Indef Setuju Rencana Bank BUMN Syariah Dimerger

Indef Setuju Rencana Bank BUMN Syariah Dimerger
Pegawai Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) menghitung uang di Kantor Cabang Jakarta Menteng, Jakarta. (Foto: Antara / Audy Alwi)
Novy Lumanauw / FMB Jumat, 3 Juli 2020 | 20:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengajukan wacana untuk menggabung (merger) bank-bank syariah anak usaha Himbara pada Februari tahun depan. Merger dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi perbankan syariah.

Rencana itu mendapat tanggapan peneliti senior Indef, Enny Sri Hartati. Enny menilai bahwa konsolidasi perbankan BUMN harusnya sudah dilakukan sejak dulu di Indonesia.

Rencana itu sampai saat ini belum direalisasikan pemerintah. Enny menilai tidak ada yang salah atas wacana merger yang diajukan Menteri BUMN Erick Thohir, namun kondisi Indonesia saat ini, mengharuskan proses konsolidasi berjalan tepat dan hati-hati.

“Konsolidasi bank-bank itu kan sudah dari dulu mestinya dilakukan, tapi tidak dilakukan. Jadi satu poin itu adalah wacana yang bagus. Tapi konsolidasi ini juga perlu kecepatan dan ketepatan program karena saat ini sedang ada Pandemi Covid-19,” ujar Enny di Jakarta, pada Jumat (3/7/2020).

Eny menilai pemerintah perlu mengkaji lebih detail rencana merger tersebut, karena akan mengubah kelembagaan. Merger perlu dilakukan dengan persiapan matang dan terencana. Jika konsolidasi berhasil dijalankan dengan baik dan benar, maka bank-bank BUMN juga bisa dikonsolidasi seluruhnya, tidak hanya yang syariah.

“Perubahan kelembagaan harus terencana baik karena menyangkut berbagai aspek, tidak hanya sekadar digabungkan. Jika proses konsolidasi dilakukan dengan benar, jangankan yang syariah, seluruh bank BUMN konvensional juga perlu berkonsolidasi, kalau tidak kita sulit untuk bertarung dengan global,” jelas Enny.

Bank-bank syariah yang akan dimerger adalah PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri (BSM), dan PT Bank BNI Syariah. BSM memiliki fokus di segmen kredit korporasi, sedangkan BRI Syariah memiliki fokus pada penyaluran kredit di segmen UMKM. Kemudian BNI Syariah fokus ke consumer banking, menyasar milenial, dan international funding karena BNI memiliki sejumlah cabang di luar negeri.

Sepanjang Kuartal I tahun 2020, kinerja ketiga bank tersebut tercatat kokoh dalam menghadapi kondisi krisis pandemi Covid-19. BRI Syariah mengalami peningkatan pembiayaan di segmen ritel yang tumbuh 49,74% menjadi Rp 20,5 triliun. Sedangkan BNI Syariah yang baru saja menjadi Bank Buku-III pada kuartal pertama tahun ini berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih 58,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 214 miliar. Lalu BSM membukukan laba bersih sebesar Rp 368 miliar pada kuartal I-2020 di mana angka tersebut naik 51,53% dibanding periode yang sama tahun lalu (yoy)

Saat ini, Kementerian BUMN masih mengkaji lebih lanjut rencana merger tersebut. “Kita sedang coba kaji bank-bank syariah, jadi kita coba merger, Insyaallah Februari tahun depan jadi satu,” ujar Erick.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah meneken Keputusan Presiden (Keppres) terkait penggabungan dan penutupan perusahaan BUMN pada 19 Mei 2020. Nantinya, perusahaan-perusahaan plat merah tersebut akan mengalami konsolidasi, merger, rasionalisasi hingga penutupan agar kinerja BUMN secara menyeluruh bisa lebih efektif. Rencana penggabungan dan konsolidasi perusahaan ini adalah langkah Erick untuk merestrukturisasi BUMN yang sudah dilakukan sejak awal dirinya menjabat.



Sumber: BeritaSatu.com