ini, rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan meskipun menghadapi kesulitan dalam hidup mereka,” ujar Hassan Rouhani, seperti dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA, Kamis (23/5/2019).

Pernyataan senada juga disampaikan Kepala staf angkatan bersenjata Iran, Mayor Jenderal Mohammad Baqeri yang mengungkit kemenangan Iran dalam perang dengan Irak, sekitar tiga dekade lalu.

Mohammad Baqeri mengatakan bahwa kemenangan Iran saat perang melawan Irak harus menjadi pesan bahwa Iran siap memberikan respons yang keras, menghancurkan dan melenyapkan untuk setiap musuh.

Konflik AS-Iran meningkat sejak AS memutuskan keluar dari Perjanjian Nuklir Iran Tahun 2015, pada Mei 2018. AS kemudian menjatuhkan sejumlah sanksi kepada Iran, termasuk sanksi ekspor minyak yang membuat negara itu kesulitan menjual minyak di pasar global.

Pada awal Mei 2019, Iran mengancam akan meninggalkan Perjanjian Nuklir yang masih didukung oleh negara-negara Eropa, jika persyaratan dalam perjanjian itu tidak diubah dan Eropa gagal mendesak AS untuk tidak menjatuhkan sanksi terhadap Iran.

Jerman telah mengirim utusan ke Iran untuk mengadakan pembicaraan, namun pihak Iran mengatakan bahwa kesabaran Teheran telah berakir. Jerman, Inggris, Prancis, Rusia dan Tiongkok masih mendukung Perjanjian Nuklir Iran dan berupaya menghalangi Iran keluar dari perjanjian itu.



Sumber: AFP/VoA/Suara Pembaruan