XL Axiata Optimistis Industri Telekomunikasi Mulai Pulih

XL Axiata Optimistis Industri Telekomunikasi Mulai Pulih
eknisi XL Axiata sedang melakukan perawatan jaringan di salah satu BTS yang terletak di desa Nawangkewa, kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur guna memastikan kesiapan jaringan XL Axiata untuk menghadapi libur Panjang Natal dan Tahun Baru. ( Foto: Beritasatu.com / Dok. XL Axiata )
Lona Olavia / FMB Rabu, 12 Februari 2020 | 14:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT XL Axiata Tbk (EXCL) optimistis industri telekomunikasi pada tahun 2020 ini akan mengalami pemulihan seperti di era tahun 2017. Adapun, untuk menggenjot kenaikan kinerja di tahun ini, perseroan akan mengedepankan beberapa strategi misalnya memperkuat dan modernisasi jaringan fokus pada area prioritas, menambah partner digital yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi pelanggan, serta melanjutkan program operational excellence efisiensi kanal distribusi dan trafik per menara.

"(Pendapatan) Industri komunikasi di 2018 minus 7 persen, di 2019 tumbuh 4 persen tapi belum kembali pulih seperti tahun 2017. Kami perkirakan 2020 akan pulih, naik mid single digit. Tapi, kenaikan traffic akan tetap luar biasa naik 67 persen dari 2017 ke 2020," ujar Presiden Direktur dan CEO PT XL Axiata Dian Siswarini di Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Pendapatan XL Axiata, diperkirakan Dian akan menyamai atau dapat melampaui perolehan yang didapat perusahaan telekomunikasi lain. XL Axiata juga memperkirakan margin EBITDA bisa mencapai 39 persen pada tahun ini.

Untuk diketahui, tahun lalu XL Axiata meraih pendapatan terbesar sepanjang sejarah perusahaan, yaitu Rp 25,15 triliun. Pencapaian yang tercatat dalam laporan kinerja sepanjang tahun 2019 ini meningkat 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya (YoY), yang didorong oleh peningkatan pendapatan layanan sebesar 15 persen YoY. Pertumbuhan pendapatan tersebut melampaui pendapatan rata-rata industri yang diperkirakan para analis sebesar 4 persen. Peningkatan pendapatan layanan ini terutama ditopang oleh pendapatan dari layanan data yang meningkat sebesar 28 persen YoY.

Secara total, kontribusi pendapatan layanan data terhadap pendapatan layanan perusahaan juga semakin besar, mencapai 89 persen. Sedangkan untuk pencapaian laba kotor atau EBITDA sebesar Rp 9,97 triliun, meningkat 17 persen YoY. Perusahaan juga berhasil meraih laba bersih sebesar Rp 713 miliar, tertinggi sejak tahun 2013.

Selain itu, pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) tahun lalu dari Rp 32.000, naik 9 persen jadi Rp 35.000. Adapun, jumlah pelanggan XL Axiata tercatat sebanyak 56,7 juta, 76 persen di antaranya merupakan pengguna 4G atau tertinggi di industri. "Target ARPU di akhir 2019 kompetisinya lumayan memanas, di 2020 penetrasi diharapkan bisa lebih cooler. Kenaikannya jadi tidak akan banyak," kata Dian.

XL Axiata pun menyiapkan belanja modal (capex) Rp 7,5 triliun untuk ekspansi sepanjang tahun ini. Di mana, mayoritasnya dialokasikan untuk pengembangan jaringan telko dan modernisasi teknologi informasi (IT) seiring akan diluncurkannya produk baru digital. "Pada tahun 2020, kami akan memperkuat infrastruktur jaringan 4G yang didukung oleh fiberisasi, cloudifikasi, dan jaringan backbone domestik dan internasional. Saat ini 4G di Jawa sudah 99 persen dan diluar Jawa 90 persen," sebutnya seraya menambahkan sebelum Lebaran tahun ini semua sudah akan berstatus LTE.

Fokus
Seiring penjualan menara, Direktur Keuangan XL Axiata Mohamed Adlan bin Ahmad Tajudin menyatakan, perseroan saat ini akan memfokuskan bisnis pada seluler dan data. "Untuk mengelola menara sekarang tidak mudah. Sementara, jumlah menara yang lebih sedikit akan menurunkan resiko dan biaya operasional misalnya perizinan dan perawatan, sehingga meningkatkan efisiensi pengeluaran. Apalagi, dalam monetisasi aset, transaksi ini menghasilkan 10x EV/EBITDA vs di EV/EBITDA 4-5 kali," katanya.

XL baru menjual 2.782 menara senilai total Rp 4,05 triliun. Operator yang identik berwarna biru ini pun telah mengumumkan pemenang tender penjualan menaranya. Ada dua perusahaan yang terpilih, yakni PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) dan PT Centratama Menara Indonesia (CMI). Protelindo memenangkan tender akuisasi atas 1.728 unit menara dan CMI memenangkan tender akuisisi atas 1.054 unit menara. "Rp 4,05 triliun akan dibayarkan pada akhir maret 2020," katanya seraya menambahkan sisa menara XL saat ini hanya 1.200an.

Sementara itu, untuk membayar hutang yang akan jatuh tempo tahun ini, khususnya yang kuartal III Rp 2,8 triliun dan kuartal IV Rp 1,3 triliun, perseroan memiliki opsi untuk menerbitkan surat utang, namun hal itu masih akan tergantung dengan kondisi pasar. Sedangkan, untuk membayar hutang yang jatuh tempo di kuartal I Rp 1 triliun dan kuartal II Rp 400 miliar akan menggunakan kas internal. "Di 2020 ada sekitar Rp 5 triliun yang akan jatuh tempo baik sukuk maupun obligasi," sebut Adlan.



Sumber: Suara Pembaruan