Advotics Raih Pendanaan Awal Rp 39 M dari East Ventures

Advotics Raih Pendanaan Awal Rp 39 M dari East Ventures
Tim manajemen dari Advotics. ( Foto: Ist )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Selasa, 14 Mei 2019 | 09:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Advotics, sebuah startup Software as a Service (SaaS) asal Indonesia yang fokus membantu para pelaku bisnis rantai pasokan barang (supply chain) dalam mengambil keputusan berdasarkan data, hari ini, Selasa (14/5/2019) mengumumkan bahwa mereka telah meraih pendanaan tahap awal (seed funding) senilai Rp39 miliar (US$2,7 juta) yang dipimpin oleh East Ventures. Dana segar tersebut rencananya akan mereka gunakan untuk mengembangkan lebih banyak teknologi dan solusi untuk pelanggan, serta mempercepat pertumbuhan pengguna.

Advotics didirikan dengan misi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi sebagian besar perusahaan karena masih mengandalkan metode offline dalam mengelola dan melacak operasional penjualan serta distribusi mereka. Dengan banyaknya dokumen yang harus dikelola secara manual, para pebisnis tersebut akhirnya menghabiskan banyak waktu mereka hanya untuk pekerjaan rutin, bukan untuk sesuatu yang bersifat strategis.

Tim manajemen dari Advotics terdiri atas tiga engineer dengan latar belakang yang beragam, tetapi memiliki pemahaman industri yang mendalam: Boris Sanjaya adalah seorang industrial engineer dengan pengalaman konsultasi yang luas saat bekerja di Boston Consulting Group (BCG); Hendi Chandi adalah mantan software developer senior di Amazon, serta merupakan lulusan dari program teknik komputer terkenal di University of Washington Seattle; sedangkan Jeffry Tani merupakan pemegang gelar Ph.D. Teknik Mesin dari MIT.

“Klien dapat membeli solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka, baik berupa solusi digitalisasi yang menyeluruh atau hanya modul-modul tertentu saja. Advotics juga menyediakan fitur yang sangat diminati oleh pelaku industri, seperti aplikasi produktivitas untuk memantau pekerja di dalam toko dengan sistem pelacakan geografis, sistem pengaturan rute dan pengiriman barang, sistem pemasaran offline-to-online, platform perdagangan Business to Business (B2B), serta dasbor analitik & business intelligence untuk tim manajemen. Dengan berbagai lini produk ini, Advotics dapat memenuhi kebutuhan mulai dari segmen perusahaan besar hingga Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang lebih kecil," kata Hendi, Co-Founder dan CTO dari Advotics.

Advotics memperkenalkan platform berbasis cloud mereka untuk mendigitalkan tenaga kerja, jaringan bisnis, serta aset dan produk fisik milik perusahaan. Tujuan utamanya, adalah untuk mengubah data dari aktivitas perdagangan dan pekerjaan offline di lapangan menjadi data berguna yang bisa membantu tim manajemen dalam membuat keputusan bisnis penting seperti penetrasi penjualan, produktivitas, serta strategi penjualan ritel. Salah satu terobosan yang dilakukan Advotics adalah dengan mendigitalkan produk melalui penggunaan identitas unik, seperti kode QR yang dicetak pada kemasan produk. Salah satu manfaat kode QR adalah mampu membantu perusahaan melacak keberadaan produk mulai dari distributor pertama hingga ke tangan konsumen, serta melindungi dari adanya pemalsuan produk. Dalam kurun 24 bulan terakhir, Advotics telah berhasil mengimplementasi hal tersebut pada lebih dari 100 juta unit produk.

Advotics menyediakan platform manajemen dan analitik yang mampu melacak distribusi produk guna memberikan analisis, kontrol terhadap harga dan distribusi, serta pemasaran offline dengan influencer yang lebih baik. Bagi bisnis distribusi, Advotics berhasil meningkatkan produktivitas para karyawan sales, yang berakibat pada meningkatnya kunjungan ke toko ritel setiap harinya sebesar 49 persen. Hingga saat ini, Advotics telah memenangkan lebih dari 50 kontrak dengan klien korporat, seperti ExxonMobil, HM Sampoerna (afiliasi dari Phillip Morris International), Danone, Mulia Group, Saint Gobain, Nutrifood, dan Indosurya.

“Pelanggan sangat menyukai platform kami karena mudah digunakan, memiliki relevansi yang kuat dengan kegiatan mereka sehari-hari, serta harganya yang terjangkau karena hanya perlu membayar biaya berlangganan sesuai jumlah pengguna,” ujar Jeffry, Co-Founder dan CPO dari Advotics.

Platform Advotics adalah penerapan dari teknologi Internet of Things (IoT) dan machine learning pada bisnis produksi dan distribusi, yang merupakan tuas yang dibutuhkan untuk memasuki era Industri 4.0. Solusi Advotics telah teruji dalam membantu klien meningkatkan produktivitas, mengoptimalkan proses bisnis, serta meningkatkan rantai pasokan (supply chain) mereka.

Misi Advotics untuk membantu klien dalam mencapai kesuksesan bisnis terbukti pada awal tahun ini, ketika Advotics berhasil membantu Danone Indonesia memenangkan Global Award for Best Excellence in Retail Execution, di mana mereka harus bersaing dengan Danone Early Life Nutrition Country Business Unit di seluruh dunia. Pencapaian ini membuktikan posisi Advotics yang mempunyai keunggulan dalam persaingan global, serta kredibilitasnya dalam menciptakan inovasi dan penerapan teknologi yang mampu mengatasi permasalahan rumit dalam bisnis ritel.

Willson Cuaca, Managing Partner dari East Ventures, mengungkapkan, "Tren transformasi digital di dalam perusahaan tengah melanda Indonesia dengan gelombang yang besar. Kami menyaksikan adanya pergeseran yang cepat dari pasar konsumen (B2C) menjadi model B2B selama beberapa bulan terakhir. Tim Advotics berhasil mengatasi inti masalah dalam pemantauan rantai pasokan (supply chain) di Indonesia. Solusi Advotics bisa membantu para perusahaan dalam memantau pergerakan tenaga kerja dan barang-barang mereka. Data point yang dikumpulkan bisa digunakan untuk memahami peta persebaran (heatmap) dari distribusi produk dan mengefisienkan rantai pasokan. Kami percaya ini hanyalah awal dari transformasi rantai pasokan di Indonesia. Kami menyambut baik masuknya tim Advotics ke dalam ekosistem B2B dari East Ventures.”

East Ventures mempunyai pengalaman yang kuat dalam mengembangkan ekosistem teknologi pan-Asia dan mendukung para startup di masa-masa awal mereka. Hingga saat ini, East Ventures telah berinvestasi pada lebih dari 400 startup, empat di antaranya telah berkembang menjadi perusahaan Unicorn seperti Tokopedia dan Traveloka. Beberapa contoh startup sukses mereka yang lain, adalah Mercari, Warung Pintar, Fore Coffee, Disdus (diakuisisi Groupon), Kudo (diakuisi Grab), Loket (diakuisisi Gojek), Tech in Asia, Omise, IDN Media, Ruangguru, MokaPOS, ShopBack, and CoHive. 



Sumber: BeritaSatu.com