Ekspor Produk Kaca ke Filipina Berpotensi Meningkat

Ekspor Produk Kaca ke Filipina Berpotensi Meningkat
Pengunjung melihat produk kaca saat pameran produk dan teknologi terkini industri kaca ke 17 Glasstech Asia 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) di BSD, Tangerang, Selasa (12/11/2019). Acara ini bukan hanya menjadi pusat pertemuan pelaku usaha bersama pakar internasional, tetapi juga memberikan pemahaman luas dalam sektor manufaktur dan pemrosesan produk berbahan kaca, termasuk berbagai teknologi terkini dan inovasi kaca. (Foto: beritasatu photo / mohammad defrizal)
Herman / FER Senin, 6 Juli 2020 | 19:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia kini sudah terbebas dari pengenaan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) oleh Filipina untuk produk kaca (clear and tinted float glass). Hal ini menyusul keputusan Komisi Tarif Filipina untuk menghentikan penyelidikan safe guard atas produk kaca tanpa pengenaan bea masuk kepada semua negara, termasuk Indonesia.

Baca Juga: IA-CEPA Momentum Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Menteri Perdagangan (Mendag), Agus Suparmanto menyampaikan, hal ini diyakini akan semakin membuka peluang ekspor produk tersebut ke Filipina. Produk kaca yang terbebas dari pengenaan BMTP ada dalam kelompok pos tarif/HS code 7005.29.90 (clear float glass), 7005.21.90 (tinted float glass), dan 7005.10.90 (reflective float glass).

"Kabar gembira ini diyakini mampu mengembalikan gairah industri kaca Indonesia di pasar ekspor Filipina setelah terancam dikenakan BMTP. Peluang ekspor produk tersebut ke Filipina kembali terbuka lebar,” kata Agus Suparmanto dalam keterangan resmi yang diterima Beritasatu.com, Senin (6/7/2020).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor produk kaca Indonesia ke Filipina yang diselidiki adalah sekitar US$ 635.000 pada 2019. Nilai tersebut meningkat dibandingkan 2018 yang tercatat sekitar US$ 405.000. Namun, akibat penyelidikan safeguard ini, kinerja ekspor produk kaca cukup terpengaruh pada 2020.

Baca Juga: Barata Perluas Pasar Ekspor ke Tiga Negara

Selama periode Januari–April 2020, Indonesia membukukan nilai ekspor sekitar US$ 270.000. Bahkan, produk tinted float glass dan reflective float glass mengalami penurunan rata-rata hingga 79 persendari periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan kualitas yang sangat bersaing, produk kaca asal Indonesia sebelumnya dianggap memiliki potensi mengganggu kinerja industri kaca dalam negeri Filipina.

"Keputusan pembebasan BMTP akhirnya diambil karena otoritas Filipina tidak dapat membuktikan impor produk kaca menyebabkan kerugian serius atau ancaman kerugian terhadap industri serupa di dalam negeri mereka. Keputusan ini tentunya akan mendorong kembali kinerja ekspor produk kaca Indonesia ke Filipina,” ujar Mendag Agus.

Baca Juga: UMKM Binaan Kemdag Ekspor Produk Alas Kaki ke Singapura

Penyelidikan kasus ini dilakukan Departemen Perdagangan dan Industri serta Komisi Tarif Filipina sejak Februari 2019. Hal tersebut sesuai dengan WTO Agreement on Safeguards yang mengatur bahwa setiap negara anggota diperbolehkan menerapkan bea masuk tambahan terhadap produk impor apabila ditemukan lonjakan impor yang menyebabkan kerugian atau ancaman kerugian bagi industri serupa di dalam negeri.



Sumber: BeritaSatu.com