Pembukaan Pabrik-pabrik Lambat, Tiongkok Diperkirakan Kontraksi 3,9%

Pembukaan Pabrik-pabrik Lambat, Tiongkok Diperkirakan Kontraksi 3,9%
Petugas bersiap menjemput pasien tertular virus korona di Tiongkok. ( Foto: AFP )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Senin, 24 Februari 2020 | 11:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sebagian perusahaan-perusahaan Tiongkok belum dibuka kembali sejak wabah virus korona melanda Negeri Tirai Bambu tersebut. Dalam analisa J.P. Morgan yang diterima Beritasatu.com, operasionalisasi kembali perusahaan-perusahaan di Tiongkok ini berjalan lebih lambat dari perkiraan dan bakal menyebabkan kontraksi di kuartal pertama.

"Pembukaan kembali pabrik-pabrik terhambat masalah kekurangan tenaga kerja, pembatasan transportasi, jadwal pembukaan kembali yang tidak sinkron menyebabkan gangguan rantai pasok, dan kriteria yang ketat sebelum beroperasi kembali," demikian disampaikan Elisa Chow, analis J.P. Morgan, hari ini, Senin (24/2/2020).

Menurut Chow, melambatnya aktivitas produksi di Tiongkok akan menyebabkan kontraksi 3,9 persen di kuartal pertama tahun ini (q/q). Proyeksi sebelumnya yaitu pertumbuhan 1 persen q/q. Chow meyakini, perekonomian Tiongkok akan pulih secepatnya pada kuartal kedua.

Baca juga: Moody's: Akibat Coronavirus, Rantai Pasok Global Terganggu

Dalam minggu yang dimulai sejak 10 Februari, konsumsi batu bara pembangkit listrik utama berada 40 persen di bawah rata-rata historikal, transaksi properti juga 90 persen di bawah rata-rata, arus perjalanan lebih rendah 50 persen dibanding 2019, data pengiriman kapal JPM in-house Big Data Shipping Index (BIDSI) turun 50 persen.

Sektor teknologi informasi dan jasa keuangan sudah mulai beroperasi kembali, tetapi sektor industri belum sepenuhnya beroperasi. Sekitar 80 persen BUMN dan perusahaan terbuka sudah beroperasi kembali, tetapi sektor usaha mikro, kecil dan menengah masih kesulitan.

Pekan lalu, indikator-indikator ekonomi -seperti transaksi properti, konsumsi batu bara, arus transportasi, dan BIDSI- menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meskipun belum berada di level rata-rata historikal.

Jika penutupan pabrik-pabrik terus berlanjut, maka perekonomian Tiongkok akan berdampak secara makro, seperti kredit macet, kebangkrutan, pengangguran, berkurangnya pendapatan dan ketidakstabilan sosial.

Chow berharap Pemerintah Tiongkok memberikan stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dia juga memperkirakan wabah ini akan bisa ditangani dalam satu-dua bulan ke depan, sehingga dampak jangka panjang akan terbatas.

Baca juga: Dampak Virus Korona, IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global

Secara terpisah, Tapas Strickland, analis dari National Australia Bank (NAB), mengatakan menurunnya konsumsi batu bara dan tidak beroperasinya pabrik-pabrik menyebabkan dampak positif terhadap lingkungan, di mana tingkat pencemaran udara turun hingga 25 persen sejak awal tahun.



Sumber: BeritaSatu.com