Ekspor Produk Furnitur Integra ke AS Tumbuh 20%

Ekspor Produk Furnitur Integra ke AS Tumbuh 20%
Dirut PT Integra Indocabinet Tbk, Rusli Halim dan Direktur Keuangan PT Integra Indocabinet Tbk saat kunjungan pabrik di Sidoarjo, Rabu (7/8/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Amrozi Amenan )
Amrozi Amenan / FER Rabu, 7 Agustus 2019 | 20:02 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) tahun ini mencatat pertumbuhan 20 persen ekspor produk furnitur ke Amerika Serikat (AS). Peningkatan ekspor ini diyakni akan mendukung pencapaian target pertumbuhan penjualan tahun ini sebesar 20 persen atau sebesar Rp 2,5 triliun dari tahun lalu.

Direktur Keuangan PT Integra Indocabinet Tbk, Wang Sutrisno mengatakan, peningkatan ekspor produk furniture perseroan ke AS itu sebagai imbas perang dagang AS dengan Tiongkok. Penguasaan produk furnitur Tiongkok yang sebelumnya menguasai 50 persen produk furnitur ekspor di AS terus berkurang sejak perang dagang tersebut. Hal itu menjadi peluang bagi produk furnitur dari negara-negara lain termasuk Indonesia.

"Ekspor produk furnitur kita naik 20 persen dari tahun lalu 68 persen menjadi hampir 75 persen hingga 80 persen dari total ekspor kita," kata Wang di sela kunjungan pabrik Integra Indocabinet di Sidoarjo, Rabu (7/8/2019).

Wang memastikan, ekspor produk perseroan ke AS pada semester II 2019 akan lebih besar lagi dibandingkan semester I 2019 karena ada banyak momen di negeri Paman Sam seperti Independence Day, Thanksgivings, Natal dan Tahun Baru. "Momen-momen itu biasanya dibarengi dengan peningkatan konsumsi produk-produk furnitur," ujarnya.

Untuk pasar AS, menurut Wang, Integra memasok toko, butik furnitur dan Amazon melalui importir. Selain AS, produk perseroan juga masuk ke Eropa, Tiongkok, dan sejumlah negara lainnya di Asia. Penjualan ekspor mencapai 70 persen dan penjualan lokal 30 persen dari total penjualan.

"Saya optimistis pasar furnitur dunia masih cukup bagus, apalagi perseroan memiliki keunggulan dari segi desain, ragam produk, kualitas, serta telah dikantonginya FSC certified dan SVLK yang menjadi persyaratan utama produk kayu olahan untuk pasar internasional,” kata Wang.

Selain manufaktur, perseroan juga mulai menggarap pasar ritel dengan membuka gerai di Jakarta, Bali dan Surabaya. "Pembukaan gerai ini untuk mendongkrak penjualan dalam negeri," tambah Wang.

Lebih jauh, Wang menyatakan, tahun ini Integra menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 20 persen atau Rp 2,5 trliun dari tahun lalu sebesar Rp 2,1 trliun. Untuk itu, perseroan mengandalkan beberapa proyek penambahan fasilitas produksi untuk produk-produk inovasi. Diantaranya adalah produk tirai kayu atau wooden blind, produk furnitur yang mengkombinasikan bahan kayu, metal dan rotan, serta produk millwork yang terbuat dari bahan kayu ringan untuk asesoris rumah.

Untuk menambah fasilitas produksi produk-produk inovasi itu perseroan memanfaatkan lahan seluas 2,7 hektare (Ha) di Gedangan, Sidoarjo. Penambahan fasilitas produksi produk-produk inovasi itu diproyeksikan sudah menyumbang pendapatan pada kuartal kedua 2019 ini. Perseroan memanfaatkan capex tahun ini sebesar Rp 250 miliar untuk melakukan pembelian mesin-mesin untuk produk-produk inovasi itu

"Peningakatan ekspor dan penambahan produk inovasi ini membuat kami optimis tahun ini bisa mencapai pertumbuhan penjualan 20 persen atau Rp 2,5 trliun," kata Wang.

Dirut PT Integra Indocabinet Tbk, Rusli Halim menambahkan, produk furnitur dalam negeri berpotensi menguasai pasar ekspor di beberapa negara karena didukung bahan baku yang melimpah di dalam negeri. Namun demikian, untuk memperkuat daya saing di pasar ekspor produk lokal kita masih membutuhkan kelonggaran impor bahan baku penunjang yang masih belum bisa diproduksi di dalam negeri.

"Terutama produk hardware yang menunjang produk furnitur kita yang memang belum ada di dalam negeri. Kalau misalnya adapun kualitas dan harganya belum seperti yang kita harapkan. Untuk produk hardware ini kita berharap ada kelonggaran sehingga bisa menunjang produk furnitur kita di pasar ekspor. Saya yakin kalau industri dalam negeri tumbuh, nantinya juga akan memanfaatkan produk dalam negeri," pungkas Rusli Halim.



Sumber: Investor Daily