100% Nasabah BTPN Syariah adalah Perempuan

Ibu-Ibu Lebih Peduli Kelola Keuangan Keluarga

Ibu-Ibu Lebih Peduli Kelola Keuangan Keluarga
Distribution Head II BTPN Syariah Dwiyono Bayu Winantio (kiri) dan Direktur BTPN Syariah M. Gatot Adhi Prasetyo (kanan) usai menyerahkan undangan umroh gratis kepada Cariningtyas (tengah), nasabah inspiratif prasejahtera BTPN Syariah, di kediamannya di Desa Lenggenharjo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah pada 22 Agustus 2019. ( Foto: Investor Daily / Happy Amanda Amalia )
Happy Amanda Amalia / PYA Senin, 9 September 2019 | 08:08 WIB

SEMARANG, beritasatu.com – Beberapa waktu lalu rekan-rekan wartawan dari media nasional dan lokal sempat memenuhi undangan BTPN Syariah untuk datang ke Semarang guna melihat dan berinteraksi dengan para nasabah pra-sejahtera produktif yang menjadi fokus pelayanan bank tersebut.

Selama mengikuti kegiatan tersebut, rekan-rekan wartawan diberikan informasi jika total nasabah yang dilayani oleh BTPN Syariah 100% adalah perempuan. Begitu juga dengan karyawan yang memberikan pelayanan, mayoritas didominasi oleh perempuan lulusan SMA dan SMK, walau ada juga yang dari D3 dan S1.

Menurut Direktur BTPN Syariah M. Gatot Adhi Prasetyo, dari hasil studi internal disebutkan bahwa perempuan lebih care (peduli) dengan keluarga dan umumnya mereka yang mengelola keuangan keluarga. Berawal dari hal itu, BTPN Syariah melihat bahwa para perempuan tersebut dapat menjadi pilar yang sejalan dengan visi misi bank, di mana terdapat dua business model antara sosial dengan financial business yang bertujuan memberdayakan keluarga prasejahtera.

“Saat bertemu dengan nasabah-nasabah inspiratif tadi, kita sebenarnya ingin memperlihatkan bagaimana perempuan-perempuan tadi mengelola keuangan rumah tangga dengan diberikan pembiayaan dan pendampingan dari bank, mereka juga sukses membangun mimpi keluarganya dan menjadi nasabah inspiratif,” ujarnya.

Distribution Head II Dwiyono Bayu Winantio mengungkapkan bahwa saat ini BTPN Syariah telah melayani 3,6 juta nasabah prasejahtera di 23 provinsi dan 520 kecamatan di Indonesia. Untuk kedepannya, BTPN Syariah menargetkan 5 juta nasabah aktif dengan mengutilisasi daerah-daerah yang sudah existing tanpa memperluas cakupan wilayah baru lagi.

Potensi pasar yang besar juga menjadi pertimbangan BTPN Syariah untuk masuk ke daerah-daerah, mengingat BTPN Syariah sebagau satu-satunya bank di Indonesia yang memfokuskan diri melayani keluarga prasejahtera produktif.

“Target market-nya masih sangat besar, 19 juta perempuan. Sekarang ini kita masih ada di 30% dari 19 juta atau baru kita ambil 3,2 juta dari target 5 juta tadi,” katanya.

Sedangkan dari sisi daerah yang memiliki perkembangan nasabah prasejatera paling tinggi, Gatot menyebutkan pertumbuhan paling cepat ada di Jawa Barat kemudian disusu Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Sementara itu untuk Sumatera, Kalimantan, dan Sulwesi, pertumbuhannya tidak terlalu besar karena terkendala density yang cukup menantang.

“Kalau lihat target market 19 juta tadi. Perkembangan nasabah perempuan paling besar 70% ada di pulau Jawa. Di Jawa Tengah (Jateng) hampir 7 juta, lalu Jawa Timur sekitar 5-6 juta, dan Jawa Barat juga hampir 7 juta,” tuturnya.

Di sisi lain, ada hal yang menarik di BTPN Syariah Semarang, ungkap Dwiyono, di mana sekitar 60%-70% nasabahnya merupakan nonmuslim.

“Meski kami berlabel syariah, salah satu sumber Dana Pihak Ketiga (DPK) yang kuat di Semarang datang dari komunitas Katolik. Kita satu visi, bersama-sama ingin menyejahterakan para ibu-ibu,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Dwiyono, total nasabah pendanaan berkisar 6.000 orang yang dapat menyalurkan dana ke 3,6 juta nasabah pembiayaan. Alasan mereka tertarik menyimpan dananya di BTPN Syariah karena tahu nantinya dana tersebut akan dipakai untuk membantu kebutuhan keluarga prasejahtera.

“Selain sebagai nasabah pembiayaan, kalangan ibu-ibu prasejahtera juga menjadi nasabah pendanaan BTPN Syariah. Jumlah tabungannya bahkan mencapai 20% dari total Dana Pihak Ketiga per Juni 2019 sebesar Rp8,88 triliun. Mereka menabung tiap pertemuan misalnya Rp 5.000, uang-uang itu ternyata terkumpul cukup banyak dan menjadi salah satu sumber DPK BTPN Syariah,” jelas dia.

Gatot menambahkan, karena BTPN Syariah fokus melayani nasabah maka selalu diadakan pertemuan dua minggu sekali antara sentra (kelompok) nasabah dengan para community officer (CO) atau yang dikenal dengan Melati Putih Bangsa. Walau para community officer ini didominasi oleh lulusan sekolah menengah namun mereka sudah terlatih untuk menghadapi para nasabah perempuan atau ibu-ibu.



Sumber: Investor Daily