Wapres Sebut Unicorn di Indonesia Sama Seperti Koperasi

Wapres Sebut Unicorn di Indonesia Sama Seperti Koperasi
Ilustrasi Start Up (illustrated by Bumble Bee Hub) ( Foto: Humble Bee Hub )
/ YUD Minggu, 18 Agustus 2019 | 16:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut perusahaan rintisan atau start up business dengan nilai kapitalisasi besar di Indonesia memiliki konsep sama dengan koperasi, yakni hanya mengumpulkan modal tanpa meningkatkan produk komoditas dalam negeri.

"Contohnya Gojek, Bukalapak atau Tokopedia; anda kan tidak punya toko beneran, tapi suruh orang jualan. Jadi hanya mengumpulkan orang jualan, Anda sudah bikin koperasi hebat," kata Wapres saat menghadiri Gerakan Nasional 1.000 Start-Up Digital di Istora Senayan Jakarta, Minggu (18/8/2019).

Dengan banyaknya generasi muda yang terjun ke dunia usaha rintisan tersebut, lanjut Wapres, artinya cita-cita Mohammad Hatta sebagai Bapak Koperasi dapat terwujud.

"Sebenarnya anda mestinya dapat (penghargaan) bintang koperasi, karena anda membentuk koperasi besar di Indonesia ini. Anda sudah menjalankan juga pasal 33 UUD 1945. Wah, itu anda dapat berkah karena andalah yang membikin ekonomi untuk kebersamaan," kata Wapres.

Transformasi ekonomi menjadi usaha rintisan, lanjut JK, lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan menjalankan wirausaha di zaman dulu, yang memerlukan penguasaan teori ekonomi. Menurut Wapres, di bisnis start up ini para pelakunya tidak perlu melahap buku-buku teori ekonomi karena yang diperlukan hanyalah semangat untuk menjalankan bisnis tersebut.

"Menjadi start up itu sama dengan belajar berenang. Kalau baca semua buku tentang berenang lalu turun ke sungai, itu tenggelam. Tapi kalau turun pelan-pelan, belajar dari pinggir, maka tiga atau empat hari sudah bisa berenang," katanya.

Namun demikian, JK mengingatkan bahwa selain semangat untuk memulai usaha rintisan, diperlukan juga upaya peningkatan produk dalam negeri guna memberi nilai tambah dalam perekonomian.

"Tetap saja intinya ialah nilai tambah, industri, perkebunan; sesuatu yang bisa dijual. Jadi harus ada yang berproduksi, ada yang jadi pedagang, nelayan, ada yang jadi ahli, jadi industriawan," ujarnya.

 



Sumber: ANTARA