Ini Alasan Target Produksi Minyak RI Lebih Rendah

Ini Alasan Target Produksi Minyak RI Lebih Rendah
Ego Syahrial ( Foto: Beritasatu )
Heru Andriyanto / HA Selasa, 20 Agustus 2019 | 06:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Target produksi minyak nasional 2020 yang dicanangkan dalam nota keuangan pemerintah lebih rendah daripada realisasi saat ini.

Target produksi minyak atau lifting dipatok 734.000 barel per hari (bph), seperti dalam nota keuangan yang dibacakan Presiden Joko Widodo pada 16 Agustus lalu. Padahal dalam perundingan dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR disepakati angka antara 695.000 bph hingga 840.000 bph.

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Ego Syahrial, ada dua alasan pokok untuk menjelaskan hal tersebut. Yang pertama adalah proses eksplorasi yang butuh waktu lama.

"Sesuai dengan kesepakatan kita dengan Komisi VII, kita memutuskan bahwa angka lifting di tahun 2020 adalah sebesar 734.000 bph, lebih rendah dibandingkan lifting 2019 saat ini sebesar 752.000 bph," kata Ego dalam program Hot Economy di studio Beritasatu News Channel, Senin (19/8/2019) malam.

"Penurunan ini alamiah karena kunci utamanya, industri migas ini adalah industri jangka panjang, butuh siklus waktu 10 tahun untuk penemuan hingga bisa diproduksikan."

Berikutnya, dalam kegiatan eksplorasi itu belum ditemukan cadangan baru dalam skala besar setelah ditemukannya Lapangan Cepu.

"Yang kedua, walapun kita terus gencar melakukan eksplorasi migas, dalam 10-20 tahun terakhir kita belum pernah menemukan cadangan pengganti yang baru dalam skala besar. Cadangan baru dalam skala besar di Indonesia ini kita menemukan Lapangan Cepu yang saat ini produksinya merupakan terbesar setelah Blok Rokan, hampir 210.000 bph," kata Ego.

"Jadi memang saat ini kita belum menemukan. Hanya skala-skala kecil yang hanya bisa untuk menghentikan laju penurunan. Idealnya kalau kita memproduksi 1 barel kita harus menemukan 1 barel."

Simak keterangannya lebih lanjut dalam tayangan berikut:



Sumber: BeritaSatu TV