Kerugian Transaksi Bisnis Akibat Banjir Jakarta Diperkirakan Capai Rp 1 T
INDEX

BISNIS-27 545.471 (-7.6)   |   COMPOSITE 6413.89 (-106.77)   |   DBX 1221.71 (-6.51)   |   I-GRADE 188.988 (-3.35)   |   IDX30 542.994 (-9.18)   |   IDX80 145.925 (-3.17)   |   IDXBUMN20 438.706 (-13.3)   |   IDXESGL 150.111 (-3.04)   |   IDXG30 148.081 (-3.15)   |   IDXHIDIV20 477.43 (-7.88)   |   IDXQ30 153.853 (-2.35)   |   IDXSMC-COM 293.749 (-6.8)   |   IDXSMC-LIQ 373.577 (-15.72)   |   IDXV30 149.364 (-4.83)   |   INFOBANK15 1084.54 (-8.19)   |   Investor33 464.502 (-6.89)   |   ISSI 189.074 (-4.16)   |   JII 668.709 (-17.74)   |   JII70 233.837 (-6.47)   |   KOMPAS100 1296.34 (-25.94)   |   LQ45 1011.21 (-19.63)   |   MBX 1772.39 (-32.57)   |   MNC36 342.942 (-5.12)   |   PEFINDO25 336.865 (-11.6)   |   SMInfra18 332.042 (-9.57)   |   SRI-KEHATI 396.816 (-5.25)   |  

Kerugian Transaksi Bisnis Akibat Banjir Jakarta Diperkirakan Capai Rp 1 T

Minggu, 12 Januari 2020 | 16:36 WIB
Oleh : Lenny Tristia Tambun / JAS

Jakarta, Beritasatu.com – Banjir ekstrem yang melanda ibukota Jakarta dan sekitarnya pada 1 Januari 2020 dan berlangsung hampir satu pekan telah membuat berbagai aktivitas bisnis lumpuh total. Diperkirakan kerugian transaksi bisnis akibat banjir di Ibu Kota mencapai Rp 1 triliun.

Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan perputaran uang selama libur Tahun Baru yang diperkirakan melonjak tajam dan akan mampu menopang pertumbuhan ekonomi Jakarta tidak sesuai dengan yang diharapkan.

“Banjir yang tergolong di luar perkiraan ini sangat memukul pelaku usaha diberbagai sektor seperti ritel, restoran, pelaku UMKM, pengelola destinasi wisata, pengelola taksi, taksi online. Kerugian transaksi atau perputaran uang diperkirakan mencapai Rp 1 triliun,” kata Sarman Simanjorang kepada Beritasatu.com, Minggu (12/1/2020).

Jumlah tersebut didapatkan dari asumsi perhitungan bisnis yang tidak berjalan di berbagai sektor usaha. Di antaranya, di sektor ritel, diperkirakan ada 400 toko ritel yang terdampak langsung tidak bisa buka melayani pelanggan akibat banjir.

Jika satu toko memiliki pelanggan sekitar 100 orang dikalikan 400 toko, total jumlah pelanggan mencapai 400.000 orang. Dengan asumsi belanja rata-rata satu pelanggan mencapai Rp 250.000 per hari. Maka total kerugian akibat sektor retail tidak dapat membuka usahakanya karena banjir mencapai Rp 10 miliar per hari.

“Ini belum termasuk toko ritel yang ada di dalam mal dan pasar tradisional,” ujar Sarman Simanjorang.

Pusat perbelanjaan atau mal di Jakarta berjumlah sekitar 82 mal, dengan asumsi rata-rata jumlah pengunjung saat libur Tahun Baru mencapai 5.000 orang dan diperkirakan berbelanja makanan dan minuman minimal Rp 200.000. Maka transaksi bisnis pada saat libur tahun mencapai Rp 82 miliar.

“Jika pengunjung turun sekitar 50 persen, maka kerugian transasksi bisnis mencapai Rp 41 miliar,” terangnya.

"Data dari Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia DKI Jakarta terdapat 28 Pasar tradisional yang terkena imbas banjir dengan jumlah pedagang sebanyak 250 per pasar, sehingga total pedagang mencapai 7.000 pedagang. Jika rata rata penjualan sekitar 500.000 per pedagang maka kerugian transaksi mencapai Rp 3,5 miliar,” kata Sarman yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI).

“Dari sektor retail saja, kerugian transaksi bisnis karena terdampak banjir sudah mencapai Rp 5,45 miliar,” ungkap Sarman Simanjorang.

