Pertamina Cetak Laba Bersih Rp 35,8 Triliun

Pertamina Cetak Laba Bersih Rp 35,8 Triliun
Ilustrasi (Foto: Beritasatu.com/Danung Arifin)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 19 Juni 2020 | 05:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- PT Pertamina (Persero) sepanjang 2019 mencatat laba bersih sebesar US$ 2,53 miliar atau setara Rp 35,8 triliun.

“Dengan dinamika dan tantangan bisnis selama 2019, kami bersyukur Pertamina dapat menorehkan berbagai pencapaian dan mempertahankan laba bersih stabil, sama dengan tahun sebelumnya,” ujar VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman, selepas Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan perseroan di Jakarta, Kamis (18/6/2020).

Pemegang saham juga memutuskan setoran dividen tunai sebesar Rp 8,5 triliun atau meningkat 7 persen dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 7,95 triliun.

Baca juga: Bos Pertamina Tunjuk CEO Subholding Usaha, Siapa Saja?

Menurut Fajriyah, perekonomian sepanjang tahun 2019 masih mengalami tekanan sejalan dengan dinamika global. Beberapa hal yang mempengaruhi kinerja sektor migas seperti nilai ICP yang masih cukup tinggi di level US$ 62 per barel dan kurs yang cenderung menguat di kisaran Rp 14.146. "Dengan kondisi tersebut, total pendapatan usaha Pertamina tahun 2019 tercatat sebesar US$ 54,58 miliar dengan aset US$ 67,08 miliar," kata dia.

Meskipun tanpa major akuisisi, Pertamina mempertahankan produksi migasnya pada tahun 2019 melalui kegiatan operasional yang intensif yaitu pengeboran 322 sumur pengembangan, 14 sumur eksplorasi dan melakukan 751 kegiatan workover, serta 13.683 well services.

“Saat ini, Pertamina telah memiliki lapangan migas yang yang tersebar di 13 negara di benua Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa. Dari lapangan tersebut, kami berharap dapat mendukung aspirasi pemerintah mencapai 1 juta BOPD dan 4.000 MMSCFD di tahun 2024,” kata Fajriyah Usman.

Untuk mendukung ketahanan ekonomi negara, pada tahun 2019 menurut Fariyah, Pertamina mencatat penurunan nilai impor crude sebesar 35 persen dan produk sebesar 11 persen. Langkah ini dapat menghemat devisa sebesar US$ 7,3 miliar atau Rp 109 triliun.

Sejak awal tahun 2019, Pertamina juga telah menyetop impor Solar dan Avtur pada Februari dan Maret. Bahkan, saat ini Pertamina mencatat volume penjualan Avtur di pasar luar negeri yang terus meningkat mencapai 754.000 KL dan melayani airline domestik dan international di 40 bandara dari 20 negara.

“Untuk menekan impor migas, Pertamina juga terus melanjutkan komitmen implementasi B30 lebih cepat pada November 2019, yang target pada Januari 2020,” imbuh Fajriyah.

Fajriyah menambahkan, sampai akhir 2019 Pertamina berhasil menyelesaikan 161 titik BBM 1 harga yang tersebar di wilayah 3 T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) di seluruh Indonesia. Angka ini melebihi target yang ditetapkan pemerintah.

Untuk memperluas jangkauan layanan, Pertamina membangun 48 Pertashop dan 253 km tambahan jaringan pipa gas, sehingga saat ini mencapai lebih dari 10.000 KM jaringan pipa gas terpanjang di Asia Tenggara untuk penyediaan gas industri & hampir 400.000 Jargas sambungan rumah tangga yang meningkat 22 persen dari tahun 2018.

Tak lupa, pembangunan 21 lokasi storage TBBM, 8 Lokasi storage Avtur dan 2 Kapal General Purpose pun dijalankan untuk memastikan kehandalan supply dan distribusi BBM di seluruh Indonesia.

Pertamina telah menuntaskan Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) sehingga dapat meningkatkan kualitas produk BBM dari standar Euro 2 menjadi Euro 4, dan dengan volume produksi yang naik dari 1 juta barel menjadi 1,6 juta barel per bulan.

“Dengan kinerja operasional dan keuangan yang baik, Pertamina menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Fortune Global 500 dan berada di peringkat 175 atau naik 78 tingkat dari sebelumnya di peringkat 253. Posisi ini akan menjadi kebanggaan bagi Pertamina dan Indonesia,” tandas Fajriyah.



Sumber: BeritaSatu.com