INDEX

BISNIS-27 448.028 (-0.11)   |   COMPOSITE 5099.84 (-3.39)   |   DBX 964.111 (2.27)   |   I-GRADE 139.821 (-0.42)   |   IDX30 426.948 (0.39)   |   IDX80 113.317 (0.11)   |   IDXBUMN20 291.67 (1.28)   |   IDXG30 118.931 (0.18)   |   IDXHIDIV20 379.8 (-0.77)   |   IDXQ30 124.715 (-0.33)   |   IDXSMC-COM 219.701 (0.45)   |   IDXSMC-LIQ 255.871 (2.67)   |   IDXV30 106.644 (1.52)   |   INFOBANK15 836.821 (-6.19)   |   Investor33 373.706 (-0.97)   |   ISSI 150.561 (0.36)   |   JII 547.285 (1.18)   |   JII70 187.054 (0.33)   |   KOMPAS100 1020.57 (-1.1)   |   LQ45 786.439 (0.76)   |   MBX 1410.93 (-1.57)   |   MNC36 280.006 (-0.59)   |   PEFINDO25 280.13 (0.18)   |   SMInfra18 241.99 (-0.13)   |   SRI-KEHATI 316.197 (-0.37)   |  

Teknologi Indonesia Bantu Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim

Kamis, 5 Desember 2019 | 16:22 WIB
Oleh : Asni Ovier / AO

Madrid, Beritasatu.com - Pemerintah Indonesia terus memperbarui teknologi pemantauan cuaca dan iklim. Langkah ini penting agar kebijakan mitigasi perubahan iklim bisa ditentukan dengan tepat. Pembaruan teknologi itu juga penting untuk menentukan aksi-aksi adaptasi perubahan iklim yang diperlukan.

Kepala Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, gejala perubahan iklim sudah terjadi. Salah satunya bisa dilihat dari fenomena iklim El Nino dan La Nina.

"Secara statistik periode ulang terjadinya El Nino-La Nina pada periode 1981-2019 mempunyai kecendrungan berulang semakin cepat dibandingkan periode 1950-1980,” ujar Dwikora saat menjadi pembicara di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim COP UNFCCC ke-25 di Madrid, Spanyol, Rabu (4/12/2019).

Dwikora mengatakan, perubahan iklim yang terjadi adalah buntut dari terus meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Dia menjelaskan, konsentrasi GRK tercatat paling tinggi dalam sejarah dengan CO2 (karbondioksida) mencapai 405.5 ppm (part per million), CH4 (metana) sebanyak 1859 ppb (part per billion) and N2O (dinitrogen monoksida) mencapai 329.9 ppb. Catatan tersebut berarti konsentrasi GRK sudah mencapai masing-masing 146%, 257% dan 122% di atas masa pra revolusi industri.

Menghadapi situasi tersebut, katanya, Indonesia terus memperbaiki teknologi pemantauan iklim dan cuaca. Sistem observasi yang ada di lapangan diperkuat dengan dukungan sistem informasi. Ini bisa memberikan hasil pemantauan iklim dan cuaca sesuai kebutuhan masyarakat.

Berkat pembaruan teknologi pemantauan itu, prediksi yang awalnya hanya bisa dalam jangka waktu tiga sampai empat dasarian -sepuluh harian berturut turut-, kini bisa dilakukan hingga tiga bulan ke depan. Indonesia kini juga bisa membangun sistem peringatan dini cuaca dan iklim mulai dari prediksi terjadinya banjir, kekeringan, hingga kemungkinan mewabahnya penyakit demam berdarah akibat perubahan iklim.

Dwikorita mengingatkan, penggunaan teknologi pemantauan terbaru penting agar masyarakat yang terdampak perubahan iklim juga bisa melakukan adaptasi. Petani dan nelayan adalah pihak yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

Dia menjelaskan, petani Indonesia dulu berpegangan pada pengetahuan lokal yang disebut pranoto mongso. Pengetahuan ini memberi panduan petani terkait waktu tanam, jenis tanaman dan berbagai hal tentang budidaya pertanian lainnya. “Namun perubahan iklim telah membuat disrupsi pranoto mongso. Ketika masuk waktu tanam, malah tidak bisa karena tidak turun hujan,” ucapnya.

Merespons situasi tersebut sudah dikembangkan Sekolah Lapang Iklim (SLI) untuk meningkatan adaptasi petani dan nelayan terhadap perubahan iklim. Petani akan dibimbing untuk mengembangkan pola budidaya pertanian baru menyesuaikan perubahan iklim yang terjadi. Sementara nelayan akan mendapat pembinaan sehingga bisa memahami cuaca lautan lebih baik dan mengetahui lokasi keberadaan ikan (fishing ground) “Ini mengubah paradigma nelayan dari ‘mencari ikan’ menjadi ‘menangkap ikan’,” tuturnya.