Tidak hanya sektor retail, lanjutnya, sektor pariwisata juga terimbas mengalami kerugian akibat banjir. Di antaranya Ancol, Kota Tua, Monas, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan Kebun Binatang Ragunan. Kelima tempat wisata ini merupakan destinasi wisata terfavorit tidak hanya bagi warga Jakarta, tetapi juga warga daerah lain dan turis mancanegara.

“Namun akibat banjjir, diperkirakan penurunan pengunjung di lima tempat wisata ini mencapai 50 hingga 70 persen,” papar Sarman Simanjorang.

Untuk Ancol, target pengunjung Ancol selama dua hari, 31 Desember 2019 dan 1 Januari setidaknya 230.000 orang. Total pengunjung selama dua hari mencapai 75.000 orang. Artinya ada selisih 155.000 orang dari target yang ditetapkan. Jika para pengunjung rata- rata mengeluarkan biaya tiket, parkir dan makan minum sebesar Rp 100.000 maka kerugian transaksi binsis mencapai Rp 15,5 miliar.

Di Kota Tua, diprediksi kerugian transaksi bisnis akibat penurunan jumlah pengunjung mencapai Rp 3,46 miliar. Kemudian Monas diperkirakan mengalami kerugian transaksi bisnis sekitar Rp 10,27 milliar. TMII sebesar Rp 3,15 miliar dan Taman Margasatwa Ragunan mencapai Rp 5,44 miliar.

“Di sektor pariwisata, kerugian transaksi bisnis akibat banjir dengan mengalami penurunan jumlah pengunjung mencapai Rp 32,38 miliar,” jelas Sarman Simanjoran.

Sementara itu, restoran yang ada di DKI Jakarta mencapai 3.957 mengalami penurunan omset penjualan akibat banjir rata-rata 50 persen. Jika setiap restoran memiliki transaksi minimal Rp 2 juta per hari, maka mereka mengalami kerugian akibat banjir mencapai Rp 7,91 miliar.

Di sektor transportasi, taksi konvensional dan transportasi online mengalami penurunan omzet mencapai 70 persen. Jumlah taksi online di Jabodetabek mencapai 36.000 unit. Maka jika omzet rata-rata Rp 100.000 per hari, maka kerugian transaksi akibat banjir mencapai Rp 3,6 miliar. Lalu, jumlah ojek online di Jabodetabek mencapai 1,25 juta unit. Jika omzet menurun menjadi rata-rata Rp 25.000 maka kerugian transaksi mencapai Rp 31,25 miliar.

Ini belum termasuk kerugian yang dialami langsung pelaku usaha seperti 1.500 unit taksi yang terendam. Jika dirata-ratakan harganya Rp 200 juta maka kerugian mencapai Rp 300 miliar. Sekitar 7.000 pedagang tradisional yang kehilangan barang dagangannya, jika dirata ratakan Rp 10 juta maka kerugian mencapai Rp 70 miliar. Serta berbagai sarana prasarana di beberapa pusat perbelanjaan yang masih sulit mendapatkan datanya.

Jika dijumlahkan secara keseluruhan kerugian transaksi dari sisi perputaran uang akibat banjir ekstrem 2020 bisa mencapai sebesar Rp 135.054.000.000 per hari. Jika dikalikan selama 5 hari musim liburan tenggang waktu 1-5 Januari 2020 mengalami banjir, maka taksiran kerugian mencapai minimal Rp 675,27 miliar.

Jika ditambah dengan kerugian langsung seperti taksi dan pedagang pasar sekitar Rp 370 miliar, maka perkiraan kerugian mencapai Rp 1.045.270.000.000.

“Kerugian tersebut di atas belum termasuk kerugian material yang langsung dialami oleh warga yang terkena banjir seperti mobil, motor, barang elektronik, sofa, surat-surat berharga dan perabotan rumah tangga yang angkanya juga bisa mencapai ratusan miliar rupiah. Juga kerusakan infrastruktur milik Pemprov DKI, seperti bangunan sekolah dan gedung perkantoran lainnya,” jelasnya.

Sedangkan sektor logistik umumnya tidak begitu terganggu karena stok untuk kebutuhan Natal dan Tahun Baru sudah dikirim lebih awal. Namun, yang Sarman khawatirkan adalah setelah aktivitas usaha berjalan normal, pengiriman barang akan berjalan normal, kemudian tiba-tiba terjadi banjir maka aktivitas logistik akan terganggu dan akan mengganggu pasokan.

“Sekali lagi kami sampaikan ini adalah asumsi atau perkiraan, tidak ada data yang pasti. Minimal kita punya gambaran atau bayangan dampak banjir ini terhadap kerugian transaksi/perputaran uang selama libur Tahun Baru 2020 yang seharusnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jakarta dan menjaga angka inflasi,” ujar Sarman Simanjorang.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS