Kolaborasi dan Ekspansi Layanan, Kunci Memenangkan Persaingan

Kolaborasi dan Ekspansi Layanan, Kunci Memenangkan Persaingan
Kiri ke kanan: Chief Marketing Officer OVO Ershad Ahamed, Executive Director Grab Indonesia Ongki Kurniawan, VP of Fintech Tokopedia Rahul Taparia. ( Foto: Beritasatu Photo / Emanuel Kure )
Emanuel Kure / FER Kamis, 10 Oktober 2019 | 17:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Di tengah perkembangan era digital, dan persaingan yang semakin ketat di pasar, perusahaan teknologi (Startup dan Unicorn) dituntut untuk mengedepankan inovasi dan strategi bisnis yang tepat demi menjangkau pasar lebih luas, dan memenangi persaingan ketika berhadapan dengan kompetitor. Berkolaborasi dan membuka ekosistem digital, dinilai menjadi langkah yang tepat untuk mengejar kecepatan mencapai pasar.

Baca Juga: Grab Terapkan Strategi Kolaborasi

Demikian benang merah yang dapat disimpulkan dari narasumber perusahaan yang telah menyandang status unicorn di Tanah Air, yaitu, Grab, OVO, dan Tokopedia, dalam diskusi yang bertajuk Driving Growth Trough Collaboration, dalam acara Tech in Asia 2019 Conference di JCC Senayan, Jakarta, Rabu, (9/10/2019).

Executive Director Grab Indonesia, Ongki Kurniawan mengatakan, kolaborasi merupakan prasyarat penting, karena saat ini, speed to market sudah luar biasa. Dia melihat, digital ekosistem saat ini sudah berkembang sangat pesat.

"Meskipun kita punya resources yang cukup banyak, tetapi itu enggak cukup bantu kita untuk lebih cepat lagi merealisasikan visi kita sebagai supperapp. Oleh karena itu, kita telah melakukan kolaborasi dengan tiga perusahaan yang kredibel di bidangnya, yaitu Grab, OVO, dan Tokopedia," kata Ongki.

Baca Juga: Indonesia Jadi Role Model Industri Startup di Asia

Menurut Ongki, langkah kolaborasi tersebut dilakukan, dengan tujuan untuk terus mengembangkan layanan, sehingga bisa terintegrasi satu dengan yang lain. Misalnya, Grab berkolaborasi dengan OVO, sebagai platform pembayaran pada aplikasi Grab. Demikian juga, Tokopedia menggunakan OVO, sebagai platform pembayaran pada platform mereka.

"Jadi itu cara kita untuk bisa mengimbangi speed to market. Kita open ekosistem digital. Bahkan, tidak hanya dengan Tokopedia dan OVO, kita juga mempersilahkan kepada perusahaan-perusahaan lain, untuk join di open ekosistem kita. Sehingga, time to market bisa lebih cepat, customer experience juga dapat ditingkatkan. Tidak ada friksi di sana," ujar Ongki.

Ongki menambahkan, fokus Grab adalah bagaimanan memberikan customer experience yang terbaik. Terutama pelanggan ekosistem yang telah dibangun oleh ketiga perusahaan tersebut.

"Ke depannya, ini kan sudah kita jalankan. Bagaimana kita bikin layanan-layanan yang sudah mulai muncul, seperti tiket, video, nanti ada Grab Health, Grab asuransi juga. Bagaimana ini bisa diadopsi lebih cepat dalam aplikasi kita. Kita coba segala hal, perbaiki terus user experience-nya. Mungkin, kita upayakan supaya 80 persen aktivitas customer ekosistem kita ada dalam Grab," ungkap Ongki.

Baca Juga: Ini Tantangan Besar Industri E-Commerce

Sedangkan, Chief Marketing Officer OVO, Ershad Ahamed menuturkan, sebagai platform pembayaran, OVO, mengedepankan strategi untuk berpartner dan berkolaborasi. Dengan demikian, pertumbuhan dan tingkat inklusi keuangan di Indonesia bisa lebih cepat.

"Sebagai platform pembayaran, kami telah melakukan kolaborasi dengan Grab dan juga Tokopedia. Kami yakin, kolaborasi ini akan mempercepat pertumbuhan, dan dapat memberikan manfaat kepada masing-masing pihak. Selain itu, kolaborasi ini juga bertujuan untuk mempercepat inklusi keuangan di Indonesia,” kata Ershad.

Ershad juga menuturkan, selain berkolaborasi untuk mempermudah transaksi pembayaran, OVO juga telah melakukan satu langkah positif, yaitu memanfaatkan koloborasi ketiga platform tersebut untuk mengumpulkan dan menyalurkan donasi.

Hal itu dilakukan, saat momen bulan Ramadan baru-baru ini. Dari hasil kolaborasi tersebut, mereka berhasil mengumpulkan jumlah donasi mencapai Rp 11 Miliar.

"Saya rasa, ini persitiwa yang paling berkesan dalam kolaborasi ini. Karena, kami berhasil mengumpulkan donasi, dan kemudian menyalurkan kepada yang membutuhkan dengan jumlah yang sangat besar. Ini paling berkesan,” ujar Ershad.

CEO OVO, Jason Thompson menambahkan, tingkat retention rate OVO pada paltform Tokopedia dan aplikasi Grab mencapai 85 persen. Itu artinya, tingkat kesadaran masyarakat menggunakan digital payment OVO untuk melakukan transaksi di kedua platform tersebut cukup tinggi.

Tidak hanya itu, OVO tidak hanya digunakan sebagai alat pembayaran pada platform Tokopedia dan Grab, tetapi juga, OVO dimanfaatkan sebagai alat pembayaran di berbagai merchant, parking, universitas, cinema, deals, dan sebagainya.

"Pembayaran hanya sebagai starting point untuk menyelesaikan problem kebutuhan di Indonesia. Kami akan terus mengembangkan layanan, sambil terus menjalin kolaborasi, sehingga memberikan user experience terbaik kepada pengguna kami,” ungkap Jason.

VP of Fintech Tokopedia, Rahul Taparia mengungkapkan, kolaborasi dan open ekosistem digital sangat penting. Hal itu akan meningkatkan pertumbuhan (revenue) sekaligus memudahkan para pengguna dalam melakukan transaksi lintas platofrm.

"Melalui kolaborasi ini, kami membawa masing-masing kemampuan (resources), untuk menciptakan ekosistem digital yang terbuka, dan besar. Sehingga dapat memberikan berbagai kemudahan dan manfaat kepada seluruh pengguna kami," tutur Rahul.



Sumber: Investor Daily