Kemtan Siapkan 5 Terobosan Genjot Ekspor Pertanian

Kemtan Siapkan 5 Terobosan Genjot Ekspor Pertanian
Ilustrasi pertanian tumpang sari. ( Foto: Antara )
Herman / MPA Jumat, 9 Agustus 2019 | 18:35 WIB


Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Pertanian (Kemtan) menargetkan volume ekspor produk pertanian mencapai 45 juta ton hingga akhir 2019, meningkat dari tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 42,5 juta ton. Melalui Badan Karantina Pertanian, Kemtan juga telah menyiapkan lima terobosan strategi untuk mencapai target tersebut.

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil menyampaikan, sesuai dengan perintah Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan ekspor, Kementerian Pertanian kini terus mendorong akselerasi ekspor produk pertanian. Karena itu, pemerintah memberikan berbagai kemudahan bagi pelaku usaha yang akan mengekspor. Untuk itu Menteri Pertanian telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 19 tahun 2019 tentang Pengembagan Ekspor Pertanian.

“Ekspor kita beri karpet merah, kalau perlu dimerahkan lagi. Maksudnya dipermudah terus. Harus kita dorong, kita datangi dan jemput bola,” ujar Ali Jamil dalam keterangan resminya yang diterima Beritasatu.com, Jumat (9/8/2019).

Menurut Ali, ada lima terobosan yang disiapkan untuk menggenjot ekspor. Pertama, memberikan kemudahan bagi eksportir dalam perijinan melalui OSS. OSS merupakan program perijinan terpadu, sehingga prosesnya bisa lebih cepat. “Jadi jika sebelumnya ijin baru keluar tiga tahun, tiga bulan, sekarang hanya 3 jam. Bahkan kalau berkas, mungkin tidak sampai tiga jam,” kata Ali.

Kedua, yakni mendorong generasi milenial untuk menjadi eksportir melalui program Agro Gemilang. “Kita inginkan generasi milenial ikut andil dalam eksportir,” ujarnya.

Dalam program itu, pemerintah memberikan bimbingan teknis terkait SPS (Sanitary Phyto Sanitary), persiapan di lapangan dan bimbingan dalam good handling practices (GHP). “Kita konektivitas dengan daerah dan petani. Untuk GAP (Good Agricultuer Practices) ada di dinas dan GHP tugasnya pemerintah pusat,” tambahnya.

Ketiga, ungkap Ali Jamil, pemerintah membuat kebijakan inline inspection. Dalam program ini Badan Karantina Pertanian melakukan kunjungan langsung ke eksportir, dari tingkat budidaya hingga handling, sehingga mempermudah pelaku usaha dalam menangani produk yang akan diekspor.

“Contohnya saat di Jeneponto ada markisa bagus sekali, bahkan mengalahkan markisa Medan. Tapi ada hama lalat buah. Kita bantu penanganan dengan bimbingan BPP dan BPTP, sedangkan Karantina Pertanian bantu handling-nya,” tutur Ali.

Keempat, program I-Mace. Dengan I-Mace, bisa diketahui data sentra komoditas pertanian dan berpotensi ekspor. Bahkan di I-Mace juga terdapat data produk pertanian yang diekspor dan Negara tujuannya.

“Harapan kita dengan I-Mace bisa digunakan sebagai bahan kebijakan gubernur dan bupati untuk membangun pertanian di daerahnya. Misalnya dengan membangun kawasan sentra produksi pertanian yang berpotensi ekspor,” kata Ali Jamil.

Terbosan kelima yakni elektornik sertifikat (E-Cert). Dengan E-Cert, menurut Ali Jamil, produk pertanian yang diekspor lebih terjamin. Jadi negara tujuan ekspor akan menerima sertifikasi secara online, kemudian langsung diperiksa dan diteliti. “Setelah semua oke, barang bisa jalan. Jadi barang tidak akan ditolak di negara tujuan,” ujar Ali.

Berbeda dengan sebelumnya, eksportir akan membawa berkas atau sertifikat dalam hardcopy bersamaan dengan produknya. Namun jika kemudian ada ‘masalah’ terhadap produk yang dikirim, justru akan merugikan eksportir. “E-Cert ini merupakan bentuk penjaminan sesungguhnya, karena produk sudah pasti bisa diterima di luar negeri,” ujarnya.

Saat ini sudah ada empat negara yang menerapkan E-Cert yakni Belanda, Selandia Baru, Australia dan Vietnam. Namun ke depan, Ali Jamil berharap akan bisa bekerjasama dengan negara lain, terutama Uni Eropa.

“Dari hasil pertemuan saya di Belanda, ternyata Uni Eropa sudah menerapkan sejak 2010, bahkan mereka sepakat pada tahun 2020 menggunakan E-Cert. Kita harapkan dengan kesepakatan itu membuka peluang bagi Indonesia untuk bisa menerapkan E-Cert ,” tutur Ali.



Sumber: BeritaSatu.com