Pemimpin Hong Kong Dorong Dialog dan Peringatkan Risiko Ekonomi Anjlok

Pemimpin Hong Kong Dorong Dialog dan Peringatkan Risiko Ekonomi Anjlok
Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 21 Agustus 2019 | 21:12 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com- Pemimpin Hong Kong Carrie Lam menyatakan perekonomian Hong Kong menghadapi resiko penurunan karena aksi protes berminggu-minggu untuk menentang Rancangan Undang-undang (RUU) Ekstradisi. Lam menyatakan kesediaannya berbicara dengan demonstran untuk mempersempit perbedaan.

Ratusan ribu demonstran menggelar aksi secara damai di tengah hujan deras memasuki unjuk rasa minggu ke-11. Kemarahan masyarakat Hong Kong dipicu oleh RUU Ekstradisi yang mengizinkan tersangka kota itu diekstradisi ke Tiongkok untuk diadili, namun kini RUU itu sudah ditangguhkan.

“Saya sungguh-sungguh berharap ini adalah awal dari masyarakat kembali ke kedamaian dan menjauh dari kekerasan,” kata Lam dalam konferensi pers hari Selasa (20/8).

Lam menyatakan akan mulai membangun platform untuk dialog. “Dialog ini, saya berharap, akan berdasarkan saling pengertian dan menghormati, serta menemukan jalan keluar untuk Hong Kong hari ini,” ujarnya.

Lam mengulangi risiko dampak aksi protes berbulan-bulan di Hong Kong, menyebutkan bahwa sejak pertengahan pertama tahun ini belum sepenuhnya mencerminkan keseriusan situasi ekonomi di pusat keuangan Asia itu.

Lebih Buruk

Namun, menurut Lam, perekonomian Hong Kong akan terdampak dari berbulan-bulan protes dan situasinya bisa lebih buruk dari angka yang terlihat sejauh ini.

“Ekonomi Hong Kong menghadapi risiko penurunan. Kita bisa melihat ini dari data di pertengahan pertama. Sebenarnya, saya pikir data di pertengahan pertama belum sepenuhnya mencerminkan keseriusan masalah,” katanya.

Pekan lalu, Pemerintah Hong Kong mengumumkan perkiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi antara 0-1 persen dari angka asli sekitar 2-3 persen.

Berbagai sektor dilaporkan telah terdampak, dan pasar terpukul keras karena demonstrasi berubah menjadi kekerasan. Penurunan penjualan terutama terjadi pada sektor penerbangan, ritel, dan real estate.

Bandara Internasional Hong Kong, salah satu bandara tersibuk di dunia, membatalkan ratusan penerbangan pada awal Juni 2019 karena demonstran menyerbu fasilitas tersebut. Sistem transportasi publik juga terganggu beberapa kali.



Sumber: Suara Pembaruan