Malaysia Akan Larang Penjualan Rokok Elektrik

Malaysia Akan Larang Penjualan Rokok Elektrik
Pegolf asal Thailand, Kiradech Aphibarnrat, menghembuskan asap dari rokok elektrik, saat mengikuti turnamen golf di Kuala Lumpur, Malaysia. Pada Kamis (17/10/2019), Pemerintah Malaysia, mengeluarkan peraturan terbaru yang melarang penggunaan rokok elektrik. (Foto: AFP / Mohd Rasfan)
Natasia Christy Wahyuni / JAI Jumat, 18 Oktober 2019 | 15:42 WIB

Kuala Lumpur, Beritasatu.com - Malaysia akan mengeluarkan peraturan yang melarang penjualan dan penggunaan rokok elektrik.

Peraturan yang sudah mencapai tahap finalisasi itu, juga melarang promosi dan iklan seluruh produk rokok, termasuk rokok elektrik dan vaporizer.

Menteri Kesehatan Malaysia Dzulkefly Ahmad, mengatakan larangan penggunaan rokok elektrik tersebut, didasarkan pada kajian yang menunjukkan meningkatnya kematian di Amerika Serikat (AS) terkait rokok elektrik dan vaping.

Pekan lalu, otoritas AS melaporkan 29 kematian dan 1.299 kasus penyakit pernafasan terkait dengan penggunaan rokok elektrik dan vaporizer. Terkait dengan itu, Kementerian Kesehatan Malaysia telah membentuk satu komite untuk menyelidiki persoalan penggunaan rokok elektrik dan dampaknya.

Dzulkefly Ahmad mengungkapkan, untuk tahap awal, peraturan yang akan segera dikeluarkan Kementerian Kesehatan Malaysia melarang penggunaan seluruh produk rokok, termasuk rokok elektrik dan vaporizer, bagi anak-anak di bawah umur serta melarang promosi dan iklannya.

Namun jika hasil kajian dari komite tersebut menunjukkan dampak negatif penggunaan rokok elektrik seperti yang ditemukan di AS, maka Kementerian Kesehatan Malaysia kemungkinan akan memutuskan untuk memberlakukan larangan total penjualan rokok elektrik dan vape, tanpa batasan usia.

“Studi terperinci dibutuhkan untuk meninjau perlunya pemberlakuan larangan total penjualan rokok elektrik dan vape,” kata Dzulkefly Ahmad, di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (17/10/2019).

Saat ini, lanjutnya, penggunaan produk-produk tembakau di Malaysia sudah diatur berdasarkan Undang-undang (UU) Pangan, sedangkan cairan vaporiser yang mengandung nikotin sudah dilarang sejak 2015.

Namun, tidak ada peraturan khusus untuk penjualan dan penggunaan vaporizer non-nikotin dan rokok elektrik. Industri vaping dunia, yang mengalami pertumbuhan pesat, telah menghadapi peningkatan reaksi publik karena maraknya penggunaan di kalangan anak-anak muda.

Kalangan Pelajar

Vaping saat ini justru mewabah di kalangan pelajar menengah dan atas, namun tidak ada peningkatan di kalangan dewasa di AS jika dibandingkan antara 2014 dan 2018. Vaping menggunakan cairan yang dipanaskan sampai menjadi uap lalu dihirup oleh penggunanya.

Angka penggunaan vaping telah menurun dari 2014 ke 2017, sebelum kenaikan yang sebagian besar disumbangkan oleh anak-anak muda berusia 18-24 tahun. Pada kelompok umur tersebut, prevalensi penggunaan rokok elektrik naik dari 5,2% pada 2017 dan 7,6% pada 2018.

“Kami menemukan bahwa penurunan penggunaan rokok elektrik saat ini diantara orang-orang dewasa berlanjut dari 2014 ke 2017, tapi terbalik antara 2017 dan 2018,” kata para peneliti dalam artikel yang dipublikasikan dalam jurnal Pengobatan Internal, JAMA.

“Peningkatan signifikan antara 2017 dan 2018 terjadi diantara orang-orang dewasa muda, tapi peningkatan semacam itu terjadi di usia paruh baya atau lebih tua,” tambah pernyataan itu.

Peningkatan prevalensi vaping dari 2017-2018 juga diamati diantara laki-laki, individu yang diidentifikasi sebagai orang Asia non-Hispanik, mereka dengan pendapatan keluarga setidaknya empat kali lebih tinggi daripada tingkat kemiskinan, dan bekas perokok tembakau.

Data berasal dari survei tahunan, yaitu Survei Wawancara Kesehatan Nasional, yang dilakukan oleh Pusat Statistik Kesehatan, yang merupakan bagian dari Pusat AS untuk Kontrol Penyakit dan Pencegahan.

Pada September 2019, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS mengungkapkan 27,5% pelajar sekolah atas saat ini menjadi pengguna rokok elektrik pada 2019.

Angka itu naik dari 20,8% pada 2018 dan 11,7% pada 2017. Survei terpisah yang hasilnya dikeluarkan bulan lalu juga menunjukkan anak-anak tingkat 8, 10, dan 12 yang menggunakan rokok elektrik meningkat dua kali lipat dari tahun 2017 ke 2019.

 

 



Sumber: Suara Pembaruan