Langkah Mendag Tingkatkan Perdagangan ke Argentina Diapresiasi

Langkah Mendag Tingkatkan Perdagangan ke Argentina Diapresiasi
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita ( Foto: Beritasatu TV )
Ridho Syukro / FER Rabu, 15 Mei 2019 | 20:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Langkah Kementerian Perdagangan (Kemdag) meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi dengan Argentina dan Mercosur dipandang tepat.

Ekonom Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal, mengatakan, Argentina merupakan hub atau pintu penting di Amerika Selatan setelah Brazil. Penjajakan counter trade dengan pola barter, diyakini mendongkrak neraca perdagangan.

"Berdasarkan kajian yang pernah LPEM UI lakukan, pemetaan non-tradisional partner untuk wilayah Amerika Latin selain Brazil itu ada Cile, Peru, dan Argentina," ujar Fithra dalam siaran persnya yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Menurut Fithra, perang dagang yang masih terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok, membuat Indonesia harus segera mencari negara tujuan ekspor non-tradisional.

Seperti diketahui, usai melangsungkan kunjungan ke Eropa pada 8-11 Mei lalu, Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita, melanjutkan kunjungan kerja ke dua negara Amerika Latin, yaitu Cile dan Argentina.

Enggar menyebutkan, Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dengan negara-negara Amerika Selatan. Hal ini mengingat kebutuhan yang semakin mendesak untuk mendiversifikasi pasar ekspor di tengah prediksi bahwa perekonomian dunia maupun perdagangan internasional akan terus mengalami pelemahan tahun ini.

"Kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Argentina akan memiliki nilai geostrategis yang penting," ujar Enggar.

Menurut Enggar, Indonesia dapat memanfaatkan Argentina sebagai regional hub memasuki pasar sekitar lainnya di kawasan Amerika Latin. Demikian pula Argentina dapat memanfaatkan Indonesia untuk memasuki pasar ASEAN.

"Perekonomian kedua negara bersifat komplementer namun sejauh ini kurang banyak digali seperti dengan negara-negara di kawasan Asia dan Eropa," tandas Enggar.

Pemerintah, lanjut Enggar, tengah menjajaki pola counter trade. Enggar menilai pola ini sebagai langkah tepat guna memangkas defisit neraca perdagangan Indonesia dengan Argentina.

Berdasarkan data Kemdag, pada 2018 lalu total perdagangan kedua negara mencapai US$1,67 miliar. Dari total perdagangan tersebut, Indonesia membukukan defisit perdagangan hingga US$1,2 miliar. Angka defisit ini melonjak dibandingkan defisit pada 2017 yang sebesar US$891,22 juta.

Potensi untuk melakukan barter gaya baru ini pun ada. Sejalan dengan perlambatan ekonomi dunia, terdapat potensi over supply produk di Argentina. Hal yang sama juga dialami Indonesia, di mana beberapa komoditas mengalami penurunan ekspor. Barang yang bisa di barter dengan mereka adalah karet, CPO, automotive dan spare parts, juga spare parts pesawat CN235.

Rencana Enggar melakukan barter produk dengan Argentina pun turut diapresiasi. Menurut Fithra, keputusan melakukan barter dengan mengerahkan karet dan CPO adalah strategi tepat. Rencana barter pun secara tidak langsung dapat menjadi alternatif pemerintah mengoptimalkan produk karet dan CPO Indonesia yang melimpah.

"Oleh karena itu, dengan kita mengambil langkah berkunjung ke sana (Argentina) dan kalau bisa ada sebuah perjanjian yang konkret saya rasa itu merupakan first mover advantaged ya," ujar Fithra.



Sumber: Investor Daily