Mendag Targetkan Peningkatan Ekspor Tiga Komoditas ke Tiongkok

Mendag Targetkan Peningkatan Ekspor Tiga Komoditas ke Tiongkok
Ilustrasi Crude Palm Oil (CPO). ( Foto: istimewa / istimewa )
Ridho Syukro / FER Minggu, 21 Juli 2019 | 15:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita, memulai serangkaian langkah lobi ke Tiongkok untuk mendongkrak ekspor dengan negeri raksasa itu. Adapun komoditas yang diharapkan menjadi pendongkrak neraca perdagangan yaitu, CPO (crude palm oil), buah-buahan, dan sarang burung walet

Sebagai langkah awal, Mendag Enggartiasto melakukan pertemuan perdana dengan perkumpulan pengusaha dalam forum investasi, untuk menaikkan ekspor sarang burung walet ke Negeri Tirai Bambu. Melalui pertemuan ini, Indonesia berpeluang untuk mendapatkan setidaknya US$ 1 miliar per tahun dari ekspor tersebut.

"Indonesia bisa full speed produksi dan ekspor. Untuk diketahui, Indonesia merupakan produsen sarang burung walet terbesar di dunia. Sedangkan Tiongkok adalah konsumen terbesar sarang burung walet terbesar secara global. Sayangnya, Tiongkok lebih banyak mengenal produk sarang burung walet sebagai produksi dari Vietnam dan Malaysia,” kata Enggar dalam siaran pers yang diterima redaksi, Minggu (21/7/2019).

Enggar mengatakan, produksi sarang burung walet setiap tahunnya mencapai 1.500 ton. Dari jumlah tersebut, hampir seluruhnya atau sekitar 99 persen di ekspor ke berbagai negara, utamanya Tiongkok. "Hanya saja, ekspor langsung ke Tiongkok yang tercatat hanya sekitar 5 persen. Sementara, sisanya banyak dijual mentah ke Vietnam, Malaysia dan Hongkong untuk kemudian diolah dan di ekspor ke Tiongkok,” beber Enggar.

Berdasarkan data yang dimiliki Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPBSI), ekspor produk sarang burung walet yang tercatat secara resmi ke Tiongkok baru sebesar 70 ton pada 2018. Angka tersebut mengalami kenaikan dari 52 ton di tahun 2017 dan 23 ton di tahun 2016. Nilai ekspor tersebut, masih di bawah kuota ekspor produk sarang burung walet yang diberikan Pemerintah Tiongkok yang mencapai 150 ton per tahun.

"Rangkaian lobi ini mutlak diperlukan untuk menaikkan neraca perdagangan. Dengan kesempatan yang diberikan, lndonesia bukan hanya bisa mengatasi tren penurunan ekspor," tegas Enggar.

Selain sarang burung walet, rangkaian lobi ini juga dilakukan untuk upaya meningkatkan ekspor CPO ke negeri tirai bambu. Dalam pertemuan tingkat kepala negara, membahas kenaikan ekspor 500.000 ton CPO dari Indonesia ke Tiongkok. Namun, kata Enggar, Kemdag akan berupaya melakukan negosiasi agar nilai itu bisa digandakan, menjadi 1 juta ton CPO per tahun.

"Secara value, harusnya kita juga menegaskan kepada mereka, untuk bagaimana meningkatkan impor CPO dari kita sebesar 500.000 ton. Itu kan harus dikejar. Saya harus melakukan itu, karena itu kan baru komitmen," ujar Enggar.

Enggar menambahkan, pihaknya meyakini, lobi intensif dengan cara temu muka atau face to face, bertemu dengan pemerintah dan pengusaha-pengusaha secara langsung, hasilnya akan berbeda. "Hal yang sama pernah saya lakukan dengan Turki, India, dan Cile," tandas Enggar.

Sementara itu, Ekonom Universitas Sam Ratulangi, Agus Tony Poputra, mengapresiasi langkah yang diambil oleh Kemdag. Tindakan cepat tanggap Kemdag dalam mendorong ekspor tiga komoditas tersebut merupakan langkah yang tepat. Pasalnya, ketiga komoditas tersebut, sangat dibutuhkan masyarakat Tiongkok.

"Apalagi buah-buahan tropikal, itu dibutuhkan di sana. Di sana kan nggak ada buah-buahan tropikal kayak pisang, nanas, dan sebagainya. Itu cocok kita masuk ke Tiongkok,” kata Agus Poputro.

Namun, Agus juga mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan produksi buah-buahan dalam negeri agar kebutuhan domestik juga terpenuhi, dan harga buah dalam negeri tidak terganggu. Sementara, untuk komoditas sarang burung walet dan CPO, memang harus lebih didorong ekspornya ke Tiongkok.

"Keberadaan kedua komoditas ini lebih siap ditingkatkan ekspornya, lantaran CPO banyak diproduksi dan membutuhkan tujuan pasar yang besar untuk menyerap ketersediaan yang ada," tandas Agus Poputro.



Sumber: Investor Daily