Turki dan Rusia Akan Produksi Rudal S-400

Turki dan Rusia Akan Produksi Rudal S-400
Paket kiriman sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia telah tiba di Turki, Sabtu (13/7/2019). Pemerintah Turki mengabaikan peringatan AS dengan melanjutkan penerimaan sistem pertahanan rudal S-400 Rusia di Ankara. ( Foto: AFP / Kementerian Pertahanan Turki )
Jeanny Aipassa / WIR Selasa, 16 Juli 2019 | 12:09 WIB

Ankara, Beritasatu.com- Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan Turki tak hanya membeli rudal S-400 dari Rusia, tapi berniat untuk memproduksi sistem pertahanan rudal tersebut bersama-sama dengan Rusia.

"S-400 adalah sistem pertahanan terkuat melawan mereka yang ingin menyerang negara kami. Sekarang tujuannya adalah produksi bersama dengan Rusia. Kami akan melakukan itu," kata Erdogan, di Ankara, Turki, Senin (15/7).

Menurut dia, produksi bersama tersebut merupakan lanjutan dari kerja sama Turki dan Rusia di bidang pertahanan, setelah Turki memutuskan untuk membeli sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia yang terkenal canggih.

Erdogan mengatakan, sistem pertahanan rudal S-400 yang telah dibeli Turki akan segera dipasang dan ditargetkan selesai pada April 2020. Pekan lalu, Rusia telah mengirimkan komponen pertama dari rudal S-400 ke Turki.

Kementerian Pertahanan Turki, mengatakan bahwa pesawat Rusia kesembilan yang membawa potongan S-400 mendarat di pangkalan militer Murted di Ankara, Senin. Pengirimaman komponen S-400 ditargetkan cepat selesai agar dapat dbawa ke situs khusus untuk dipasang.

“Kami telah ulai menerima S-400 kami. Insya Allah, mereka (komponen rudal S-400, Red) akan dipasang di situs khusus pada April 2020,” ujar Erdogan yang berbicara saat upacara peringatan tiga tahun kudeta berdarah di negara itu.

Tidak jelas kapan dan di mana sistem pertahanan rudal S-400 akan dipasang sepenuhnya, tetapi Turki akan menjadi anggota NATO pertama yang mengoperasikan sistem pertahanan rudal permukaan-ke-udara buatan Rusia.

Sistem pertahanan rudal S-400 dapat mencapai target sejauh 400 kilometer jauhnya. AS telah mengecam Turki atas pembelian rudal tersebut, karena dinilai dapat menargetkan pesawat tempur, termasuk F-35 buatan Amerika Serikat (AS).



Sumber: Suara Pembaruan