SvargaBumi, Sawah yang Naik Kelas Menjadi Magnet Wisatawan
INDEX

BISNIS-27 503.107 (8.47)   |   COMPOSITE 5679.25 (80.67)   |   DBX 1039.52 (14.71)   |   I-GRADE 166.189 (3.47)   |   IDX30 492.322 (9.09)   |   IDX80 129.082 (2.66)   |   IDXBUMN20 363.759 (7.86)   |   IDXG30 133.243 (2.59)   |   IDXHIDIV20 440.08 (10.13)   |   IDXQ30 143.762 (2.86)   |   IDXSMC-COM 242.127 (2.51)   |   IDXSMC-LIQ 293.644 (5.57)   |   IDXV30 123.61 (3.35)   |   INFOBANK15 979.67 (10.23)   |   Investor33 423.592 (6.88)   |   ISSI 165.745 (2.98)   |   JII 604.859 (14.26)   |   JII70 207.745 (4.44)   |   KOMPAS100 1155.02 (20.8)   |   LQ45 903.46 (17.32)   |   MBX 1578.72 (22.44)   |   MNC36 316.411 (5.51)   |   PEFINDO25 310.113 (3.58)   |   SMInfra18 286.549 (5.46)   |   SRI-KEHATI 362.507 (5.51)   |  

SvargaBumi, Sawah yang Naik Kelas Menjadi Magnet Wisatawan

Selasa, 22 September 2020 | 10:36 WIB
Oleh : Stefy Thenu / AO

Magelang, Beritasatu.com - Sawah identik dengan petani, yang dengan pakaian lusuh penuh lumpur, berjibaku menanam padi. Sawah biasanya menjadi tempat yang tak menarik minat orang kebanyakan. Jangankan untuk mengolahnya, mengunjunginya pun malas.

Tetapi, di Magelang, Jawa Tengah, sawah justru menjadi magnet dan selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan. Mulai artis, pejabat, hingga kalangan milenial, semuanya berramai-ramai berkunjung ke sawah tersebut.

Sawah yang sudah "naik kelas" menjadi destinasi wisata unggulan itu adalah SvargaBumi di Magelang. Sejak dibuka pada 8 Agustus 2020, SvargaBumi menjadi persawahan yang ramai dikunjungi wisatawan dan viral di media sosial. Objek wisata ini berada di Dusun Ngaran dan Gopalan, Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Konsep wisata alam yang diusung terbilang sangat menarik. Di tengah-tengah sawah dibuat banyak lokasi foto yang instagramable. Terdapat sedikitnya 22 spot foto, yang seluruhnya diwarnai putih dan kontras dengan warna hijau tanaman padi di sekitarnya. Ada ayunan, kursi gantung, area bean bag (kantung kacang), ranjang jaring, hingga kolam estetik. Bagi wisatawan yang ingin berpose di kolam, pengelola menyediakan floating breakfast yang hits dan kekinian.

Kendati membangun 22 spot foto yang modern, pengelola memastikan bahwa pelestarian sawah tetap terjaga. Agar lahan sawah tidak terinjak-injak, para wisatawan bisa melintasi jalan yang dibuat dari kayu.

Pengelola SvargaBumi menyewa lahan seluas 4 hektare dari petani setempat, terdiri atas lahan sawah 3 hektare dan satu hektare untuk parkir. Sekitar 60%-70% tenaga kerja merupakan warga Borobudur. Sedangkan, 30% pekerja adalah masyarakat dari desa dan kecamatan di sekitarnya.

Yang tambah memikat tempat itu adalah lokasinya yang hanya 300 meter dari Candi Borobudur, membuat SvargaBumi begitu eksotis. Wisatawan mendapat dua keuntungan sekaligus, yakni bisa berfoto dengan latar belakang persawahan, juga Candi Borobudur.

Suasana sawah dengan pemandangan alam pedesaan di kawasan objek wisata Candi Borobudur menjadikan SvargaBumi sebagai destinasi wisata yang sangat eksotis. Tak heran jika objek wisata ini segera menyedot perhatian pengunjung dalam tempo relatif singkat.

