INDEF: Reshuffle Tim Ekonomi Kabinet Perlu Dilakukan

INDEF: Reshuffle Tim Ekonomi Kabinet Perlu Dilakukan
Bhima Yudhistira Adhinegara (Foto: Istimewa)
Lona Olavia / JAI Selasa, 7 Juli 2020 | 13:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan reshuffle (perombakan) tim ekonomi kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) perlu dilakukan, untuk menjawab kebutuhan terkait krisis akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Menurut dia, pandemi Covid-19 yang telah menekan perekonomian Indonesia, membutuhkan para menteri di bidang perekonomian yang bisa mendorong percepatan eksekusi stimulus di level teknis.

Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan, realisasi stimulus di level teknis perlu dipercepat untuk menahan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal dan jatuhnya ekonomi pada depresi, dimana pelemahan ekonomi berjalan dalam waktu yang lama. Efek realisasi stimulus, juga bisa mendongkrak ekonomi, karena industri akan pulih, begitu pula daya beli masyarat.

"Kalau stimulus cepat cair maka ada daya beli yang meningkat, industri juga akan tertolong karena sisi permintaan pulih mereka akan tarik kembali karyawan yang di PHK," ujar Bhima Yudhistira Adhinegara.

Dia menilai, kemarahan Presiden Jokowi hingga mengancam akan melakukan reshuffle kabinet, harus disikapi dengan serius oleh para menteri di bidang perekonomian. Wajar saja presiden marah karena situasi krisis tapi ada menteri terutama di tim ekonomi yang kerjanya business as usual (kerja seperti biasa), jadi belum ada senses of crisis-nya (sadar terhadap krisis).

"Kita dalam situasi krisis masa kerjanya biasa-biasa saja. Bisa di cek stimulus angkanya naik tapi realisasinya rendah sekali. Kalau begitu kan buat apa presiden capek-capek keluarkan Perpu 1/2020. Jadi harapannya dengan ancaman presiden, menteri bisa lebih giat mengeksekusi stimulus ekonomi, sehingga di semester II total stimulus Rp 670 triliun yang dianggarkan bisa 100% dicairkan," kata Bhima Yudhistira Adhinegara.

Jika tidak ada perbaikan, maka menurutnya reshuffle tim ekonomi mendesak untuk dilakukan, karena kabinet saat ini harus bisa memenuhi kebutuhan, terutama dalam hal manajemen krisis.

"Saya khawatir tanpa ada perombakan tim ekonomi, trust dari pelaku usaha, dan rakyat akan turun tajam. Banyak yang lebih kompeten menghadapi situasi krisis. Kabinet kemarin kan bukan dibentuk untuk crisis management. Jadi sekarang kebutuhannya jauh berbeda. Dan jikalau ada reshuffle sebaiknya penggantinya dari profesional yang paham atasi krisis," ujar Bhima Yudhistira Adhinegara.



Sumber: Suara Pembaruan