Langkah Mendag Jajaki Pasar Amerika Latin Diapresiasi

Langkah Mendag Jajaki Pasar Amerika Latin Diapresiasi
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjelaskan data impor jagung yang disebutkan Presiden Joko Widodo sesuai data kementerian.
Ridho Syukro / FER Selasa, 14 Mei 2019 | 15:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, memulai kunjungan ke Amerika Selatan, setelah berkunjung dari Swiss ke Argentina dan Cile. Agenda dilakukan untuk melakukan kunjungan kerja guna memperluas akses pasar dan meningkatkan kerja sama perdagangan di kawasan Amerika Latin.

Langkah ini dinilai sebagai terobosan yang patut diapresiasi dan menunjukkan upaya sepenuh hati pemerintah untuk mendorong pasar ekspor Indonesia.

Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita, mengatakan, agenda kerja ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam membuka dan memperluas peluang pasar ekspor produk-produk Indonesia ke pasar nontradisional.

Di Buenos Aires, Argentina, Mendag akan mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri dan Kepercayaan Argentina, Jorge Marcelo Faurie, serta sejumlah pertemuan dengan Asosiasi dan pelaku usaha di Argentina.

"Total neraca perdagangan kedua negara saat ini mencapai US$2 miliar, namun masih defisit bagi Indonesia,” kata Enggar, dalam keterangan persnya yang diterima Beritasatu.com, Selasa (14/5/2019).

Kunjungan kerja ke Argentina ini juga merupakan tindak lanjut kunjungan resmi Wakil Presiden Argentina Gabriela Michetti ke Indonesia yang diterima Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla baru-baru ini. Pertemuan Wapres kedua negara tersebut membahas upaya peningkatan kerja sama dalam bidang perdagangan dan investasi.

Usai melakukan kunjungan kerja ke Buenos Aires, Argentina, Mendag akan bertolak ke Cile untuk hadir pada pertemuan Menteri-Menteri Bidang Ekonomi kawasan Asia Pasifik (APEC Minister’s Responsible for Trade (MRT) di Vina Del Mar.

Kunjungan ke Chili sekaligus untuk menindaklanjuti implementasi kesepakatan kerja sama ekonomi komprehensif Indonesia-Cile (Indonesia-Chili Comprehensive Economic Partnership Agreement/IC-CEPA). Enggar pun akan memimpin misi dagang Indonesia pada forum bisnis di Santiago.

"Melalui kunjungan ini, Indonesia ingin memperkuat kolaborasi dengan Cile agar kedua negara dapat memanfaatkan IC-CEPA dengan maksimal,” ujar Enggar.

Selain membahas peluang yang akan diperoleh dari implementasi IC-CEPA, kedua negara juga akan membahas mengenai tantangan-tantangan dalam implementasi tersebut.

Neraca perdagangan Indonesia -Cile pada kuartal pertama 2019 sendiri mengalami perbaikan setelah sebelumnya tren perdagangan kedua negara mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir.

Total nilai perdagangan kedua negara pada Januari-Februari 2019 mencapai US$36,6 juta. Nilai ini meningkat 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Indonesia optimis nilai ini akan terus meningkat dengan implementasi IC-CEPA karena IC-CEPA membuka peluang kedua negara untuk meningkatkan perdagangan barang dan jasa, investasi, serta kerja sama ekonomi.

Enggar juga menegaskan kembali, Cile merupakan negara pertama di kawasan Amerika Latin yang melakukan perjanjian kerja sama perdagangan dengan Indonesia. Cile sendiri merupakan negara dengan ekonomi tertinggi di kawasan ini. Produk Domestik Bruto (PDB) Cile mencapai US$ 24.600 pada 2017.

Cile juga berada dalam kondisi ekonomi dan politik yang baik dan stabil. Selain itu, Cile memiliki garis pantai menghadap Samudra Pasifik sehingga menjadikannya strategis sebagai hub bagi akses Indonesia dengan negara-negara di Amerika Latin lainnya.

Kunjungan Mendag ke Argentina untuk memperluas akses pasar di Amerika Latin pun mendapat pujian dari ekonom Universitas Brawijaya (Unibraw), Candra Fajri Ananda. Langkah ini, dinilai bisa menjawab kebosanan dari terlalu klasiknya pasar ekspor Indonesia selama ini.

Lebih daripada itu, kerja sama dengan negara-negara Amerika Latin pun dapat memperkuat national branding Indonesia sehingga mampu lebih memiliki dukungan di tingkat global. "Perlu diapresiasilah usahanya. Selama ini kan pasar Indonesia itu terlalu klasik seperti Amerika, China," ujar Candra.

Candra juga menyoroti keuntungan Indonesia dalam meningkatkan national branding melalui kerja sama semacam ini. Apalagi mengingat negara-negara yang tergabung di Amerika Latin cukup banyak.

"Misalnya di PBB, satu negara kan dihitung satu suara. Jadi makin banyak perluasan pasar kayak begini, dukungannya juga semakin banyak," tandas Candra.



Sumber: Investor Daily