BPOM Temukan Kosmetik Ilegal di Jawa Tengah

BPOM Temukan Kosmetik Ilegal di Jawa Tengah
Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito, diwawancarai media usai memaparkan kinerja BPOM 2018 dan rencana kerja 2019 di Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Manafe )
Harso Kurniawan / HK Kamis, 4 Juli 2019 | 21:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan ratusan kosmetik ilegal dan mengandung bahan berbahaya/dilarang di Magelang dan Semarang, Jawa Tengah, dengan nilai keekonomian mencapai miliaran rupiah. Penemuan kosmetik ilegal tersebut merupakan hasil operasi penertiban obat dan makanan ilegal yang dilakukan BPOM selama April-Juni 2019 di Magelang dan Semarang.

"Di Magelang, penindakan dilakukan di sebuah gudang tersamar yang digunakan sebagai tempat ekspedisi, beralamat di Jl. Tarumanegara, Rejowinangun Utara pada Selasa (30/04). Barang bukti berupa 137 jenis kosmetik tanpa izin edar (TIE) atau ilegal, satu jenis obat tradisional ilegal, dan satu jenis obat ilegal dengan nilai keekonomian mencapai Rp 1,04 miliar," kata Kepala BPOM Penny K Lukito dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (4/7).

Sementara itu, di Semarang, lanjut dia, penindakan dilakukan di sebuah rumah berlantai dua di Kampung Seterong, Rejomulyo yang dijadikan sebagai gudang penyimpanan kosmetik ilegal pada Selasa (18/06). Dari tempat kejadian perkara, ditemukan barang bukti berupa 24 jenis kosmetik ilegal dan satu jenis salep obat ilegal dengan nilai keekonomian mencapai Rp 1,3 miliar.

Dia menjelaskan, temuan kosmetik ilegal didominasi oleh produk perawatan kulit sebagai pencerah pemutih antara lain RDL Hidroquinone Tretinoin Babyface, Original DR Pemutih Dokter, Deonard Whitening & Spot Removing, Temulawak Cream Night Cream, dan RDL Papaya Whitening Soap. Bahan berbahaya yang ditemukan dalam kosmetik ilegal tersebut antara lain merkuri, asam retinoat, dan hidrokuinon, dimana bahan-bahan tersebut dapat menyebabkan kanker (karsinogenik), kelainan pada janin (teratogenik), dan iritasi kulit.

"Modus operandi yang dilakukan tersangka adalah mengedarkan obat tradisional, kosmetik dan obat ilegal secara online menggunakan akun media sosial yang dibuat pelaku, mengedarkan barang menggunakan jasa ekspedisi, dan menyimpan barang di gudang yang tersembunyi," ungkap dia.



Sumber: Investor Daily