BPOM Amankan Kosmetik Ilegal dari 8 Negara

BPOM Amankan Kosmetik Ilegal dari 8 Negara
Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito ( Foto: Beritasatu / Monica Dina Putri )
Eva Fitriani / HK Rabu, 14 Agustus 2019 | 19:26 WIB

BPOM Amankan Kosmetik Ilegal dari 8 Negara

Jakarta, Beritasatu.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengamankan kosmetik ilegal dari delapan negara, yakni Perancis, Italia, India, Spanyol, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Arab Saudi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya BPOM untuk melindungi masyarakat dari bahaya peredaran dan penggunaan kosmetik ilegal.

"Pada tanggal 13 Agustus 2019 kantor Badan POM di Kabupaten Tangerang melakukan kegiatan penertiban kosmetik ilegal di sarana distribusi kosmetik sekitar kecamatan Kelapa Dua. Dalam kegiatan ini ditemukan kosmetik tanpa izin edar yang merupakan produk impor dari 8 negara," kata Kepala BPOM Penny K Lukito dalam keterangan resminya, Selasa (14/8).

Terhadap kosmetik ilegal tersebut, lanjut dia, dilakukan pengamanan oleh Kantor BPOM di Kabupaten Tangerang. "Tak tanggung-tanggung, kosmetik yang amankan berjumlah 214 item dengan total nominal mencapai Rp 580 juta," ujar dia.

Oleh karena itu, kata Penny, BPOM mengimbau agar masyarakat menjadi lebih peduli dan berhati-hati dengan penggunaan kosmetik terutama yang ilegal. "Karenanya jadilah konsumen cerdas, dengan selalu mengingat Cek KLIK. Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar dan Cek Kedaluwarsa," tutur dia.

Bulan lalu, BPOM juga menemukan ratusan kosmetik ilegal dan mengandung bahan berbahaya/dilarang dengan nilai keekonomian mencapai miliaran rupiah. Penemuan kosmetik ilegal tersebut merupakan hasil operasi penertiban obat dan makanan ilegal yang dilakukan BPOM selama April-Juni 2019 di Magelang dan Semarang, Jawa Tengah.

"Di Magelang, penindakan dilakukan di sebuah gudang tersamar yang digunakan sebagai tempat ekspedisi, beralamat di Jl. Tarumanegara, Rejowinangun Utara pada Selasa (30/04). Barang bukti berupa 137 jenis kosmetik Tanpa Izin Edar (TIE)/ilegal, 1 jenis obat tradisional ilegal, dan 1 jenis obat ilegal dengan nilai keekonomian mencapai Rp 1,04 miliar," kata Penny.

Sementara di Semarang, lanjut dia, penindakan dilakukan di sebuah rumah berlantai dua di Kampung Seterong, Rejomulyo yang dijadikan sebagai gudang penyimpanan kosmetik ilegal pada Selasa (18/06). Dari tempat kejadian perkara, ditemukan barang bukti berupa 24 jenis kosmetik ilegal dan 1 jenis salep obat ilegal dengan nilai keekonomian mencapai Rp 1,3 miliar.

Dia menjelaskan, temuan kosmetik ilegal didominasi oleh produk perawatan kulit sebagai pencerah/pemutih antara lain RDL Hidroquinone Tretinoin Babyface, Original DR Pemutih Dokter, Deonard Whitening & Spot Removing, Temulawak Cream Night Cream, dan RDL Papaya Whitening Soap. Bahan berbahaya yang ditemukan dalam kosmetik ilegal tersebut antara lain merkuri, asam retinoat, dan hidrokuinon, dimana bahan-bahan tersebut dapat menyebabkan kanker (karsinogenik), kelainan pada janin (teratogenik), dan iritasi kulit.

"Modus operandi yang dilakukan tersangka adalah mengedarkan obat tradisional, kosmetik dan obat ilegal secara online menggunakan akun media sosial yang dibuat pelaku, mengedarkan barang menggunakan jasa ekspedisi, dan menyimpan barang di gudang yang tersembunyi," ungkap dia.

Sebagai tindak lanjut dari temuan ini, menurut Penny, BPOM melakukan proses investigasi dengan dugaan pelanggaran terhadap Pasal 196 dan Pasal 197 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pelanggaran yang didakwakan yaitu mendistribusikan produk sediaan farmasi jenis kosmetika, obat tradisional, dan obat ilegal dan mengandung bahan dilarang dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar.

“BPOM terus melakukan pembinaan agar pelaku usaha dapat memenuhi persyaratan dan ketentuan. Tapi jika pelaku usaha terbukti melanggar peraturan dengan sengaja dan terus-menerus melanggar, kami tak segan untuk menindak dan menegakkan hukum agar pelanggar diberi hukuman yang setimpal,” tegas dia.



Sumber: Investor Daily