PB Djarum vs KPAI: Polemik Pencarian Bibit Atlet Bulutangkis

PB Djarum vs KPAI: Polemik Pencarian Bibit Atlet Bulutangkis
Pembukaan audisi umum beasiswa bulutangkis 2019 di dihadiri 900 lebih anak usia 13 tahun ke bawah di GOR Satria, Purwokerto, Jawa Tengah, Minggu (8/9/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Manafe )
Hendro D Situmorang / CAH Selasa, 10 September 2019 | 06:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Keputusan salah satu klub bulutangkis terbesar di Indonesia, Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum menghentikan ajang Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis dalam menyaring bibit-bibit muda cukup mengejutkan dunia olahraga di Tanah Air. Pihak Djarum Foundation yang mewadahi klub asal Kudus, Jawa Tengah itu memutuskan untuk pamit pada 2020 dan audisi 2019 menjadi yang terakhir kalinya digelar.

Langkah ini diambil menyusul polemik yang terjadi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Lembaga ini menilai ada eksploitasi terselubung dalam audisi umum yang digelar. Lantaran, anak-anak yang mengikuti harus mengenakan kaus dengan brand "Djarum" yang diindikasikan berkorelasi dengan merek dagang rokok.

Hal ini tentu sangat disayangkan oleh seluruh pihak karena bisa memutus regenerasi atlet bulutangkis Tanah Air. Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Erick Thohir dan legenda hidup bulutangkis, Rudy Hartono pun satu suara agar duduk bersama menggelar pertemuan antara PB Djarum, KPAI, PP PBSI dan wakil pemerintah, yakni Kempora. Hal guna membahas hal tersebut sampai tuntas dan menemukan jalan keluar yang terbaik dan pertemuan digelar pada Rabu (11/9/2019).

Menpora menyatakan tentunya semua pihak dirugikan apabila audisi umum beasiswa tersebut dihentikan. Ia menilai klub bulitangkis itu terlalu dini memutuskan penghentian audisi, karena masih ada waktu mendiskusikan kembali.

“Pemerintah pun juga merasa dirugikan karena kita ingin ada partisipasi tumbuh dari masyarakat. Namun bicara olahraga, tentunya tak lepas dari pembinaan. Siapa yang melakukannya, ya klub-klub olahraga ini seperti Djarum. Maka pemerintah tak bisa jalan sendiri dan perlu didukung oleh swasta yang perannya sangat besar,” ujarnya, Senin (9/9/2019)

Ia menilai kalau masalah ini tak kunjung selesai, maka akan berdampak cukup luas khususnya ke prestasi bulutangkis Indonesia. Oleh karena itu, sebagai perwakilan pemerintah, Kempora akan duduk bersama mencari solusi dan jalan tengah. Ia tak berharap audisi umum ini berhenti begitu saja.

“Masalah branding logo, tinggal didesain ulang saja dan saya yakin pasti ada jalan tengahnya. Saya minta Djarum jangan berhenti dan pertimbangkan kembali demi prestasi olahraga Indonesia,” ujarnya.

Sekretaris Kementrian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S Dewa Broto mengakui pemerintah belum tentu sanggup apabila harus menggantikan peran klub bulutangkis asal Kudus dalam merekrut calon atlet-atlet bulutangkis berkualitas. Pasalnya, sudah ada pos pembagian anggaran di Kempora.

"Kalau audisi ini sifatnya masif dan menelan biaya besar. Jadi kalau disuruh gantikan, anggaran Kempora tentunya tidak cukup. Pemerintah tentunya memiliki tanggung jawab yang lebih luas yakni harus bisa membina cabang-cabang olahraga secara adil, tak hanya berfokus pada salah satunya," ucap dia.

Oleh karena itu, dalam proses pencarian bibit-bibit atlet berbakat, pemerintah dalam hal ini Kempora, disebutnya memang sangat membutuhkan kolaborasi dari pihak-pihak lain, termasuk swasta. Ia mencontohkan Kempora memiliki wadah pembinaan atlet muda sendiri dengan nama Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) yang tersebar di 34 provinsi Indonesia. Namun, bentuk PPLP sendiri tak terkonsentrasi pada salah satu cabang olahraga, melainkan umum.

Hal itu, secara tak langsung membuat eksposur pencarian atlet berbakat di PPLP akan lebih rendah dari apa yang dilakukan pihak swasta yang memang berkonsentrasi pada salah satu cabor saja, yakni bulutangkis.

"Tapi bukan berarti PPLP tak maksimal. Namun memang dana yang dimiliki PPLP itu sangat terbatas dan tak bisa apple-to-apple dengan pembinaan yang dilakukan klub. Kempora sendiri tak mungkin hanya anak emaskan cabor bulutangkis, karena nanti itu akan jadi sorotan," sambungnya.

