Kata Dirjen Pajak Soal "Berburu di Kebun Binatang"

Kata Dirjen Pajak Soal
Sejumlah wajib pajak berpose bersama Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dan Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan di Jakarta, Rabu (13/3/19). Para pengusaha tersebut mendapatkan penghargaan tersebut karena turut memberikan kontribusi terhadap pencapaian target Penerimaan Pajak Tahun 2018. ( Foto: beritasatu photo / mohammad defrizal )
Heru Andriyanto / HA Selasa, 20 Agustus 2019 | 20:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan menjawab sindiran bahwa pihaknya "berburu di kebun binatang", atau hanya mengejar para wajib pajak yang itu-itu saja.

Dalam dialog di studio Beritasatu News Channel, Senin (19/8/2019) malam, Robert mengklaim bahwa jumlah wajib pajak di Indonesia sudah makin banyak.

"Kita lihat data saja. Wajib Pajak Terdaftar sekarang sudah 43 juta dari penduduk 263 juta, penduduk individu ya," kata Robert di acara Prime Time Talk.

"Pembayar pajak di Indonesia bukan individu tapi rumah tangga. Rumah tangga di Indonesia 63 juta lebih sedikit, dan hampir setiap tahun ada 2 juta atau 2,5 juta wajib pajak baru," paparnya.

Dibandingkan satu dekade sebelumnya, jumlah dan persentase wajib pajak ini jauh lebih besar, kata Robert.

Meskipun demikian, diakuinya bahwa para wajib pajak skala besar tetap diawasi lebih ketat, "supaya tidak lolos, supaya mereka patuh."

Untuk wajib pajak lainnya yang mencapai sekitar 40 juta, sudah ada sistem supaya mereka patuh.

"Dari waktu ke waktu kami perbaiki sistem. Dengan perkembangan teknologi, digitalisasi dalam ekonomi, ke depannya pajak itu seharusnya lebih mudah di-enforced," ujarnya.

Cara Menghitung Target
Robert menjelaskan target penerimaan pajak Rp 1.861,8 triliun pada 2020, atau naik 13,3% dari proyeksi penerimaan pajak tahun ini, telah disusun dengan cermat dan hati-hati.

Target itu disusun dengan asumsi pertumbuhan ekonomi riil 5,3%, inflasi 3,1%, dan pendapatan nasional 8,4%.

Dengan elastisitas 1,5 kali dari pertumbuhan pendapatan nasional, maka peningkatan penerimaan pajak dipatok 13,3%.

"Ambisiuskah? Harusnya sesuatu yang bisa terjangkau, tetapi tergantung juga pertumbuhan ekonominya," kata Robert.

"Biasanya kalau ekonomi tumbuh, yang otomatis naik itu pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai. Pajak penghasilan nilai adalah pajak atas konsumsi, jadi kalau ada konsumsi, membeli barang, itu dampaknya ke PPN."

Robert kembali menekankan bahwa pertumbuhan penerimaan pajak sebagian besar dipengaruhi kondisi ekonomi, khususnya di sektor-sektor yang memang banyak kena pajak.

"Harga komoditas juga sangat memengaruhi penerimaan perpajakan karena dampaknya ke mana-mana. Jadi overall di dalam menghitung target biasanya Kementerian Keuangan, pemerintah dan nantinya dibahas dengan DPR akan melihat pertumbuhan ekonomi secara riil, di sektor mana saja yang nanti bisa tumbuh," jelasnya.

"Kalau tumbuhnya di sektor pertanian, sektor pertanian kan pajaknya kecil."

Simak data statistik penerimaan pajak dalam video berikut:



Sumber: BeritaSatu TV