Selain bisa berfoto, para pengunjung juga dapat melihat aktivitas petani yang sibuk menggarap sawah mereka setiap hari. Seperti tidak terusik dengan ramainya pengunjung, para petani itu tetap santai menggarap sawah. Wisatawan dapat menikmati tanaman padi yang mulai berisi atau sawah yang baru ditanami bibit padi.

"Tema SvargaBumi adalah pelestarian alam dengan nilai tambah. Jadi, kami tetap mempertahankan sawah sebagai tempat bercocok tanam dan memberikan nilai tambah dengan mendatangkan wisatawan," kata penggagas SvargaBumi, Putranto Cahyono kepada Beritasatu.com, Selasa (22/9/2020).

Masih Milik Petani
Pungky, sapaan akrab Putranto Cahyono mengatakan, destinasi wisata itu dikonsep sejak Juli 2019. Karena tak ingin hanya Candi Borobodur yang menjadi jujugan (tempat yang dituju) wisatawan, dia memutar otak dengan mengembangkan destinasi baru. Dengan tetap mempertahankan Candi Borobudur sebagai ikon, dia menyulap sawah yang biasanya hanya untuk bercocok tanam, menjadi destinasi wisata unggulan.

"Sawah-sawah ini masih 100% milik petani, jadi kami menyewa sawah ini dari mereka. Tetapi, mereka tetap bisa menggarap sawah, bahkan kami menyuplai keperluan mereka, mulai air, pupuk hingga bibit bagi petani untuk terus menanam di sini. Saat panen, kami tidak meminta sedikit pun hasilnya. Semua hasil panen tetap utuh milik mereka," jelas Pungky.

Dengan kerja sama itu, para petani tidak dirugikan dengan aktivitas destinasi wisata yang ada di sana. Justru, mereka menjadi lebih produktif, karena pengairan, bibit serta pupuk disediakan olehnya sebagai pengelola.

"Ada 30-an petani yang memiliki lahan seluas 4 hektare ini. Semuanya tetap bisa bekerja seperti biasa dan itu yang menjadi nilai tambah pariwisata ini, karena tetap terlihat alami. Itu yang menjadi nilai jual tempat ini," jelasnya.

Pungky mengakui, awalnya tidak mudah melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk memaparkan konsep wisata sekaligus pelestarian alam. Pihaknya harus menemui para pemilik lahan, petani penggarap, perangkat desa, hingga tokoh masyarakat setempat untuk kulo nuwun (meminta izin).

"Kami meyakinkan mereka bahwa wisata ini sekaligus untuk melestarikan alam. Pemilik masih bisa menikmati hasil panen, petani penggarap masih bekerja seperti biasa, masih ditambah lahan mereka kami sewa. Jadi tidak ada yang dirugikan, namun sama-sama saling menguntungkan. Yang penting adalah dampak ke masyarakat harus bagus," ungkap Pungky.

Dikatakan, yang menjadi tantangan adalah soal pengairan. Karena sawah di sini merupakan sawah tadah hujan, maka pihaknya harus selalu menjaga ketersediaan air. Hal itu sangat penting, karena konsep dari wisata ini adalah pelestarian alam. Pola tanam diatur sedemikian rupa, dengan tidak menanam padi dalam waktu yang bersamaan.

"Jadi menanam secara bergantian, namun berkesinambungan. Di sini panen, di sana tanam, ada juga yang tumbuh, sehingga selalu terjaga," katanya.

Pihaknya juga ikut memberdayakan ekonomi warga. Mereka dibuatkan kios untuk berjualan tanpa dipungut biaya apa pun. Bahkan, pemuda desa setempat juga diberi kesempatan mengelola toilet, dengan standar yang sudah ditentukan oleh pihak manajemen. "Hasilnya 100% untuk mereka. Ini memang iktikad kita memberdayakan masyarakat setempat," imbuhnya.

Surga yang Turun ke Bumi
Pungky menuturkan, nama SvargaBumi dipilih dengan harapan agar lokasinya menjadi tempat yang indah laksana surga yang turun ke bumi. SvargaBumi dibangun agar menjadi tempat wisata alternatif bagi wisatawan yang mengunjungi Candi Borobudur.

