Harga Minyak Turun karena Investor Masih Khawatir Resesi Global

Harga Minyak Turun karena Investor Masih Khawatir Resesi Global
Ilustrasi kilang minyak. ( Foto: Istimewa )
/ WBP Jumat, 16 Agustus 2019 | 08:55 WIB

New York, Beritasatu.com- Harga minyak dunia turun lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB (16/8/2019), memperpanjang penurunan tiga persen pada sesi sebelumnya, karena tertekan meningkatnya kekhawatiran resesi dan peningkatan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Kekhawatiran investor bahwa AS kemungkinan menuju resesi, terlihat dari kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS terbalik pada Rabu (14/8/2019) untuk pertama kalinya sejak 2007.

Sementara ancaman Tiongkok untuk melakukan tindakan balasan tarif terbaru impor AS terhadap US$ 300 miliar barang-barang Tiongkok juga membebani harga minyak.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober kehilangan US$ 1,25 menjadi US$ 58,23 per barel di London ICE Futures Exchange, dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September turun US$ 0,76 menjadi US$ 54,47 per barel di New York Mercantile Exchange.

"Minyak semakin terpukul karena investor khawatir perang dagang menimbulkan perlambatan pada para pedagang minyak," kata analis pasar OANDA, Craig Erlam.

Pada Juli, OPEC+ setuju memperpanjang penurunan produksi minyak hingga Maret 2020 guna menopang harga. Seorang pejabat Saudi pada 8 Agustus mengindikasikan langkah lebih lanjut bahwa Arab Saudi berkomitmen menjaga keseimbangan pasar tahun depan.

Namun upaya OPEC+ telah dikalahkan kekhawatiran ekonomi global di tengah-tengah sengketa perdagangan AS dan Tiongkok dan Brexit, serta meningkatnya stok minyak mentah AS. Seain itu, produksi minyak serpih AS juga meningkat.

China melaporkan data yang mengecewakan untuk Juli, termasuk penurunan mengejutkan dalam pertumbuhan produksi industri ke level terendah lebih dari 17 tahun.

Kemerosotan ekspor juga membuat ekonomi Jerman berbalik pada kuartal kedua.

Sementara Stok minyak mentah AS naik 1,6 juta barel pekan lalu, dibandingkan dengan ekspektasi untuk penurunan 2,8 juta barel, demikian data Badan Informasi Energi AS (EIA).



Sumber: Xinhua, Antara