Mendag: IA-CEPA Momentum Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Mendag: IA-CEPA Momentum Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dalam sambutannnya dalam pembukaann Rapat Kerja Kementerian Perdagangan Tahun 2020 di Istana Negara, Jakarta, Rabu 4 Maret 2020. (Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao)
Herman / FER Minggu, 5 Juli 2020 | 16:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Perjanjian dagang Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) resmi berlaku mulai 5 Juli 2020. Melalui IA-CEPA, bea masuk produk-produk yang diekspor dari Indonesia ke Australia kini menjadi 0 persen.

Baca Juga: IA-CEPA Resmi Berlaku, Indonesia Untung atau Rugi?

Menteri Perdagangan (Mendag), Agus Suparmanto menyampaikan, diberlakukannya IA-CEPA ini diharapkan dapat menjadi momentum positif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, di tengah upaya pemulihan ekonomi setelah dihantam pandemi virus corona atau Covid-19.

"Kami mengajak para pelaku usaha, termasuk UMKM dan pemangku kepentingan untuk memanfaatkan perjanjian dagang ini dengan baik dan maksimal. IA-CEPA akan meningkatkan ekspor barang dan jasa Indonesia yang lebih luas ke pasar Australia, dan juga mendorong investasi Australia di berbagai sektor prioritas di Indonesia, di samping menciptakan kerja sama ekonomi untuk program peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia,” kata Agus Suparmanto dalam keterangan resmi yang ditrima Beritasatu.com, Minggu (5/7/2020).

Sementara itu, menurut Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Sydney, Ayu Siti Maryam, IA-CEPA merupakan perjanjian yang sifatnya komprehensif dan cukup berbeda dengan perjanjian lain yang hanya berbicara mengenai liberalisasi tarif barang.

"Ini tidak hanya liberalisasi tarif khusus goods, tetapi juga agreement yang mencakup jasa, investasi, bahkan ada chapter tersendiri mengenai kerja sama ekonomi atau economic cooperation. Trade in goods yang mengeliminasi 6.476 tarif Indonesia ke Australia hanya salah satu sebagian dari IA-CEPA,” kata Ayu Siti Maryam dalam acara diskusi yang digelar ABC Indonesia melalui webinar, akhir pekan lalu.

Baca Juga: Kesepakatan Dagang RI-Australia Dorong Investasi

Menurut Ayu, IA-CEPA tidak bisa dilihat dari sisi siapa yang diuntungkan dan dirugikan. Sebab Indonesia dan Australia merupakan negara tetangga yang sama-sama saling membutuhkan. Sebelum IA-CEPA, total perdagangan (trade) kedua negara ini posisinya masih sama-sama di rangking 12.

"Indonesia masih merupakan trading partner terbesar ke-12 Australia, begitu pun sebaliknya. Artinya, negara bertetangga ini ternyata belum dielaborasi secara maksimal dalam konteks ekonomi dan perdagangan,” kata Ayu.

Sementara itu, untuk mengatasi tantangan non-tarif measures (NTMs), kata ayu, hal tersebut juga sudah diakomodir dalam chapter economic cooperation.

"Ini untuk menjembatani bagaimana eksportir Indonesia memiliki daya saing untuk masuk ke pasar Australia. Jadi ada komite-komite khusus yang bekerja melakukan review apabila memang ternyata dalam implementasi IA-CEPA ini ada yang tidak sejalan atau tidak diharapkan seperti tujuan awal," tandas Ayu.



Sumber: BeritaSatu.com