Militer Tiongkok Gelar Latihan Dekat Perbatasan Hong Kong

Militer Tiongkok Gelar Latihan Dekat Perbatasan Hong Kong
Truk dan pengangkut personel lapis baja terlihat di luar stadion Teluk Shenzhen di Shenzhen, berbatasan dengan Hong Kong di provinsi Guangdong selatan, Tiongkok, Kamis (15/8/2019). Ribuan tentara Tiongkok menggelar latihan perang sehingga meningkatkan kekhawatiran intervensi di Hong Kong. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Sabtu, 17 Agustus 2019 | 09:24 WIB

Shenzhen, Beritasatu.com- Tiongkok menyatakan tidak akan duduk dan menonton kerusuhan yang terjadi di Hong Kong, berusaha memperlihatkan indikasi “peringatan jelas” kepada kota itu.

Pada Kamis (15/8), ribuan personel militer Tiongkok terlihat melambaikan bendera merah dan melakukan parade di stadium olah raga kota Shenzhen, tepat di seberang perbatasan Hong Kong.

Puluhan personil lapis baja dan truk-truk pasokan juga terparkir di dekat stadium. Media Pemerintah Tiongkok melaporkan pekan ini unsur-unsur dari Polisi Bersenjata Tiongkok (PAP) yang berada di bawah komando Komisi Militer Pusat, berkumpul di Shenzhen.

Sementara itu, Duta Besar Tiongkok untuk London, Liu Xiaoming, menyatakan Beijing tidak akan sekadar “duduk dan menonton”, memperingatkan pemerintahnya mempunyai solusi dan kekuatan yang cukup untuk memadamkan kerusuhan dengan cepat.

Polisi bersenjata menggelar latihan dengan dibagi ke dalam dua kelompok. Satu kelompok memakai kaos hitam serupa dengan pakaian para demonstran Hong Kong, sedangkan kelompok lainnya tetap bersenjata dan mengambil perisai, serta berlatih menyerang kelompok pertama.

“Ini pertama kalinya saya melihat perkumpulan berskala besar,” kata seorang penerima tamu di pusat kebugaran di dalam kompleks di stadium, Yang Ying.

“Pernah ada latihan dulu, tapi biasanya melibatkan polisi lalu lintas. Teman-teman media sosial kami, semua mengatakan, 'ini karena Hong Kong',” tambah Yang.

Konfrontasi keras selama 10 pekan antara polisi dan demonstran di Hong Kong telah membuat kota itu terpuruk dalam krisis terburuk sejak penyerahan dari Inggris ke pemerintah Tiongkok pada 1997. Aksi protes di Hong Kong mewakili tantangan terbesar untuk Presiden Tiongkok Xi Jinping sejak berkuasa pada 2012.



Sumber: Suara Pembaruan