Selama ini, Borobudur menjadi magnet yang menyedot wisatawan nusantara maupun mancanegara. Maka, kehadiran SvargaBumi diharapkan menjadi pilihan menu lain bagi wisatawan, sehingga melengkapi perjalanan wisata mereka ke Jawa Tengah.

Untuk menikmati wisata di SvargaBumi, pengunjung dipungut tiket masuk sebesar Rp 25.000 untuk dewasa dan Rp 15.000 untuk anak-anak. Tempat wisata itu buka setiap hari, kecuali hari Kamis, mulai pukul 08.00 WIBhingga 17.00 WIB. Minggu buka dari pukul 06.30 WIB hingga 18.00 WIB. Rata-rata wisatawan yang datang mengetahui tempat ini dari media sosial.

"Kami ada sehari waktu libur, yakni setiap Kamis. Tetapi, kalau Kamis itu pas tanggal merah, kami tetap buka. Setiap hari, sekitar 200-an pengunjung yang datang ke sini," ungkapnya.

Di masa pandemi Covid-19, pengelola mewajibkan para pengunjung untuk memakai masker dan setiap pengunjung yang masuk diukur suhu tubuhnya dengan thermogun. Di pintu masuk juga disediakan air dan sabun cair untuk mencuci tangan. Pengelola juga membatasi jumlah wisatawan yang masuk, menjadi hanya 50% dari total kapasitas pengunjung yang mencapai 1.500 orang hingga 2.000 orang.

Ery Notonegoro, wisatawan dari Kota Semarang yang berwisata ke tempat itu mengaku takjub dan menikmati panorama alam persawahan. Bersama istri dan anak-anaknya, Ery menghabiskan waktu hingga waktu kunjung berakhir. Seluruh lokasi berfoto dilahapnya habis.

"Karena, yang mau berfoto banyak, ya, harus sabar antre agar bisa berfoto-foto. Baru kali ini, saya merasakan wisata sawah yang betul-betul mengasyikan dan memorable," ujar Ery.

Tempat wisata SvargaBumi yang kini viral di media sosial itu juga menarik perhatian Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Saat mengikuti ajang Tour de Borobudur belum lama ini, Ganjar menyempatkan mampir ke SvargaBumi.

Tak hanya mengajak istri dan rombongan sepedanya, Ganjar juga mengajak artis nasional, Nirina Zubir dan suaminya, Ernest. Mereka begitu menikmati konsep wisata yang unik dan jarang ditemui di tempat lain, apalagi lokasinya dekat dengan Borobudur.

"Ini kreatif sekali. Mas Pungky dengan kejeliannya ternyata bisa membangun tempat seindah ini, yang memiliki dua kelebihan, selain membangun destinasi wisata yang unik dan menarik serta mengikuti tren, cara bekerjanya juga menarik karena bekerja sama dengan petani. Jadi, dia menyewa lahan dari petani, tetapi petaninya tetap bisa menggarap sawah mereka," kata Ganjar.

Ganjar optimistis tempat itu akan semakin ramai dikunjungi wisatawan. Dia berpesan, agar protokol kesehatan tetap dilaksanakan agar semuanya aman. "Juga nanti bisa dikembangkan, tidak hanya foto, tetapi pengunjung juga bisa mendapatkan pengalaman bertani. Apakah ikut menanam padi, membajak sawah, mencangkul dan sebagainya. Itu sesuatu yang sangat menarik," tandasnya.

Bagi penggiat dan pelaku pariwisata Jawa Tengah, Benk Mintosih, di masa pandemi ini, wisata alam pegunungan hingga persawahan seperti SvargaBumi memang tengah naik daun. Animo wisatawan terbilang tinggi, karena masyarakat yang butuh pelesiran di tengah tekanan pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir.

Belum lagi, intervensi media sosial yang ikut berperan mengangkat fenomena objek wisata sawah ke ruang publik, sehingga sawah yang semula terkesan kumuh berubah menjadi magnet baru wisatawan. "Kuncinya, kreativitas dan jeli membaca peluang. Sedikit saja kreativitas itu ramai diperbincangkan di jagat media sosial, maka tempat itu dijamin viral dan ramai dikunjungi," ujar Benk.

