Rizal Ramli: Ekonomi Indonesia Akan Nyungsep, Hanya Tumbuh 4,5%

Rizal Ramli: Ekonomi Indonesia Akan Nyungsep, Hanya Tumbuh 4,5%
Rizal Ramli ( Foto: Berita Satu/Herman / Herman )
Herman / IDS Senin, 12 Agustus 2019 | 15:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Ekonom senior yang juga mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini tidak akan mencapai target, bahkan bisa “nyungsep” (turun drastis) hingga hanya 4,5%.

"Tahun ini ekonomi Indonesia akan semakin nyungsep. pertumbuhan ekonomi Indonesia paling hanya 4,5%. Pemerintah sebelumnya mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal 5,2%, tetapi data terakhir hanya 5,0% sekian. Dugaan kami akan anjlok terus jadi 4,5%,” kata Rizal Ramli di kawasan tebet, Jakarta Selatan, Senin (12/8/2019).

Prediksi Rizal Ramli tersebut didasarkan pada indikator makro yang menunjukkan kecenderungan semakin merosot. Antara lain, kondisi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) kuartal II-2019 sebesar US$ 8,4 miliar atau 3,04% dari produk domestik bruto (PDB).

“Grafik transaksi berjalan makin lama semakin merosot, bahkan data terakhir sudah US$ 8 miliar lebih. Dari PDB juga meningkat lumayan. Ini sebetulnya sangat membahayakan dan semua analisis keuangan melihat hal ini,” kata Rizal.

Indikator lainnya adalah kondisi neraca perdagangan yang terus merosot. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), untuk semester pertama 2019 ini defisitnya mencapai US$ 1,93 miliar.

“Sering dikatakan kalau neraca perdagangan yang defisit ini karena faktor eksternal seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Padahal, negara lain seperti Vietnam, Thailand dan Myanmar bisa mengambil manfaat dari trade war ini. Sementara kita salahnya tidak mengantisipasi kejadian ini sebelumnya, padahal ini semua bisa diperkirakan,” paparnya.

Hal lainnya yang juga disoroti adalah capaian rasio jumlah pajak (tax ratio) yang dibandingkan dengan PDB. Rizal memaparkan, data tax ratio 2018 hanya 8,85%. Padahal di 2010 jumlahnya mencapai 9,52%. Penghitungan itu hanya rasio pajak, tanpa dihitung dengan bea dan cukai, serta royalti dari SDA migas dan tambang. Untuk rasio pajak keseluruhan (pajak + bea cukai + royalty SDA migas & tambang) juga turun dari 13,61% pada 2010, menjadi 11,45% pada 2018.

“Karena tax ratio-nya merosot, akhirnya kita meminjam uang lebih banyak dengan bunga yang lebih tinggi. Ini akan menimbulkan masalah di tahun-tahun mendatang,” ungkapnya.

Rizal berharap apa yang disampaikannya ini bisa menjadi peringatan bagi pemerintah agar bisa segera melakukan langkah-langkah antisipasi dan perbaikan. Namun menurutnya pemerintah selalu membantah dan mengatakan kalau kondisi perekonomian Indonesia masih baik. "Bukannya cari solusi bagaimana keluar dari masalah ini, tetapi malah sibuk membantah," sesal Rizal.



Sumber: BeritaSatu.com