Jika Terpilih, Joe Biden Janjikan Anggaran Buy America US$ 700 Miliar

Jika Terpilih, Joe Biden Janjikan Anggaran Buy America US$ 700 Miliar
Joe Biden (Foto: AFP / JIM WATSON)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Jumat, 10 Juli 2020 | 06:49 WIB

Washington, Beritasatu.com - Kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat Joe Biden menjanjikan alokasi anggaran sebesar US$ 700 miliar (Rp 10.000 triliun) untuk industri manufaktur dan teknologi AS.

Program Buy America akan mengalokasikan US$ 400 miliar selama empat tahun untuk belanja produk-produk dan jasa buatan AS, ditambah alokasi US$ 300 miliar untuk riset dan pengembangan teknologi AS.

Biden juga berjanji akan memperkuat daya tawar buruh dan mencabut program Partai Republik yang memberikan keringanan pajak untuk perusahaan AS yang memindahkan tenaga kerja ke luar negeri.

"Ini adalah mobilisasi investasi publik terbesar di bidang penyediaan barang dan jasa, infrastruktur, dan riset sejak Perang Dunia II," kata penasihat senior tim Biden, Jake Sullivan, kepada kantor berita AP.

Keberpihakan Biden kepada buruh dan sektor manufaktur dirancang untuk menggaet kembali suara kelas pekerja yang empat tahun lalu mendukung Presiden Donald Trump.

Biden juga akan menyiapkan rencana pembangunan energi untuk memerangi krisis perubahan iklim, dan kebijakan caring economy, di mana biaya perawatan anak dan lansia akan dibuat lebih terjangkau. Kebijakan Biden juga akan diarahkan untuk pemulihan ekonomi secepatnya akibat resesi dari pandemi Covid-19. Terkait isu rasial, Biden akan memperbaiki kesenjangan sistemik yang terjadi karena diskriminasi warna kulit.

"Kita harus membangun kembali, bukan hanya ke masa sebelumnya (Covid-19), tetapi ke masa yang lebih baik dari sebelumnya," kaya Biden kepada Persaudaraan Internasional Pekerja Elektrik, Rabu (8/7/2020).

Biden juga mengkritik kebijakan tarif yang mengisolasi AS, kebijakan pajak yang memperkaya perusahaan multinasional, dan tenaga kerja asing yang meningkat di masa kepemimpinan Trump.

Kubu Republikan menyerang Biden dengan menyebut mantan Wakil Presiden AS di masa Barack Obama itu sebagai alat politik sayap kiri, dan turut berpartisipasi dalam kebijakan perdagangan yang merugikan buruh AS. Biden juga dianggap lemah terhadap Tiongkok.



Sumber: CNBC.com