Kepala Bappenas Buka Suara soal Wacana Provinsi Bogor Raya

Kepala Bappenas Buka Suara soal Wacana Provinsi Bogor Raya
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro saat berbicara dalam diskusi terbuka "Perencanaan dan Pembangunan Ibu Kota Baru Berbasis Smartcity di Indonesia" di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (22/8/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Bhakti Hariani )
Bhakti Hariani / WBP Kamis, 22 Agustus 2019 | 13:15 WIB

Depok, Beritasatu.com - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menilai wacana pembentukan provinsi baru bernama Bogor Raya yang digulirkan Wali Kota Bogor, Bima Arya tidak efektif mengatasi masalah-masalah di kota metropolitan.

Menurut Bambang, pendirian provinsi baru hanya akan menambah masalah baru karena perkembangan masalah perkotaan muncul secara alamiah dan tidak bisa dikontrol secara administratif.

"Kami punya konsep pengembangan wilayah metropolitan. Dimana kota-kota yang berada di sekitar Jakarta bisa mendapatkan fasilitas publik setara dengan Jakarta tanpa harus membentuk provinsi sendiri. Nanti ada kerja sama antarpemerintah daerah. Sehingga hal-hal yang menyangkut kepentingan publik tidak terhalang oleh wilayah administrasi. Seperti saat ini misalnya, MRT berhenti di Lebak Bulus. Karena wilayah selanjutnya sudah bukan masuk ke dalam Provinsi DKI Jakarta tapi masuk Provinsi Banten," ujar Bambang Brodjonegoro dalam diskusi terbuka "Perencanaan dan Pembangunan Ibu Kota Baru Berbasis Smartcity di Indonesia" di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (22/8/2019).

Bambang Brodjonegoro mengatakan, daerah-daerah di sekitar Jakarta yang masuk ke dalam metropolitan bisa mendapatkan pendanaan yang dapat diatur bersama tanpa harus membentuk provinsi lagi. "Kami bukan melarang atau tidak setuju, tapi kami sarankan ada pendekatan lain yang lebih baik," kata Bambang Brodjonegoro.

Mencontoh dari Amerika Serikat dimana terdapat metropolitan area yang terdiri dari New York, New Jersey, Pensylvania, Connecticut. Mereka terhubung dalam metropolitan area. Pendekatan metropolitan area digunakan untuk menghubungkan daerah-daerah tersebut, sehingga tidak membentuk pemerintahan daerah baru tersendiri.

Dikatakan Bambang, konsep Jabodetabek memang sudah tak relevan digunakan saat ini karena pembangunan dan hunian semakin meluas. Jika bicara perbatasan sebelah timur, maka bukan lagi Bekasi tapi meluas hingga Karawang. Sedangkan sebelah barat, bukan lagi Tangerang, tapi Serang. Sebelah selatan, kini meluas hingga ke Cianjur tidak hanya terhenti di Depok atau Bogor.

Pengelolaan kota metropolitan akan semakin membesar. Hal ini harus dipandang sebagai sebuah kekuatan baru. Nantinya area metropolitan yang makin meluas ini akan dihuni jutaan penduduk.

"Di sini pentingnya membuat konsep smart city urban regional planning. Jangan sampai ambisi atau niat untuk mendirikan provinsi baru hanya berlatarbelakang politis saja. Misalnya untuk menjadi gubernur di wilayah tersebut, menjadi bupati, menjadi wali kota. Kalau demikian, jelas tak akan menyelesaikan masalah di perkotaan metropolitan," pungkas Bambang Brodjonegoro.



Sumber: Suara Pembaruan