Upaya Pungky yang menjadikan sawah “naik kelas” menjadi magnet wisata, ternyata bukan hal baru. Di Jawa Tengah, ada sejumlah objek wisata yang mengambil sawah sebagai ikon wisata untuk memikat wisatawan.

Di Grobogan, ada WTS atau Wisata Tengah Sawah. Ada Sungai Bladon di tengah persawahan di Brangsong, Kendal. Lalu, ada Wisata Sawah Wates di Mandiraja, Banjarnegara. Kemudian, Jembatan Sawah Lemah Ijo dan Warung Sawah di Banyubiru, Kabupaten Semarang.

Selanjutnya, ada Desa Wisata Kemetul, Susukan, Kabupaten Semarang. Ada pula, Spot Foto Sawah Kajoran di Magelang atau Pemancingan Gebyar Sumyah dan Kampung Wisata Sawah di Mijen, Kota Semarang, dan Wisata Sawah Segaran, Jekulo, Kabupaten Kudus.

Semuanya mengangkat sawah menjadi ikon wisata yang menggiurkan animo wisatawan. Tetapi, dari semuanya itu, SvargaBumi yang sejauh ini berhasil membuktikan viral di media sosial dalam tempo singkat dan menjadi magnet para penikmat wisata, utamanya para penggila swafoto.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kemparekraf Bantu Pebisnis Kriya Hadapi Pandemi Covid-19

Kemparekraf membuka masterclass pemasaran digital secara gratis untuk kalangan pebisnis kriya.

GAYA HIDUP | 21 September 2020

MOFP 2020 Kembangkan Potensi Desainer Muda Indonesia

Kompetisi desain fashion muslim Modest Fashion Project (MOFP) kembali digelar.

GAYA HIDUP | 21 September 2020

Minuman Magic Pertama di Indonesia, Ada di Kopi Wolu

Menggunakan susu low fat dan cream cheese low fat, Kopi Wolu menghadirkan racikan minuman magic pertama di Indonesia.

GAYA HIDUP | 21 September 2020

Kampung Kawa, Ikon Baru Pariwisata Flores

Kawa akan bersaing dengan Bena dan Waerebo, bahkan bisa melampauinya.

GAYA HIDUP | 20 September 2020

Selain Bunaken, Olly Sebut Keindahan Mangatasik Tak Kalah Menawan

Provinsi Sulut memiliki banyak spot destinasi wisata bawah laut yang menawan.

GAYA HIDUP | 19 September 2020

Imbas Pandemi, Isyana Sarasvati Rajin Masak untuk Suami

Isyana didapuk menjadi brand ambassador Masako.

GAYA HIDUP | 19 September 2020

Ayudia C Kembali Hadirkan 50 Gaya Hijab Minimalis

Ayudia C melibatkan warganet dan menggali apa yang dibutuhkan untuk menunjang gaya modest mereka sehari-hari dalam adaptasi kebiasaan baru.

GAYA HIDUP | 19 September 2020

Ajinomoto Tunjuk Isyana Sarasvati sebagai Brand Ambassador Masako

PT Ajinomoto Indonesia memilih penyanyi Isyana Sarasvati sebagai brand ambassador baru untuk produk bumbu penyedap rasa Masako.

GAYA HIDUP | 19 September 2020

Bali I Miss U Ajak Wisatawan Berwisata dengan Protokol Kesehatan

Kampanye Bali I Miss U diluncurkan untuk mengajak masyarakat patuh berwisata sehat dengan menerapkan protokol kesehatan berkonsep Cleanliness, Health, Safety, Environmental Sustainability (CHSE) atau Kebersihan, Kesehatan, Keamanan, dan Ramah Lingkungan sesuai arahan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

GAYA HIDUP | 18 September 2020

Burger King Luncurkan Whooper Tanpa Pewarna Sintetis dan Penyedap Rasa

Restoran Burger King meluncurkan varian baru Whopper yang dibuat tanpa pewarna sintetis dan penyedap rasa.

GAYA HIDUP | 18 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS