Rumor Gempa Besar Akan Hancurkan Surabaya, Ini Penjelasan Peneliti BPPT

Rumor Gempa Besar Akan Hancurkan Surabaya, Ini Penjelasan Peneliti BPPT
Ilustrasi gempa bumi. ( Foto: Istimewa )
/ CAH Sabtu, 22 Februari 2020 | 19:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Muncul informasi tidak terkonfirmasi di media sosial dan grup-grup pesan singkat yang mengatakan kota Surabaya terancam hancur akibat gempa besar. Soal informasi yang tidak terkonfirmasi itu, peneliti senior Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko memberikan penjelasan.

Menurut Widjo, daerah Surabaya dan sekitarnya memang dilewati sesar, tetapi potensi gempa hanya satu faktor yang memengaruhi kerusakan.

"Sesar yang melewati Surabaya telah dipetakan dan tercantum dalam buku Gempa Pusgen (Pusat Studi Gempa Bumi Nasional) 2017 dengan potensi magnitudo 6,5. Pemetaan yang lebih detail diperlukan karena potensi kegempaan hanya salah satu faktor yang memengaruhi tingkat kerusakan," kata peneliti senior Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu ketika dihubungi dari Jakarta pada Sabtu.

Baca JugaGuru Besar ITS Inovasikan Sistem Penyerap Gempa

Menurut Widjo, memang terdapat sesar Surabaya yang menurut penelitian dimulai dari kawasan Keputih hingga Cerme tapi mengenai potensi kehancuran seperti yang disebarkan lewat pesan tersebut, dia mengatakan bahwa perlu pemetaan lebih soal tingkat kerusakan.

Pemetaan yang dimaksud adalah jenis tanah atau batuan dasar. Karena setiap jenis tanah memiliki respons yang berbeda-beda terhadap gelombang seismik gempa.

Hal itu harus dilakukan, kata dia, mengingat potensi risiko yang tinggi di wilayah Surabaya dan sekitarnya bergantung kepada kepadatan penduduk dan aset atau bangunan yang berada di sana.

"Tetapi karena wilayah itu memang telah dipetakan dan adanya sesar, maka tentu ada pergerakan yang terus menerus," ujar Widjo.

Oleh karena itu dia mendorong kajian yang lebih rinci terkait daerah tersebut dan potensi-potensi yang ada oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan berbagai pihak seperti lembaga penelitian, universitas, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).



Sumber: ANTARA