Indonesia Harus Manfaatkan Perang Dagang AS-Tiongkok

Indonesia Harus Manfaatkan Perang Dagang AS-Tiongkok
Foto dokumentasi pada 29 Juni 2019 memperlihatkan Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) dan Presiden AS Donald Trump menghadiri pertemuan bilateral di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang. ( Foto: AFP / Brendan Smialowski )
Ridho Syukro / FER Minggu, 25 Agustus 2019 | 17:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perang dagang atau trade war yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sangat sulit diperkirakan kapan akan berakhir. Kondisi perang dagang yang terjadi antara kedua negara super power tersebut, dinilai harus dimanfaatkan oleh negara berkembang untuk meningkatkan ekspor dan investasi.

Peneliti dari Leiden University, David Henley, mengatakan, Indonesia merupakan contoh negara berkembang yang mempunyai hubungan dagang yang cukup kuat baik dengan kedua negara yang tengah bertikai tersebut.

"Dengan kondisi perang dagang, AS maupun Tiongkok sama-sama melirik negara berkembang untuk menjadi partner. Indonesia tentunya tidak boleh melewatkan kesempatan tersebut dan harus bisa menjadi good partner bagi kedua pihak," ujar David Henley di Jakarta, Minggu (25/8/2019).

Menurut Henley, Indonesia harus membenahi regulasi agar investasi masuk sehingga terjadi penciptaan lapangan kerja. Hal yang harus dilakukan untuk ekspor, dimana Indonesia harus meningkatkan kualitas barang atau sektor ekspor ditambah.

"Kondisi perang dagang memang memberikan dampak bagi negara berkembang. Saat ini, banyak negara berkembang yang membenahi ekonominya agar mendapatkan tempat spesial baik bagi Amerika atau Tiongkok," jelas Henley.

Henley mengatakan pemerintah pusat dan daerah harus saling berkoordinasi karena menjadi kunci utama untuk daya tarik investasi. Selain itu, regulasi juga harus kompak. "Apa yang disampaikan di pusat harus sama realisasinya di daerah dan jangan sampai berbeda," tandas Henley.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia, Didik Rachbini mengatakan, posisi Indonesia di tengah perang dagang lebih mengarah ke Tiongkok daripada AS. Pasalnya, banyak pemimpin ataupun politisi di Indonesia mengarah ke Tiongkok. Selain itu, proyek-proyek infrastruktur di dalam negeri juga banyak yang menggunakan pembiayaan dari Tiongkok.

"Posisi Indonesia memang kuat di Tiongkok. Selain itu, ekspor juga lebih banyak ke Tiongkok, sehingga Indonesia bisa menjadi good partner bagi Tiongkok. Tentunya, sudah jelas Indonesia lebih kepada Tiongkok karena sudah mempunyai hubungan dagang lebih kuat,” ujar Didik.

Didik menjelaskan, di tengah kondisi perang dagang yang terjadi, sikap Indonesia sebaiknya membenahi diri baik dari segi infrastruktur maupun perekonomian.

"Perang dagang yang terjadi diproyeksikan masih lama. Indonesia harus bisa memanfaatkan peluang tersebut untuk meningkatkan ekonomi melalui perbaikan ekspor," tandas Didik.



Sumber: Investor Daily