Indef Sebut Ekonomi Indonesia Mengarah ke Sektor Jasa

Indef Sebut Ekonomi Indonesia Mengarah ke Sektor Jasa
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menggelar diskusi media, di Jakarta, 6 Februari 2020 ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Kamis, 6 Februari 2020 | 17:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 mencapai 5,02 persen, atau lebih rendah dari target APBN 2019 yang sebesar 5,3 persen. Salah satu faktornya adalah laju pertumbuhan industri manufaktur yang melambat, bahkan sebetulnya sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Indef: Kontribusi 
Ekonomi Digital Belum Signifikan

Penelti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho, mengatakan, saat ini ekonomi Indonesia sudah mengarah pada sektor jasa. Bahkan sejak lima tahun terakhir, pertumbuhan sektor jasa jauh lebih tinggi dibandingkan sektor Industri. Konseksuensinya, struktur lapangan usaha terhadap PDB di sektor-sektor tradable semakin menurun.

"Kondisi ini harus menjadi pertanyaan, mau ke mana arah pembangunan ekonomi kita ke depan? Bila tidak ada intervensi yang cukup radikal, 10 sampai 15 tahun ke depan kita sudah bisa melihat ekonomi kita akan ditopang oleh sektor jasa. Bisa jadi sektor manufaktur cenderung melambat, struktur PDB-nya cenderung menurun, dan deindustrialisasi terus terjadi. Mungkin nantinya kita akan dijuluki negara terbesar dengan basis ekonomi sektor jasa. Padahal ekonomi yang sektor jasa itu di negara-negara kecil seperti Singapura,” kata Andry Satrio, di acara diskusi yang digelar Indef, di ITS Office Tower, Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Andry memaparkan, pada 2019 kemarin industri manufaktur hanya tumbuh sebesar 3,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 4,27 persen. Kontribusinya terhadap PDB juga semakin mengecil jadi hanya tinggal 19,70 persen. Padahal di 2017 mencapai 20,16 persen, bahkan di 2001 pernah mencapai 29 persen.

Virus Korona Berpotensi Tekan Ekonomi RI 0,29%

Sebaliknya, sektor jasa mengalami pertumbuhan sangat pesat. Misalnya jasa perusahaan yang pada 2019 tumbuh 10,25 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 8,68 persen, jasa pendidikan tumbuh 6,29 persen, jasa keuangan dan asuransi tumbuh 6,60 persen, dan jasa lainnya tumbuh 10,55 persen.

Menurut Andry, laju sektor industri manufaktur yang tersungkur ini didorong oleh dua faktor utama. Pertama, rendahnya kualitas investasi dan minimnya investasi di sektor manufaktur. Kedua, tidak tepat sasarannya insentif yang diberikan pemerintah terhadap industri.

"Investor enggan berinvestasi di sektor manufaktur. Ini dapat dilihat dari realisasi investasi yang kini didominasi oleh sektor tersier (jasa) ketimbang sektor sekunder (manufaktur) atau primer (pertanian). Alhasil, hal ini juga berdampak pada tingkat penyerapan tenaga kerja berbasis investasi yang juga semakin rendah tiap tahunnya,” kata Andry Satrio.

Kemperin Siapkan Substitusi Bahan Baku Impor Tiongkok

Kehadiran Omnibus Law, menurut Andry, hanya akan mendorong masuknya investasi yang tidak berkualitas dan tidak prioritas. Akibatnya, pertumbuhan industri manufaktur pun cenderung enggan meningkat. Pemerintah seharusnya memetakan mana investasi yang diperlukan dan yang tidak, bukan menutup mata dan membiarkan semua investasi asing masuk ke Indonesia melalui instrumen Omnibus Law.

"Insentif fiskal yang diberikan oleh pemerintah melalui pengurangan dan libur pajak tanpa melihat kebutuhan industri juga hanya akan menambah daftar insentif yang tidak tepat sasaran. Beberapa industri bahkan tidak membutuhkan insentif fiskal, melainkan faktor-faktor produksi yang efisien seperti harga energi yang kompetitif dan ketersediaan bahan baku," tandas Andry.



Sumber: BeritaSatu.com