Rawan Bencana

Sementara itu, Kepala Badan Informasi dan Geospasial (BIG) Prof Hassanuddin Z Abidin mengatakan, informasi geospasial sangat bermanfaat untuk manajemen pengurangan risiko kebencanaan.

Menurut Hassanudin, Indonesia secara alami rawan dengan berbagai bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi. Bencana alam terkait hidrometerologi, seperti banjir, longsor, serta kekeringan dan kebakaran lahan menjadi tren pada periode tahun 2003-2018. Padahal, sekitar 40% penduduk Indonesia tinggal di wilayah rawan bencana. “Informasi spasial seperti peta dasar dan tematik mendukung pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

Informasi tentang kebencanaan disampaikan melalui Portal Geospasial (http://tanahair.indonesia.go.id/portal-web). Sumber data informasi tersebut berasal dari masing-masing kementerian, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Portal ini merupakan upaya pemerintah untuk membangun transparansi data dan informasi melalui kebijakan One Map Policy yang antara lain menghasilkan Satu Data rujukan nasional

Program yang dilaksanakan oleh BMKG dan BIG tersebut, sejalan dengan upaya KLHK dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim dan penerapan pola hidup rendah emisi GRK melalui pelaksanaan Program Kampung iKlim (ProKlim). Saat ini, 2086 lokasi setingkat desa/kelurahan dan dusun/RW telah teregistrasi sebagai Kampung Iklim.

Hassanudian melanjutkan, pihaknya juga bisa menyediakan informasi terkait cadangan karbon di lapangan untuk mendukung diperolehnya kebijakan pengelolaan lahan yang tepat.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kunjungi Wamena, Wakil Menteri PUPR Pastikan Rekonstruksi Pascakerusuhan Berjalan Lancar

Ia memastikan proses rekontruksi 403 unit ruko akan segera berjalan dilakukan pengusaha lokal yang dikoordinasikan oleh Gapensi Jayawijaya.

NASIONAL | 5 Desember 2019

Otak Bom Medan Ditahan di Jakarta

“Diambil alih Densus dan dibawa ke Jakarta,” kata Kapolres Medan Kombes Dadang Hartanto.

NASIONAL | 5 Desember 2019

Jaga Ekosistem, Sarinah Gelar Green Sarinah-Eco Fashion

Dengan kesamaan visi dalam menjaga ekosistem, Kamis–Sabtu (5–7 Desember 2019) PT Sarinah (Persero) melalui Sarinah The Window of Indonesia bekerja sama dengan Eco Fashion Indonesia menggelar kegiatan Green Sarinah x Eco Fashion Indonesia yang bertajuk “ Sustainable Green”

NASIONAL | 5 Desember 2019

Kopi Kerinci Tembus Pasar Eropa

Petani Kerinci yang tergabung dalam KT dan KUD Barokah, Kayuaro sudah mengekspor perdana 16 ton kopi jenis Arabika spesialti ke Belgia.

NASIONAL | 5 Desember 2019

Pembangunan Infrastruktur Harus Menunjang Kesejahteraan Masyarakat

Jokowi meminta agar seluruh infrastruktur harus dihubungkan dengan sentra-sentra produksi.

NASIONAL | 4 Desember 2019

Wawan Dipindah ke Lapas Cipinang

Pemindahan ini surat yang diterbitkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM (Ditjenpas Kemkumham).

NASIONAL | 5 Desember 2019

Dana Desa Dikorupsi, Kades dan Bendahara di Kulonprogo Tersangka

Dana desa yang diselewengkan tersebut sejak tahun anggaran 2014 hingga 2018 bersumber dari APBDes, APBN, dan bantuan Pemkab Kulonprogo.

NASIONAL | 5 Desember 2019

Ali Ngabalin: Investor Harus Mendapat Kepastian Hukum

Indonesia harus menjemput investor asing dan memberikan kepastian hukum kepada mereka.

NASIONAL | 5 Desember 2019

Wawan Siap Lakukan Pembuktian Terbalik

Kubu Wawan akan membuktikan dakwaan jaksa KPK keliru.

NASIONAL | 5 Desember 2019

Rumah Belajar JICT Dorong Pemberdayaan Anak Putus Sekolah

Rumah Belajar (Rumbel) JICT menggelar jambore rutin tahunan dengan tema 'Be an Excellent Example' di Bogor.

NASIONAL | 5 Desember 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS