Raden Pardede: Investasi Lebih Berperan daripada Konsumsi

Raden Pardede: Investasi Lebih Berperan daripada Konsumsi
Raden Pardede ( Foto: Beritasatu )
Heru Andriyanto / HA Rabu, 7 Agustus 2019 | 05:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Investasi lebih berperan sebaagai motor pertumbuhan ekonomi Indonesia dibandingkan konsumsi, menurut pakar ekonomi Raden Pardede dalam perbincangan di studio Beritasatu News Channel.

"Kalau kita lihat data, itu sangat jelas: yang selalu membuat pertumbuhan kita naik turun itu adalah investasi," kata Pardede dalam acara Hot Economy tayang Selasa (6/8/2019) malam.

"Konsumsi itu defensif. Memang untuk negara yang besar seperti kita, kebutuhan hidup sehari-hari itu kan tidak bisa ditunda. Konsumsi adalah bagian dari belanja kita yang paling terakhir kita korbankan."

Sebaliknya, investasi lebih sering dikorbankan sehingga menyebabkan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia, kata Pardede, yang juga menjabat wakil ketua umum Kadin bidang kebijakan moneter dan fiskal.

"Jadi selalu kita korbankan dulu investasi. Itu sebabnya kalau kita lihat di kuartal kedua tahun ini, konsumsi malah naik dari kuartal pertama. Konsumsi naik itu ada juga kaitan dengan lebaran dan juga pemilu," ulasnya.

"Itu yang menyebabkan konsumsi naik'tetapi investasi turun, dan itu sudah terjadi sebetulnya dua kuartal berturut-turut investasi turun."

Tahun lalu, investasi juga menjadi penentu pertumbuhan ekonomi.

"Kalau kita lihat penjelasan apa yang membuat Indonesia ertumbuh di tahun lalu? Investasi." kata Pardede.

"Konsumsi itu relatf dia stabil, smooth, tidak bisa naik turun dengan cepat. Jadi penjelasannya itu."

Dia juga mengaitkan perlambatan laju pertumbuhan dengan penurunan impor tahun ini.

"Kalau impor menurun jangan senang dulu, karena sebagian dari barang impor kita -- terutama barang modal dan juga namanya barang intermediate -- itu adalah dalam rangka untuk investasi," ulasnya.

Pada dasarnya, perekonomian global secara keseluruhan memang tengah dilanda kelesuan. Pardede mencatat bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia sudah beberapa kali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

"Dan itu sudah terjadi tiga kuartal berturut-turut, mulai Oktober tahun lalu, kemudian Januari, kemudian sekarang direvisi ke bawah. Mereka selalu salah, dia pikir bertumbuh cukup tingi tenyata lebih rendah," ujarnya.

"Meskipun kita masih 5%, not bad, tapi juga jangan menepuk dada. Kita harus bekerja lebih keras terutama untuk investasi di semester-semester berikutnya."

Kaya Sebelum Tua
Pardede mengingatkan agar pemerintah keluar dari paradigma lama untuk menggenjot investasi dan laju pertumbuhan ekonomi, seperti yang pernah dicanangkan sendiri oleh Presiden Joko Widodo.

Langkah itu perlu agar Indonesia bisa keluar dari jebakan kelompok negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

"Tidak boleh lagi business as usual. Kita harus melangkah dengan cara yang baru. Cara yang lama seperti apa? 'Kalau boleh lambat kenapa cepat, kalau boleh sulit kenapa mudah'," paparnya.

"Kita harus revisi itu, karena kalau tetap dengan cara yang lama pertumbuhan kita begitu-begitu saja."

Paradigma baru ini perlu diadopsi bukan hanya untuk tahun depan saja, tetapi juga sepanjang periode kedua pemerintahan Jokowi.

"Jadi ktia harus cegah kita tua dan miskin. Kita harus kaya sebelum tua, dan itu hanya mungkin di mana kita keluar dari pendapatan per kapita US$ 12.500, dan itu hanya mungkin kalau kita bertumbuh lebih cepat dari yang sekarang," ulasnya.

Kemudahan investasi menjadi syarat utama agar laju pertumbuhan meningkat dan Indonesia bisa keluar dari middle income trap. Apalagi, upaya menggenjot ekspor akan lebih sulit karena situasi global yang sedang lesu sekarang ini.

"Investasi bukan mudah juga karena negara lain akan melakukan hal yang sama. Artinya kita harus lebih baik dari apa yang dilakukan negara lain. Apa yang dilakukan Vietnam bisa nggak kita saingi?" ujarnya.

"Periode kedua ini harus beda. Kalau sama dengan yang lalu, (pertumbuhan ekonomi) kita akan 5%. Dengan 5%, kita akan tua dan miskin lagi."

Simak penuturan Pardede dalam video berikut:



Sumber: BeritaSatu TV