Lebih jauh, terkait polemik tersebut, sikap Kempora disebut Gatot sudah jelas, yakni mendukung program pencarian bakat PB Djarum tetap bergulir.

"Jujur, pembinaan olahraga tak mungkin andalkan APBN, karena terbatas. Karena itu, kami selalu bermitra dengan dunia usaha," pungkasnya.

Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Erick Thohir prihatin ketika terjadi perbedaan dan mencari jalan tengah kedua lembaga yang sebenarnya ingin sama-sama membangun bangsa Indonesia ini.

Diakui, di satu sisi KPAI ingin memberikan perlindungan kepada anak. Namun di sisi lain olahraga Indonesia saat ini masih sangat bergantung dari peran dunia usaha, dalam upaya membantu pembibitan atlet maupun prestasi olahraga Indonesia.

“Kami secara internal akan berdiskusi dan kemudian memanggil kedua pihak untuk duduk bersama. Karena sebenarnya, keduanya memiliki tujuan yang sama ingin membangun negara kita tercinta ini. Kedua lembaga sama-sama dibutuhkan untuk bangsa Indonesia. Oleh sebab itu saya ingin kedua pihak duduk bersama sehingga mendapatkan solusi terbaik untuk bangsa kita khususnya dunia olahraga," ujarnya.

Erick yang juga anggota Dewan Olimpiade Dunia ini menambahkan terlebih cabang olahraga bulutangkis hingga saat ini menjadi satu-satunya cabang olahraga yang mampu menyumbang medali emas bagi Indonesia di kancah Olimpiade.

"Saya ingin kita semua tidak terjebak dalam pemikiran yang berbeda tanpa adanya solusi untuk membangun bangsa Indonesia," pungkas Erick.

Komentar Legenda
Legenda hidup bulutangkis Indonesia, Rudy Hartono, menyatakan perlu ada kompromi terhadap penyelenggaraan audisi umum beasiswa bulutangkis. Rudy yang juga merupakan Ketua Umum PB Jaya Raya tidak sejalan dengan klaim KPAI. Semua pihak harus menanggapi kasus audisi bulutangkis dengan cara pandang yang lebih luas.

“Secara pribadi saya menilai klaim KPAI sangat subjektif. Janganlah terlalu mengatakan itu sebagai eksploitasi anak atau mempromosikan rokok. Berlebihan itu. Kontribusi Djarum di dunia bulutangkis justru layak diapresiasi. Pasalnya, tak semua pihak swasta mau berkontribusi secara signifikan untuk bulutangkis,” ungkap peraih 8 gelar juara All England itu.

Menurutnya, dukungan yang dilakukan sejumlah klub besar tak sekadar menjadi sponsor turnamen atau pertandingan saja, tetapi pembinaan atlet secara berjenjang. Semua pihak bisa saja punya dana besar, tetapi belum tentu fokus dan konsentrasi ke olahraga bulutangkis.

“Kami PB Jaya Raya hanya membuka audisi tiga  kali dalam setahun. Kami lebih banyak mengeluarkan dana untuk pembinaan beberapa pemain di klub kecil. Nanti ketika sudah matang, baru ditarik ke PB Jaya Raya. Apa yang kami lakukan jelas merupakan investasi. Dana kami tak besar, makanya kami pakai cara itu,” jelasnya.

Meski klub PB Jaya Raya yang dipimpinnya juga punya audisi, tetapi ia berharap Djarum tidak menghentikan audisi. Pasalnya, bagi Rudy, tidak adanya audisi juga berdampak terhadap pembinaan bulutangkis usia dini. Ia menyebutkan, penjaringan pemain berbakat memang tak selalu harus lewat audisi. Namun, dengan adanya audisi, proses pencarian bisa lebih mudah dan cepat.

“Mungkin mereka juga enggak mau ribut-ribut, akhirnya audisi mereka hentikan. Ya kita enggak bisa apa-apa. Itu hak mereka untuk meneruskan atau berhenti," ungkap Rudy.

Legenda bulutangkis Hariyanto Arbi menilai tidak mudah mencari bibit baru berbakat dan mencetak atlet-atlet kelas dunia. Menurutnya dari hasil audisilah bisa ditemukan sosok seperti Kevin Sanjaya, apalagi hal itu sudah dilakukan 13 tahun lalu.

“Kalau audisi dihentikan dikhawatirkan regenerasi menjadi tersendat dan akses anak-anak untuk mendapatkan tempaan demi menjadi atlet kelas dunia pun jadi menyempit karena mencari juara itu susah sekali. Selama ini audisi kan ke kota-kota yang potensial atlet, yang selama ini sudah banyak melahirkan juara-juara," tutup Arbi. 



Sumber: Suara Pembaruan