La Nyalla : Voters Akan Tentukan Perubahan PSSI dan Sepakbola Nasional

La Nyalla : Voters Akan Tentukan Perubahan PSSI dan Sepakbola Nasional
Ketua DPD La Nyalla Mattalitti berbincang dengan Wakil Ketua Nono Sampono pada Sidang Paripurna DPD di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/10/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Alexander Madji / AMA Selasa, 15 Oktober 2019 | 12:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Salah satu calon Ketua Umum persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) La Nyalla Mattalitti mengatakan, perubahan PSSI dan sepakbola nasional ada di tangan para pemilik suara (voters) pada kongres bulan depan. Merekalah yang akan menjadi penentu hitam putihnya sepakbola negeri ini karena akan memilih 15 pejabat elit PSSI untuk periode 2019-2023, yakini ketua umum, dua wakil ketua umum, dan 12 komite eksekutif (exco).

"Kedaulatan sepakbola sesungguhnya memang dimiliki voters. Walaupun kenyataan lebih sering memperlihatkan sebaliknya. Dengan kata lain, kebanyakan voters kurang berdaulat dengan suaranya. Ini momentum untuk menunjukan bahwa voters PSSI kini lebih berdaulat," ujar La Nyalla yang juga Ketua Dewan  Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta, Selasa (15/10/2019) sebagaimana disampaikan dalam pernyataan tertulisnya.

Meski banyak voters yang mau diiming-imingi, La Nyalla mengaku, masih ada yang teguh berdaulat dengan suaranya. Walaupun  jumlahnya tidak banyak. Kebanyakan memilih pragmatis. Larut dengan cara-cara yang sudah dianggap kebiasaan alias transaksional.

"Kebiasaan transaksional secara otomatis akan menggiring pilihan voters bukan berdasarkan logika dan nurani sepakbola untuk perubahan, tapi cenderung menjadi pilihan praktis dan hanya demi keuntungan sesaat atau keuntungan kelompok. Jika menyangkut besaran nominal uang, anggap saja motif hadir ke kongres hanya semacam mencari gaji ke-13, ke-14, dan seterusnya," terang pria yang juga juga pernah menjadi Ketua Umum PSSI itu.

Menurut La Nyalla, membaiknya kualitas sepakbola Indonesia ke depan hanya bisa diraih jika voters kembali berdaulat dengan suaranya dan tidak semata-mata mengutamakan transaksional. Sebaliknya, mereka harus peka dan responsif dengan keinginan perubahan di PSSI dan sepakbola nasional yang kini bergema di kalangan publik sepakbola sendiri.

"Voters harus memilih ketum, waketum dan exco yang membawa aspirasi perubahan. Harus idealis. Bukan justru mencari kesempatan untuk mendapat keuntungan pribadi dengan 'bertransaksi' suara," tegasnya.



Sumber: Suara Pembaruan