Australia Tawarkan Suaka untuk Penduduk Hong Kong

Australia Tawarkan Suaka untuk Penduduk Hong Kong
PM Australia Scott Morrison (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Natasia Christy Wahyuni / JAI Jumat, 3 Juli 2020 | 15:20 WIB

Sydney, Beritasatu.com - Australia secara aktif menawarkan suaka untuk penduduk Hong Kong sebagai tanggapan atas penerapan Undang-undang (UU) Keamanan Nasional terbaru oleh Tiongkok.

Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison, Kamis (2/7/2020), mengatakan situasi di kota itu sangat memprihatinkan dan pemerintahnya secara aktif mempertimbangkan usulan untuk menyambut penduduk di wilayah bekas jajahan Inggris tersebut.

Saat ditanya wartawan apakah tawaran tempat perlindungan itu bisa diperpanjang, Morrison mengiyakan. Menurutnya, langkah itu akan segera dipertimbangkan oleh kabinetnya, mengisyaratkan bahwa hal itu akan disetujui.

“Kami pikir penting dan sangat konsisten dengan siapa kami sebagai manusia,” ujar Scott Morrison.

Pernyataan Scott Morrison disampaikan sehari setelah Inggris mengumumkan rute baru bagi mereka yang berstatus pemegang paspor British National Overseas (BN). Pemegang paspor itu bersama keluarganya bisa pindah ke Inggris, bahkan mengajukan kewarganegaraan.

Hong Kong berada di bawah yurisdiksi Inggris sampai diserahkan kembali ke Tiongkok pada 1997 dengan jaminan bahwa Beijing akan menjaga otonomi yudikatif dan legislatif selama 50 tahun.

Pada Selasa (30/6/2020), Tiongkok mengesahkan Undang-Undang Keamanan Nasional untuk Hong Kong. Pengesahan UU tersebut telah menjawab ketidakpastian dengan memaksa Hong Kong ke jalur lebih otoriter. Aktivis menyatakan UU baru tersebut telah melanggar prinsip “satu negara, dua sistem” yang secara formal masuk sebagai hukum internasional pada 1984.

Pada Rabu (1/7/2020), polisi Hong Kong menembakkan meriam air dan gas air mata, serta menangkap lebih dari 300 orang saat demonstran memenuhi jalan untuk menentang UU keamanan nasional.

Ribuan demonstran berkumpul untuk menandai peringatan penyerahan kota bekas jajahan Inggris itu kepada Tiongkok pada 1997. Polisi anti-huru-hara memakai tembakan merica serta melakukan penangkapan di tengah kerumunan yang meneriakkan “bertahan sampai akhir” dan “kemerdekaan Hong Kong”.

“Saya takut dipenjara, tapi untuk keadilan saya harus keluar hari ini, saya harus bertahan,” kata seorang pria berusia 35 tahun yang mengaku bernama Seth.

Polisi menembakkan meriam air untuk membubarkan kerumunan, lalu menangkap sekitar 300 orang karena melakukan perkumpulan tidak sah, pelanggaran, kepemilikan senjata, dan melanggar UU baru.

“Anda menunjukkan bendera atau spanduk, meneriakkan slogan atau melakukan tindakan dengan maksud pemisahan diri atau subversi, yang merupakan pelanggaran di bawah hukum keamanan nasional,” bunyi pengumuman polisi dalam spanduk berwarna ungu.



Sumber: Suara Pembaruan